Puisi: Manusia Pencemburu (Karya Pena Senja)

Puisi "Manusia Pencemburu" karya Pena Senja bercerita tentang pengakuan seseorang yang menyadari dan sekaligus menegaskan sifat cemburunya kepada ...

Manusia Pencemburu

Kau tahu, Tuan?

Aku ini amat pencemburu, bahkan pada gelas yang menempel di bibirmu. Jadi harap pikirkan ulang, hendak tetap maju atau berputar haluan?

Pojok Kamar, 24 Oktober 2025

Analisis Puisi:

Puisi "Manusia Pencemburu" karya Pena Senja merupakan puisi yang menyimpan ketegangan emosional yang kuat. Penyair menghadirkan potret rasa cemburu yang ekstrem, personal, dan nyaris obsesif. Kesederhanaan bentuk justru menjadi kekuatan utama puisi ini dalam menyampaikan konflik batin tokohnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kecemburuan yang berlebihan dalam relasi emosional. Cemburu tidak lagi sekadar perasaan wajar, melainkan telah menjelma menjadi sikap posesif yang menyentuh batas kewajaran.

Puisi ini bercerita tentang pengakuan seseorang yang menyadari dan sekaligus menegaskan sifat cemburunya kepada sosok yang disapa sebagai “Tuan”. Penyair bahkan merasa cemburu terhadap benda mati—sebuah gelas—yang menyentuh bibir orang yang ia cemburui. Di akhir larik, muncul semacam peringatan atau ultimatum agar sang “Tuan” mempertimbangkan kembali langkahnya: melanjutkan hubungan atau memilih pergi.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa cinta yang dibalut kecemburuan berlebih dapat berubah menjadi bentuk penguasaan. Cemburu pada gelas menjadi simbol kecemasan kehilangan, ketakutan tersisih, sekaligus kebutuhan untuk merasa eksklusif. Pertanyaan di akhir puisi menyiratkan kesadaran bahwa sifat tersebut bisa menjadi beban bagi orang lain.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa intim, tegang, dan sedikit mengancam secara halus. Nada pengakuan bercampur dengan nada peringatan, menciptakan atmosfer psikologis yang sempit dan penuh tekanan batin.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kecemburuan yang tak terkendali dapat melukai hubungan, bahkan sejak awal. Kejujuran tentang perasaan penting, tetapi kesadaran akan dampaknya terhadap orang lain jauh lebih penting agar cinta tidak berubah menjadi pengekangan.

Puisi "Manusia Pencemburu" adalah puisi singkat yang berhasil menangkap kompleksitas emosi manusia. Dengan bahasa yang sederhana dan simbol yang dekat dengan keseharian, Pena Senja menghadirkan refleksi tentang batas tipis antara cinta, kecemburuan, dan posesivitas yang kerap luput disadari dalam hubungan antarmanusia.

Pena Senja
Puisi: Manusia Pencemburu
Karya: Pena Senja

Biodata Pena Senja:

Pena Senja lahir pada tanggal 20 Februari 2004 di Tangerang. Sejak duduk di kelas 4 SD, tepatnya di SDN Sukamanah 1, ia sudah gemar mengumpulkan komik dengan berbagai genre, di antaranya ada cerita rakyat, horor, dan jenaka. Ia memiliki hobi membaca, menulis, dan menonton film. Gadis dengan zodiak pisces ini sangat suka dengan warna biru, katanya biru itu bisa menenangkan bisa juga menenggelamkan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.