Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: M.E. (Karya Frans Nadjira)

Puisi “M.E.” karya Frans Nadjira bercerita tentang sebuah hubungan yang berakhir dengan kesedihan karena ketidakmampuan memahami “debu”—simbol ...

M.E.


                seandainya aku memahami debu
                tentu percintaan kami tak
                berakhir dengan kesedihan ...

Sebab ia selalu mengulang
seruan yang sama: "Ambil,
atau tak ada yang tersisa buatmu!"
maka ia parau. Pemandangan pantai
dan percakapan tak selesai.
        Siapa menggarami laut?
        Camar, langit atau serbuk angin?
Hanya mereka yang tak waras
berani menyeberangi batas
angan milik Penyair
tempat sumber air mengalir tak habis.

        Seandainya aku mengingat debu
sejak ia mulai bicara tentang
kehidupan bawah air Air yang dalam
Relung karang dan hewan-hewan tak bermata
yang hidup dalam kegelapan
tentu kami berpisah tanpa duka.
Tapi begitulah sifat laut
Selalu menyisakan cahaya samar matahari senja.

Sumber: Horison (September, 1990)

Analisis Puisi:

Puisi “M.E.” menghadirkan perenungan yang puitis dan metaforis tentang percintaan, kesadaran, serta keterbatasan manusia dalam memahami kenyataan. Frans Nadjira menggunakan simbol alam—debu, laut, pantai, dan makhluk bawah air—sebagai medium untuk mengungkap kegagalan relasi dan penyesalan yang lahir dari keterlambatan memahami hakikat hidup dan cinta.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegagalan cinta yang disertai kesadaran eksistensial. Puisi ini juga menyentuh tema keterbatasan manusia dalam memahami kehidupan, terutama ketika cinta dipaksakan melampaui kesiapan batin.

Puisi ini bercerita tentang sebuah hubungan yang berakhir dengan kesedihan karena ketidakmampuan memahami “debu”—simbol kesadaran akan kefanaan dan kerendahan diri. Tokoh lirik menghadapi sosok “ia” yang mengajukan tuntutan mutlak (“ambil, atau tak ada yang tersisa”), hingga percintaan berubah menjadi percakapan yang tak selesai, seperti pantai dan laut yang tak pernah benar-benar diam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menyingkap bahwa cinta membutuhkan kesiapan memahami batas, kedalaman, dan risiko. Debu menjadi metafora kesadaran akan kefanaan, sementara laut melambangkan kehidupan dan cinta yang luas, dalam, sekaligus berbahaya. Penyesalan muncul karena pemahaman itu datang terlambat, sehingga perpisahan tidak lagi bisa dihindari tanpa luka.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana murung dan kontemplatif. Ada nuansa kesedihan yang tenang, bukan ledakan emosi, melainkan duka yang direnungkan melalui citra alam senja, laut, dan cahaya samar.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya kesadaran diri sebelum terjun ke dalam hubungan atau kehidupan yang lebih dalam. Tanpa pemahaman akan batas dan kerendahan hati, cinta justru dapat berakhir sebagai duka. Puisi ini juga mengingatkan bahwa tidak semua kedalaman harus diselami jika manusia belum siap menanggung konsekuensinya.

Puisi “M.E.” adalah puisi reflektif yang menempatkan cinta dalam lanskap filosofis dan alamiah. Frans Nadjira tidak sekadar berbicara tentang perpisahan, melainkan tentang kesadaran yang terlambat—bahwa memahami kehidupan dan cinta memerlukan kerendahan hati, keberanian, dan kesiapan menghadapi kedalaman yang mungkin tak selalu membawa kebahagiaan.

Frans Nadjira
Puisi: M.E.
Karya: Frans Nadjira

Biodata Frans Nadjira
  • Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.