Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Le Sacre Coeur De Montmartre (Karya Juniarso Ridwan)

Puisi “Le Sacré Coeur de Montmartre” karya Juniarso Ridwan bercerita tentang seseorang yang diajak meninggalkan romantisme ingatan masa kecil, lalu ..
Le Sacre Coeur De Montmartre

jangan pedulikan ingatan masa kanak-kanakmu. sebuah
bentuk angan-angan, api unggun dan tenda yang lusuh:
hanya permainan ilusi mengantarkan diri, menjadi
penjaga bagi kehangatan taman-taman kota. Tangan-tangan
jahil, kadang lupa juga akan arti kasih-sayang.

dibentuknya batu-batu putih itu, menjadi monumen,
lalu dari utara angin mengabarkan keindahan, dan bunga
rumput menjadi inspirasi, datangnya kerinduan. Siapakah
bersembunyi dalam dinding-dinding dingin ini,
harumnya mengendap dalam jantung. Kini
sentuhan lembut itu, telah melahirkan ribuan
cahaya bintang baru di langit jiwaku.

nikmatilah sajian tarian pinggang ramping di depanmu itu,
daun-daun cemara bersilangan, cahaya matahari dan
sebuah kafe yang ramai. Jangan pula kau tolak pemberian
gaun itu, barangkali besok atau lusa ciuman bibir tipis
akan membawamu mengembara ke padang-padang rumput,
bukankah kau selalu dahaga, untuk mandi dalam kucuran
anggur, bermain busa dalam
benteng kaca. Nikmatilah, karena
waktu hanya penuh permainan harapan,
seperti salju luruh
saat senja tiba.

kini kau tambah dewasa, semakin tahu arah hidupmu,
sambil menerawang dari jalan ke jalan. Memandang
matahari,
tak jera untuk selalu bertanya-tanya tentang surga, seperti
anak kecil bersayap itu, terus meniup terompet.

1999

Sumber: Semua Telah Berubah, Tuan (Ultimus, 2006)

Analisis Puisi:

Puisi “Le Sacré Coeur de Montmartre” karya Juniarso Ridwan menghadirkan perjumpaan antara ruang, ingatan, dan pencarian makna hidup. Dengan latar simbolik Montmartre—sebuah kawasan yang identik dengan seni, spiritualitas, dan sejarah—puisi ini bergerak dari kenangan masa kanak-kanak, godaan dunia dewasa, hingga perenungan eksistensial tentang arah hidup dan surga. Bahasa yang digunakan cenderung naratif dan imajinatif, seolah membawa pembaca berjalan menyusuri lorong-lorong kota sekaligus lorong batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan batin manusia dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan dalam pusaran kenangan, hasrat, dan pencarian spiritual. Puisi menempatkan kehidupan sebagai ruang perlintasan antara ilusi, kenikmatan duniawi, dan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang diajak meninggalkan romantisme ingatan masa kecil, lalu memasuki ruang kota yang penuh simbol: monumen batu putih, kafe, tarian, anggur, dan cahaya. Semua itu menjadi pengalaman estetis dan sensual yang menggoda. Namun di balik hiruk-pikuk tersebut, subjek lirik terus bergerak, bertanya, dan mencari, hingga akhirnya sampai pada kesadaran kedewasaan dan pencarian tentang surga.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kehidupan modern sering kali menawarkan ilusi keindahan dan kenikmatan yang memikat. Namun, di balik itu, manusia tetap menyimpan kerinduan yang lebih dalam—kerinduan akan makna, kehangatan sejati, dan jawaban spiritual. Montmartre, dengan monumennya yang dingin dan indah, menjadi simbol peradaban yang megah tetapi tetap menyisakan ruang hampa batin.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa kontemplatif dan melankolis, bercampur dengan nuansa euforia sesaat dari kenikmatan duniawi. Peralihan suasana ini mencerminkan dinamika batin manusia yang terombang-ambing antara menikmati hidup dan mempertanyakan tujuannya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan amanat bahwa menikmati keindahan hidup adalah hal yang wajar, namun manusia tidak seharusnya berhenti pada kenikmatan semu. Kedewasaan sejati lahir ketika seseorang tetap berani bertanya, merenung, dan mencari arah hidup, bahkan ketika telah melewati banyak pengalaman.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan imaji gerak. Gambaran batu-batu putih monumen, taman kota, daun cemara, kafe ramai, tarian pinggang ramping, anggur, salju yang luruh saat senja, hingga anak kecil bersayap meniup terompet menghadirkan lanskap yang hidup dan berlapis. Imaji-imaji ini membangun suasana kota sekaligus ruang batin yang penuh simbol.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan simbolisme yang dominan. Montmartre dan Sacré Coeur berfungsi sebagai simbol spiritualitas dan sejarah. Selain itu, terdapat personifikasi seperti angin yang “mengabarkan keindahan” dan waktu yang “penuh permainan harapan”. Gaya ajakan berulang “nikmatilah” juga berfungsi sebagai repetisi yang menegaskan godaan duniawi.

Puisi “Le Sacré Coeur de Montmartre” adalah puisi perjalanan batin yang kaya imaji dan refleksi. Juniarso Ridwan meramu lanskap kota, kenikmatan inderawi, dan pencarian spiritual menjadi satu rangkaian pengalaman puitik. Puisi ini mengingatkan bahwa di tengah keindahan dan hiruk-pikuk dunia, manusia tetaplah peziarah yang terus bertanya tentang arah hidup dan kemungkinan surga.

Puisi: Le Sacre Coeur De Montmartre
Puisi: Le Sacre Coeur De Montmartre
Karya: Juniarso Ridwan

Biodata Juniarso Ridwan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
© Sepenuhnya. All rights reserved.