Lukisan (1)
Cintaku merah
di atas merah
Dukaku biru
di dalam biru
Larutan putih
dalam warna-warni
Garis-garis bersilangan
memadu sepi
Cintaku terbenam
di tengah kebalauan
Dukaku hinggap
di atas kenangan demi kenangan
Tiga batang garis tegak lurus
di tengah rumput-rumput laut,
garis demi garis mengejang kurus
bagai sang maut yang hidup
Cintaku duka
dukaku dalam cinta
18 Januari 1969
Sumber: Horison (September, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi "Lukisan" karya Budiman S. Hartoyo merupakan puisi liris yang memadukan bahasa visual seni rupa dengan pengalaman batin manusia. Puisi ini tidak bercerita secara naratif, melainkan menghadirkan fragmen emosi melalui warna, garis, dan komposisi—seolah pembaca sedang menatap sebuah lukisan abstrak yang sarat perasaan cinta dan duka.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pertalian antara cinta dan duka dalam pengalaman batin manusia. Puisi ini menegaskan bahwa cinta dan duka bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling bertaut, menyusupi, dan melebur satu sama lain.
Puisi ini bercerita tentang perasaan cinta dan duka yang digambarkan layaknya elemen dalam sebuah lukisan. Warna, garis, dan bentuk menjadi medium untuk mengekspresikan emosi yang kompleks. Penyair tidak mengisahkan peristiwa konkret, melainkan menghadirkan keadaan batin yang terlukis dalam warna merah, biru, putih, serta garis-garis yang bersilangan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah ketidakmungkinan memisahkan cinta dari duka dalam kehidupan manusia. Warna merah dan biru yang saling menindih menunjukkan bahwa cinta selalu mengandung potensi luka, dan duka sering kali lahir dari cinta itu sendiri. “Kebalauan” dan “kenangan demi kenangan” menyiratkan kekacauan batin akibat ingatan dan perasaan yang tak kunjung selesai.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa pengalaman emosional manusia kerap bersifat abstrak, tidak rapi, dan sulit dijelaskan secara logis—seperti lukisan yang lebih dirasakan daripada dimengerti.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, muram, dan kontemplatif. Ada kesan sunyi yang pekat, terutama melalui larik “memadu sepi” dan gambaran garis-garis yang kurus dan menegang, menciptakan nuansa batin yang tertekan dan reflektif.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah penerimaan terhadap kompleksitas perasaan manusia. Puisi ini mengingatkan bahwa cinta tidak selalu indah dan terang, sebagaimana duka tidak selalu sepenuhnya gelap. Keduanya hadir berdampingan dan membentuk pengalaman hidup yang utuh.
Puisi "Lukisan" karya Budiman S. Hartoyo adalah puisi yang bekerja melalui kesan visual dan emosional. Dengan pendekatan seperti seni lukis abstrak, puisi ini mengajak pembaca merasakan perjumpaan antara cinta dan duka sebagai satu kesatuan pengalaman batin yang tidak terpisahkan.
