Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Malioboro 1999 (Karya Rhey Fandra Yoga Simbolon)

Puisi "Malioboro 1999" karya Rhey Fandra Yoga Simbolon bercerita tentang seseorang yang duduk di kursi Malioboro sejak pagi hingga malam, menunggu ...

Malioboro 1999

Pagi ini, aku duduk di kursi Malioboro sambil menulis
Menikmati terbitnya sang surya dari timur dengan cahaya kirana
Dengan mata merah menatap andong dengan corak kereta keris
Juga harapan besar yang mengimpit hati dan atma.

31 Desember 1999, hari ini, waktu di saat aku berharap ia kembali kesini
Kembali dari alam sana menuju hangat Malioboro dan kisahnya
Berkelana dan mengitari sepanjang sudut-sudut jalanan ini
Dengan angin burit-buritan menghembuskan rambut-rambut jelita.

Hingga detik matahari mencapai kulminasi, aku masih berharap 
Ingin diriku bersamamu, berjalan dan makan berlesehan kaki lima di sini
Dengan gudeg manis dan sedikit pedas yang kau sebut anyep
Dan menikmati kesibukan jalan dengan angkutan dan mobil pribadi.

Gelap mulai menguasai langit, tepat di jam delapan malam
Aku masih tetap berharap, engkau kembali dari sana dan berada di sini
Melihat seniman berekspresi dari karya-karya musik, lukis, dan juga pantomim
Berharap bisa bersamamu di malam tahun baru ini.

1 Januari 2000, tahun-tahun ketakutan itu telah pergi dan menghilang dari sisiku
Telah genap tahun-tahun lama pergi meninggalkan mereka yang bertahan dengan cinta
Kini, dia juga telah pergi dan lepas dari jiwa dan hatiku
Aku sekarang sudah terbiasa atas segala kepergian mereka, yang aku cinta.

Analisis Puisi:

Puisi "Malioboro 1999" karya Rhey Fandra Yoga Simbolon merupakan puisi naratif-reflektif yang merekam kenangan personal pada satu ruang dan waktu tertentu, yakni Malioboro di penghujung tahun 1999. Dengan gaya tutur yang lugas dan kronologis, puisi ini menempatkan Malioboro bukan sekadar latar tempat, melainkan ruang ingatan, harapan, dan perpisahan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan, harapan, dan penerimaan atas kehilangan. Malioboro menjadi simbol ruang yang menyimpan harapan akan pertemuan kembali, sekaligus saksi atas berlalunya cinta dan waktu.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang duduk di kursi Malioboro sejak pagi hingga malam, menunggu seseorang yang diharapkan kembali “dari alam sana”. Penantian itu berlangsung sepanjang hari terakhir tahun 1999, diiringi aktivitas khas Malioboro: andong, angin sore, gudeg kaki lima, seniman jalanan, hingga suasana malam tahun baru. Pada akhirnya, memasuki 1 Januari 2000, tokoh "aku" menyadari bahwa kepergian itu bersifat final dan harus diterima.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah refleksi tentang bagaimana manusia menghadapi perubahan zaman dan kehilangan orang-orang tercinta. Pergantian milenium menjadi simbol peralihan batin: dari harapan untuk kembali bersama, menuju kesadaran bahwa hidup berjalan dengan perpisahan yang tak selalu bisa dicegah.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa nostalgis dan melankolis, terutama pada bagian penantian dari pagi hingga malam. Menjelang akhir puisi, suasana bergeser menjadi lebih tenang dan pasrah, seiring penerimaan tokoh "aku" terhadap kenyataan kehilangan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk belajar menerima kepergian sebagai bagian dari hidup. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kenangan dan cinta tetap hidup dalam ingatan, meski orang-orang yang dicintai telah pergi.

Puisi "Malioboro 1999" adalah puisi yang bersifat dokumentatif sekaligus emosional. Rhey Fandra Yoga Simbolon berhasil menjadikan satu hari di Malioboro sebagai cermin perjalanan batin: dari harapan, penantian, hingga penerimaan atas kepergian yang tak terelakkan.

Rhey Fandra Yoga Simbolon
Puisi: Malioboro 1999
Karya: Rhey Fandra Yoga Simbolon

Biodata Rhey Fandra Yoga Simbolon:
  • Rhey Fandra Yoga Simbolon saat ini aktif sebagai pelajar SMA.
© Sepenuhnya. All rights reserved.