Analisis Puisi:
Puisi "Lukamata" karya Hasan Aspahani merupakan perenungan mendalam tentang usia, tubuh, dan penerimaan atas kefanaan manusia. Dengan metafora tebu yang berulang, puisi ini menghadirkan pengalaman menjadi tua bukan sebagai peristiwa biologis semata, melainkan proses batin yang penuh luka, kenangan, dan kesadaran spiritual.
Tema
Tema utama puisi Lukamata adalah ketuaan dan kefanaan hidup manusia. Proses menua digambarkan sebagai perjalanan yang pelan, menyakitkan, namun pada akhirnya membawa pemahaman baru tentang makna hidup, luka, dan kemanisan yang tersisa sebelum kematian.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyadari bahwa dirinya akan menjadi tua, layaknya batang tebu yang menunduk sebelum ditebang. Ia mengenang masa lalu, luka-luka usia, pekerjaan hidup yang dicicil seperti rekening tanpa bunga, hingga kesadaran bahwa suatu hari ia harus menggali “lubang panjang membujur, yang bukan sumur”—sebuah metafora kematian. Cerita bergerak dari kesadaran usia, kenangan akan kerja dan manis hidup, hingga penerimaan tubuh yang perlahan rapuh.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hidup manusia adalah akumulasi luka dan kerja sunyi yang pada akhirnya akan ditutup oleh kematian. Namun, luka itu tidak sepenuhnya pahit; dari luka mata, dari tubuh yang menua, masih mengalir “manis”—yakni pengalaman, kebijaksanaan, dan penerimaan. Puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap cara manusia menghitung hidup secara ekonomis, sebagaimana “rekening di bank syariah, umur akan selesai kucicil, setoran tak berbunga,” yang menegaskan bahwa hidup tak memberi keuntungan materi, hanya pelunasan waktu.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung kontemplatif dan muram, namun sesekali diselingi nuansa lirih dan hangat. Muram hadir melalui citra luka, nanah, dan kematian; sementara kehangatan muncul lewat gambaran madu, lebah, dan kemanisan yang masih bisa dikecap di usia senja.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menerima proses menua dan luka hidup dengan kesadaran dan ketabahan. Manusia diingatkan bahwa hidup tidak selalu menghasilkan “bunga” atau keuntungan, tetapi tetap layak dijalani hingga akhir dengan sikap tunduk, jujur pada luka, dan berdamai dengan diri sendiri.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual, imaji peraba, dan imaji penciuman. Imaji visual tampak pada gambaran tebu yang terunduk, sumur yang dilingkari rumpun, serta lubang panjang membujur. Imaji peraba dan penciuman muncul melalui frasa “sesisa nanah dan bau segenggam tanah.” Imaji rasa hadir kuat dalam kata “manis,” “madu,” yang berulang dan kontras dengan luka dan usia.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas, terutama metafora dan personifikasi. Metafora tebu digunakan untuk menggambarkan tubuh manusia yang menua. “Lidahku akar tebu” menjadi metafora kemampuan batin untuk masih mengecap makna hidup. Selain itu, pengulangan frasa “Manis. Madu. Menangis. Merdu.” merupakan bentuk repetisi yang menegaskan paradoks antara manis dan tangis dalam hidup.
Puisi "Lukamata" adalah puisi yang kuat secara simbolik dan reflektif. Hasan Aspahani tidak sekadar berbicara tentang menjadi tua, tetapi tentang bagaimana luka, kenangan, dan kesadaran akan kematian justru menjadi sumber pemahaman terdalam tentang hidup itu sendiri.