Analisis Puisi:
Puisi "Malam-Malam Mengaji" karya Isbedy Stiawan ZS hadir sebagai sajak pendek yang padat makna. Dengan bahasa simbolik dan religius, puisi ini menggambarkan perjalanan batin manusia dalam mencari terang di tengah gelapnya kehidupan. Kata-kata yang digunakan sederhana, namun menyimpan lapisan perenungan yang dalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian spiritual dan perjalanan hidup manusia dalam meraba makna harapan. Mengaji di malam hari menjadi simbol usaha mendekatkan diri pada cahaya, meskipun jalan yang dilalui penuh kelelahan dan ketidakpastian.
Puisi ini bercerita tentang seorang pejalan yang mengembara di “padang kelam”, membawa lentera sebagai penerang jalan setapak. Perjalanan itu digambarkan melelahkan, kaki basah oleh keringat, dan harapan yang sempat datang justru tak kembali lagi. Gambaran ini menyiratkan perjalanan hidup sekaligus perjalanan batin.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kehidupan adalah pengembaraan panjang yang sering kali berlangsung dalam kegelapan. Lentera dapat dimaknai sebagai iman, doa, atau ilmu—sesuatu yang memberi arah ketika manusia berada di persimpangan. Sementara harapan yang “tak kembali-kembali lagi” mencerminkan kekecewaan atau ujian batin yang kerap menyertai proses pencarian spiritual.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa hening, muram, dan reflektif. Nuansa malam, padang kelam, dan jalan setapak menciptakan kesan sepi dan penuh perenungan, seolah pembaca diajak menyelami kesunyian batin seorang pencari makna.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyiratkan amanat agar manusia tetap berjalan meskipun harapan terasa jauh atau bahkan hilang. Dalam kelelahan dan gelapnya perjalanan hidup, iman dan ketekunan—yang dilambangkan oleh lentera—menjadi pegangan agar tidak tersesat sepenuhnya.
Imaji
Puisi ini kuat dalam imaji visual dan kinestetik, seperti “padang kelam”, “lentera di tangan”, “jalan setapak”, dan “kaki-kaki basah oleh keringat”. Imaji tersebut membuat pembaca merasakan langsung suasana perjalanan yang sunyi, gelap, dan melelahkan.
Majas
Beberapa majas yang tampak antara lain:
- Metafora, pada “padang kelam” sebagai lambang kehidupan yang penuh ketidakpastian, serta “lentera” sebagai simbol iman atau pengetahuan.
- Personifikasi, pada frasa “harap pun sampai / dan tak kembali-kembali lagi”, yang memberi sifat seolah-olah harapan dapat datang dan pergi seperti makhluk hidup.
Puisi "Malam-Malam Mengaji" merupakan puisi kontemplatif yang menggambarkan pergulatan batin manusia dalam mencari cahaya di tengah gelapnya hidup. Isbedy Stiawan ZS meramu kesederhanaan bahasa dengan kedalaman makna, menjadikan puisi ini sebagai renungan tentang iman, harapan, dan ketabahan dalam menjalani pengembaraan kehidupan.
