Melambunglah Wahai Melambunglah
Maut melambunglah. Aduhai melambunglah.
Ke langit biru ke negeri Tuhan
Jangan meraung bagai kecapi ajaib
Ada di siang dan malam. Tanpa bicara
Sudah penuh bersabar deritaku
menunggu malam di luar yang berat
Walau seratus cinta telah diberi padaku
Tak terbongkar pohon selera dari sinar yang panas
Berkali sudah aku selalu menghadap ini meja
Dengan membaca ayat-ayat suci di sini
Lapar aku, lapar aku maut melambunglah
Saat aku lahir sudah terlupa digenggam nyata
Dan malaikat rambutnya panjang
Berbaring di kebun sunyi mengulurkan bulan
Burulah wahai dari segala mata hidup
Di sini, di rumah ini, kuhabiskan bacaan kitabku.
Sumber: Horison (Desember, 1973)
Analisis Puisi:
Puisi “Melambunglah Wahai Melambunglah” karya Bambang Darto merupakan sajak yang kental dengan nuansa spiritual, kontemplatif, dan eksistensial. Melalui diksi yang repetitif, simbolik, dan religius, penyair mengekspresikan pergulatan batin manusia dalam menghadapi penderitaan, kelelahan hidup, serta kerinduan untuk kembali kepada asal yang transenden.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan akan kematian sebagai jalan pembebasan spiritual. Di dalamnya juga tersirat tema kepasrahan kepada Tuhan, keletihan eksistensial, serta pencarian makna hidup melalui iman dan kesunyian.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memanggil maut agar “melambung” menuju langit dan negeri Tuhan. Seruan tersebut bukan jeritan putus asa semata, melainkan ungkapan lelah setelah melalui derita panjang, lapar batin, dan penantian yang berat. Tokoh "aku" digambarkan menjalani hidup dalam kesunyian, menghadap meja, membaca ayat-ayat suci, dan menghabiskan waktu dalam perenungan religius di rumahnya.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa maut dipandang bukan sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai pelepasan dari penderitaan duniawi. Seruan “melambunglah” mengandung harapan agar kematian datang dengan tenang, tanpa raung dan hiruk-pikuk, menuju dimensi ilahi.
Puisi ini juga menyiratkan kekosongan hidup yang tidak terisi oleh cinta duniawi, sebagaimana terlihat dalam larik “Walau seratus cinta telah diberi padaku”. Hal tersebut menegaskan bahwa kebutuhan terdalam tokoh "aku" bukanlah cinta manusia, melainkan kedamaian spiritual dan kedekatan dengan Tuhan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, lirih, dan kontemplatif, dengan nuansa religius yang kuat. Ada pula kesan lelah, pasrah, dan tenang sekaligus, seolah "aku" telah berdamai dengan penderitaan dan menunggu kepulangan dengan penuh kesadaran.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk memaknai penderitaan hidup secara spiritual, bukan sekadar sebagai beban. Puisi ini mengingatkan bahwa ketika dunia tak lagi memberi jawaban, manusia dapat menemukan ketenangan melalui iman, kesabaran, dan kepasrahan kepada Tuhan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan imaji spiritual. Gambaran “langit biru”, “negeri Tuhan”, “malaikat rambutnya panjang”, dan “kebun sunyi” menciptakan suasana metafisik yang lembut dan penuh simbol. Imaji lapar juga hadir sebagai metafora kekosongan batin dan kerinduan rohani.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, pada maut yang diajak “melambung”.
- Metafora, pada lapar yang melambangkan dahaga spiritual.
- Repetisi, pada kata “melambunglah” untuk menegaskan intensitas kerinduan.
- Simbolisme, pada malaikat, bulan, dan kitab sebagai lambang spiritualitas dan pencerahan.
- Hiperbola, pada ungkapan “seratus cinta” untuk menekankan kejenuhan terhadap cinta duniawi.
Puisi “Melambunglah Wahai Melambunglah” adalah puisi yang menghadirkan dialog sunyi antara manusia dan kematian dalam bingkai religius. Bambang Darto menempatkan maut bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai perjalanan spiritual menuju ketenteraman dan kedekatan dengan Tuhan.
Puisi: Melambunglah Wahai Melambunglah
Karya: Bambang Darto
Biodata Bambang Darto:
- Bambang Darto lahir di Nganjuk, pada tanggal 26 Februari 1950.
- Bambang Darto meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 20 Januari 2018.