Mata Laut
kuingin gelombang pasang malam ini
dapat berubah menjadi bintang-bintang
menerangi ikan-ikan yang bermain di arus
atau geliat nafasmu yang tak putus-putus
kuingin gelombang pasang malam ini
dapat berubah menjadi tangis
meneteskan air mata, mengalirkan kenangan
dari rahim kegelisahan yang tak sempurna
kuingin gelombang pasang malam ini
bersaksi di pusaran mata laut
atas segala tetes keringat
yang menyatu membasuh malam
Parepare, 2004
Sumber: Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia, 2007)
Analisis Puisi:
Puisi “Mata Laut” menghadirkan perenungan lirih tentang kegelisahan batin manusia yang disampaikan melalui simbol alam laut. Dengan bahasa yang lembut dan repetitif, puisi ini membangun suasana kontemplatif, seolah pembaca diajak menyelami kedalaman perasaan yang tidak terucap secara langsung, tetapi mengalir bersama gelombang malam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kegelisahan batin dan pencarian makna melalui simbol alam. Laut dan gelombang pasang menjadi medium untuk mengungkapkan perasaan rindu, kenangan, dan kelelahan emosional yang bersifat personal sekaligus universal.
Puisi ini bercerita tentang keinginan agar gelombang pasang malam hari berubah wujud: menjadi bintang, menjadi tangis, dan akhirnya menjadi saksi atas keringat dan perjuangan yang menyatu dengan malam. Keinginan-keinginan tersebut menunjukkan proses batin yang bergerak dari harapan, kesedihan, hingga penerimaan atas kenyataan hidup.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah ungkapan kerinduan dan keletihan eksistensial manusia. Gelombang pasang melambangkan gejolak perasaan yang tak pernah benar-benar tenang. Keinginan mengubah gelombang menjadi cahaya, tangis, dan kesaksian menandakan upaya manusia memahami dan menenangkan batin di tengah kegelisahan yang “tak sempurna”.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana hening, melankolis, dan reflektif. Nuansa malam, laut, dan air mata membentuk atmosfer kesunyian yang dalam, seolah perasaan dibiarkan berbicara pelan tanpa teriakan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menerima kegelisahan sebagai bagian dari hidup. Setiap keringat, kenangan, dan luka batin pada akhirnya menjadi bagian dari proses pembasuhan diri, menuju pemahaman yang lebih jujur terhadap diri sendiri.
Puisi “Mata Laut” karya Tri Astoto Kodarie merupakan puisi reflektif yang mengolah alam sebagai cermin batin manusia. Dengan bahasa yang sederhana namun puitis, puisi ini menyampaikan kegelisahan, harapan, dan penerimaan secara halus. Laut tidak hanya hadir sebagai latar, tetapi sebagai ruang batin tempat perasaan, kenangan, dan kelelahan hidup saling bertemu dan menyatu.
Puisi: Mata Laut
Karya: Tri Astoto Kodarie
Biodata Tri Astoto Kodarie:
- Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
