Puisi: Le Nausee (Karya Acep Zamzam Noor)

Puisi "Le Nausee" karya Acep Zamzam Noor adalah kritik tajam terhadap manusia yang gagal belajar dari sejarah. Kemarahan yang terus diwariskan ...

Le Nausee

Buat Wing Kardjo

Jejak bulan telah hapus
Bumi tinggal rawa peradaban
Kata-kata menjadi belantara nilai
Tak terbaca. Bencana demi bencana
Bahkan pertikaian antar sesama
Telah membunuh bahasa. Sungai-sungai
Yang mengalirkan lumpur dan lahar
Sumbernya berasal dari kemarahan

Tahun-tahun lindap, abad-abad gelap
Mengekalkan kesumat. Langit merendah
Berkaca pada lembaran sejarah
Yang penuh darah. Harimau dan ular
Mengaum dan menjalar
Tak tertahan. Naik-turun gunung
Keluar-masuk hutan
Merambah dunia tanpa peta

1983

Analisis Puisi:

Puisi "Le Nausee" memperlihatkan kegelisahan mendalam terhadap kondisi peradaban manusia yang kian kehilangan arah dan makna. Judul berbahasa Prancis—yang berarti “mual” atau “muak”—mengisyaratkan sikap batin penyair terhadap realitas sosial dan sejarah yang penuh kekerasan, pertikaian, serta kehancuran nilai. Puisi ini tidak menuturkan kisah personal, melainkan potret dunia yang sakit secara kolektif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah krisis peradaban dan kerusakan nilai kemanusiaan. Puisi ini juga mengangkat tema kekerasan sejarah, kemarahan kolektif, dan runtuhnya bahasa sebagai medium pemaknaan hidup.

Puisi ini bercerita tentang dunia yang kehilangan jejak cahaya dan arah. “Jejak bulan telah hapus” menandai hilangnya penuntun, sementara bumi berubah menjadi “rawa peradaban”. Kata-kata tidak lagi mampu menjelaskan nilai karena telah “dibunuh” oleh bencana dan pertikaian. Penyair seakan mengajak pembaca menelusuri sejarah penuh darah, amarah, dan kegelapan yang terus berulang tanpa peta masa depan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap manusia yang gagal belajar dari sejarah. Kemarahan yang terus diwariskan melahirkan kekerasan baru, membuat bahasa—sebagai alat dialog dan kemanusiaan—kehilangan fungsinya. Dunia digambarkan berjalan tanpa arah moral, terjebak dalam lingkaran kesumat yang menahun.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana muram, suram, dan penuh kecemasan. Nuansa kehancuran, kegelapan sejarah, serta amarah yang mengalir seperti lahar menimbulkan rasa sesak dan muak, selaras dengan judul puisi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah peringatan agar manusia kembali merefleksikan sejarah dan mengendalikan kemarahan kolektif. Tanpa kesadaran etis dan kemanusiaan, peradaban akan terus berjalan dalam kegelapan, kehilangan bahasa, nilai, dan arah.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini meliputi:
  • Metafora, seperti “rawa peradaban” dan “kata-kata menjadi belantara nilai”.
  • Personifikasi, pada kemarahan yang menjadi sumber lahar dan sungai lumpur.
Puisi "Le Nausee" karya Acep Zamzam Noor merupakan jeritan kesadaran terhadap dunia yang muak oleh kekerasan dan kehilangan nilai. Dengan bahasa yang padat, gelap, dan simbolik, puisi ini mengajak pembaca merenungkan kembali arah peradaban manusia—apakah akan terus “merambah dunia tanpa peta”, atau berusaha menemukan kembali cahaya yang telah lama hilang.

Acep Zamzam Noor
Puisi: Le Nausee
Karya: Acep Zamzam Noor

Biodata Acep Zamzam Noor:
  • Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
  • Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
© Sepenuhnya. All rights reserved.