Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Memandang Jakarta (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Memandang Jakarta” bercerita tentang sekelompok “kita” yang hidup di tengah kota Jakarta, berdesakan, berebut ruang, dan terlempar dalam ...
Memandang Jakarta

ada yang lebih berarti dari sekuntum bunga
yang tergeletak di tepi jalan. atau seekor
burung yang hinggap di atap rumah.

ada yang lebih berarti dari memungut
bunga dan menembak burung. aku di antara
kalian. menduga jarak pemberhentian.

lalu kita berhamburan seperti sampah
dari truk sampah. merebutkan satu tempat
untuk berpijak. dan kita tak sempat
memikirkan: mengapa kita berdiri di antara
daftar harga, dan boleh ditawar?

1987

Sumber: Nikah Ilalang (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Memandang Jakarta” menghadirkan potret kota yang keras, ringkas, dan sarat ironi. Dorothea Rosa Herliany tidak memandang Jakarta sebagai lanskap gemerlap, melainkan sebagai ruang sosial yang menyingkap persoalan nilai, kemanusiaan, dan daya hidup manusia yang terjepit dalam sistem kota modern.

Tema

Tema utama puisi ini adalah dehumanisasi dan krisis nilai dalam kehidupan urban. Jakarta digambarkan sebagai kota yang menggerus makna hidup manusia, menurunkan martabat menjadi sekadar angka, harga, dan ruang pijakan yang diperebutkan.

Puisi ini bercerita tentang sekelompok “kita” yang hidup di tengah kota Jakarta, berdesakan, berebut ruang, dan terlempar dalam arus kehidupan yang tidak ramah. Penyair memosisikan diri “di antara kalian”, menyadari jarak pemberhentian—sebuah metafora tentang ketidakpastian arah dan masa depan. Kehidupan kota digambarkan seperti sampah yang dihamburkan dari truk, tanpa pilihan selain berebut tempat berpijak.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan kritik tajam terhadap sistem sosial dan ekonomi kota yang memperlakukan manusia sebagai komoditas. Baris “kita berdiri di antara daftar harga, dan boleh ditawar?” menyingkap ironi bahwa nilai manusia di ruang urban ditentukan oleh mekanisme pasar. Hal-hal yang seharusnya bermakna—seperti bunga dan burung—tersisih oleh logika kekerasan, utilitas, dan transaksi.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa getir, muram, dan penuh kegelisahan. Nada puisi dingin dan sinis, seolah memotret realitas kota tanpa romantisasi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk kembali mempertanyakan nilai kemanusiaan di tengah kehidupan kota yang serba cepat dan kompetitif. Puisi ini mengingatkan bahwa jika manusia berhenti bertanya “mengapa”, maka ia akan dengan mudah menerima posisi dirinya sebagai objek yang bisa ditawar dan diperdagangkan.

Puisi “Memandang Jakarta” adalah puisi kritik sosial yang tajam dan efektif. Dengan bahasa yang ringkas namun menghantam, Dorothea Rosa Herliany memaksa pembaca menatap wajah kota dan bertanya ulang: di tengah harga dan tawar-menawar, masihkah manusia memiliki nilai yang tak bisa diukur?

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Memandang Jakarta
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.