Masih Untukmu
Aku masih harus bersajak
Tentang rakyat kecil di desa-desa
Yang tak peduli siapa presidennya
Yang mendamba cukup makan
Dan sandang sehari-hari
Aku masih harus bersajak
Dalam guyur hujan salah musim
Yang menghancurkan panen tembakau,
Dan membanjiri kampung kumuh
Sepanjang bantaran sungai
Aku masih harus bersajak
Tentang teman-teman yang mati
Tentang kamu yang tak mau kalah
Terus menyanyi dan tersenyum
Dalam getir rutin kehidupan.
Bintaro Permai, 1998
Sumber: Masih bersama Langit (2000)
Analisis Puisi:
Puisi “Masih Untukmu” karya Eka Budianta menegaskan posisi penyair sebagai saksi sekaligus penyambung suara kehidupan sosial. Dengan bahasa yang lugas dan berulang, puisi ini menunjukkan komitmen moral penyair untuk terus bersajak tentang realitas yang kerap diabaikan: rakyat kecil, penderitaan sehari-hari, serta ketabahan manusia dalam menghadapi kerasnya hidup.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kepedulian sosial dan tanggung jawab penyair terhadap realitas kehidupan rakyat kecil. Puisi ini juga mengangkat tema keteguhan, empati, dan keberpihakan pada mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Puisi ini bercerita tentang keharusan seseorang untuk terus menulis puisi mengenai berbagai persoalan hidup: rakyat desa yang hanya mendamba kebutuhan dasar, bencana akibat musim yang tak menentu, kampung kumuh yang terendam banjir, serta teman-teman yang mati dan sosok “kamu” yang tetap bertahan dengan senyum meski hidup getir.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap ketimpangan sosial dan ketidakpedulian sistem terhadap penderitaan rakyat kecil. Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa sastra bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan alat kesaksian dan perlawanan sunyi terhadap ketidakadilan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung prihatin, reflektif, dan getir, namun tidak sepenuhnya putus asa. Di balik kesedihan dan penderitaan, terdapat keteguhan dan harapan yang bertahan melalui kata-kata dan sikap hidup.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan agar manusia, khususnya penyair dan intelektual, tidak berpaling dari kenyataan sosial. Puisi menegaskan bahwa keberpihakan pada kemanusiaan dan keberanian untuk terus bersuara adalah bentuk tanggung jawab moral yang tidak boleh ditinggalkan.
Puisi “Masih Untukmu” karya Eka Budianta adalah pernyataan sikap yang tegas tentang fungsi puisi sebagai suara kemanusiaan. Dengan bahasa yang sederhana namun bermakna dalam, puisi ini menegaskan bahwa selama penderitaan masih ada, penyair masih harus bersajak—untuk mereka yang kerap tak terdengar suaranya.
Karya: Eka Budianta
Biodata Eka Budianta:
- Christophorus Apolinaris Eka Budianta Martoredjo.
- Eka Budianta lahir pada tanggal 1 Februari 1956 di Ngimbang, Jawa Timur.
