Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Malam Kesatu (Karya Iyut Fitra)

Puisi "Malam Kesatu" karya Iyut Fitra bercerita tentang dua sosok yang diibaratkan sebagai “dua angsa putih”, sedang berada dalam perjalanan yang ...
Malam Kesatu

seperti bulan yang lalu melintas tak terdekap
kutulis lagi cerita yang sama: kita dua angsa putih
gamang berlayar menabuhkan kelahiran menuju kehidupan
atau mungkin perjalanan mengunjungi kematian

lagu sakral itu kembali kita rangkai, di tengah musim
yang terus gugur orang-orang bermain bayang-bayang
dan kita mendekapnya, entah itu suara adzan
atau upacara yang dipanggilkan lewat lonceng gereja
tapi seolahnya kita bagai adam dan hawa yang tidak paham
dengan tarian tuhan, terpukau angin yang meniup sepanjang
padang, dan buahnya tak pernah tuntas kita petik
“ceritakanlah padaku tentang sorga, atau dongengkan saat
anggun memberikan malam kepada gondan!” bisikmu ragu
dan kita terasa makin dekat atau berjauh, asing
menjalin jemari dengan satu sinar yang tak dimengerti
kelahiran ini! kehidupan dan perjalanan ini!
o, kematian yang menumbuhkan ruang dansa di kubur-kubur
kitakah itu yang mengusung keranda, bernyanyi-nyanyi
lalu berdoa bersama, tentang rahasia yang bertaburan

: kita dua angsa putih kehilangan warna
lelap dan berdekap untuk kelahiran atau menuju kematian
lama kita tunggu tuhan di sana, di sana

Padang, Februari 1998

Sumber: Horison (September, 2000)

Analisis Puisi:

Puisi Malam Kesatu karya Iyut Fitra menghadirkan perenungan yang kompleks tentang awal dan akhir, kelahiran dan kematian, serta kebingungan manusia dalam membaca tanda-tanda ilahi. Dengan bahasa yang padat, metaforis, dan sarat simbol religius serta eksistensial, puisi ini menempatkan dua insan dalam situasi liminal—sebuah ambang antara kehidupan dan ketiadaan. “Malam kesatu” menjadi metafora bagi permulaan yang rapuh sekaligus misterius.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ambiguitas antara kelahiran dan kematian dalam perjalanan hidup manusia. Puisi ini juga memuat tema pencarian makna spiritual, cinta yang gamang, serta keterasingan manusia di hadapan kehendak Tuhan dan rahasia kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang dua sosok yang diibaratkan sebagai “dua angsa putih”, sedang berada dalam perjalanan yang tidak pasti: apakah menuju kelahiran, kehidupan, atau justru kematian. Mereka mengulang cerita yang sama, merangkai “lagu sakral” di tengah musim yang terus gugur, menyaksikan manusia bermain bayang-bayang, ritual keagamaan, dan simbol-simbol iman yang datang dari berbagai arah.

Dalam perjalanan itu, kedua tokoh merasa dekat sekaligus asing, terikat oleh sinar yang tak sepenuhnya dipahami. Mereka menunggu Tuhan “di sana”, sembari menyadari bahwa kelahiran, kehidupan, dan kematian adalah satu rangkaian misteri yang tak terpisahkan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kebingungan eksistensial manusia ketika berhadapan dengan makna hidup, cinta, dan kematian. Rujukan pada Adam dan Hawa menunjukkan kondisi manusia yang polos namun mudah tergoda, tidak sepenuhnya memahami “tarian Tuhan” atau rencana ilahi.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa ritual, doa, dan simbol agama sering kali dihadapi manusia dengan perasaan ragu dan asing. Kelahiran dan kematian tidak hadir sebagai kepastian makna, melainkan sebagai ruang tanya yang terus berulang dan menuntut perenungan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa mistis, lirih, dan kontemplatif. Ada nuansa sakral yang bercampur dengan kegamangan dan kegelisahan batin. Perasaan dekat dan jauh, lelap dan terjaga, hidup dan mati, semuanya hadir dalam suasana yang samar dan berlapis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menerima misteri kehidupan dengan kesadaran dan kerendahan hati. Puisi ini mengingatkan bahwa manusia tidak selalu mampu memahami kehendak Tuhan secara utuh, dan kebingungan merupakan bagian dari perjalanan iman dan cinta.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa kelahiran dan kematian bukanlah dua hal yang sepenuhnya terpisah, melainkan saling terkait dalam satu siklus kehidupan yang sakral.

Puisi "Malam Kesatu" karya Iyut Fitra merupakan sajak reflektif yang menggugah kesadaran eksistensial dan spiritual pembaca. Dengan bahasa yang simbolik dan berlapis, puisi ini mengajak manusia untuk menatap awal dan akhir dengan sikap rendah hati, menyadari bahwa di antara kelahiran dan kematian, manusia hanya dapat menunggu, meraba, dan merangkai makna dalam keterbatasannya.

Puisi: Malam Kesatu
Puisi: Malam Kesatu
Karya: Iyut Fitra

Biodata Iyut Fitra:
  • Iyut Fitra (nama asli Zulfitra) lahir di Nagari Koto Nan Ompek, Kota Payakumbuh, Sumatra Barat, pada tanggal 16 Februari 1968.
© Sepenuhnya. All rights reserved.