Puisi: Menatap Waktu (Karya Ngurah Parsua)

Puisi "Menatap Waktu" karya Ngurah Parsua bercerita tentang seseorang yang menatap waktu sambil merenungi perjalanan cinta yang tak menentu.
Menatap Waktu

mata langit di jantung melati
kutatap waktu terpisah waktu
cinta hamba dibalut perjalanan
tak menentu;

rindu dibalik rindu ternyata
kecemburuan berkhiananat lalu kudekap
noda dibingkai hati suci;
lupakan saja; ikhlas berpisah
di depan kehangatan mengulum
mata lirih seperti aku;

berpisah sebelum pertemuan
karena asmara di dunia tak terduga
sekilas sampai; menatap kekasih setiap
hari; cukupkan!
akhir waktu hanya berita

Denpasar, 2002

Sumber: 99 Puisiku (Lembaga Seniman Indonesia Bali, 2008)

Analisis Puisi:

Puisi "Menatap Waktu" karya Ngurah Parsua menghadirkan perenungan lirih tentang cinta, perpisahan, dan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam mengendalikan perjalanan hidup. Bahasa puisi ini padat, reflektif, dan cenderung kontemplatif, seolah penyair sedang berbicara kepada dirinya sendiri di tengah pergulatan rasa yang tak selesai. Waktu, cinta, dan keikhlasan menjadi poros utama sajak ini.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perpisahan dan ketidakpastian cinta dalam perjalanan hidup. Puisi ini juga memuat tema kefanaan, keikhlasan, dan kesadaran bahwa waktu sering kali memisahkan manusia sebelum mereka benar-benar siap bertemu atau bersatu secara utuh.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menatap waktu sambil merenungi perjalanan cinta yang tak menentu. Hubungan yang dijalani dipenuhi rindu, kecemburuan, dan luka batin yang kemudian disadari sebagai noda dalam hati yang semula suci.

Penyair sampai pada titik penerimaan: memilih untuk melupakan, mengikhlaskan perpisahan, dan menyadari bahwa cinta duniawi kerap hadir secara tak terduga. Bahkan, perpisahan dapat terjadi sebelum pertemuan benar-benar bermakna. Pada akhirnya, waktu tidak memberikan jawaban pasti, melainkan hanya “berita” tentang akhir.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kesadaran akan keterbatasan manusia dalam menguasai waktu dan perasaan. Cinta tidak selalu berujung pada kebersamaan, dan rindu tidak selalu menemukan pelabuhan. Perpisahan dalam puisi ini bukan semata peristiwa fisik, melainkan juga perpisahan batin—antara harapan dan kenyataan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa keikhlasan bukanlah sikap yang mudah, melainkan hasil dari pergulatan panjang dengan luka, cemburu, dan pengkhianatan rasa yang disadari sebagai bagian dari proses pendewasaan jiwa.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sendu, lirih, dan reflektif. Nada puisi cenderung tenang namun menyimpan kesedihan yang dalam. Tidak ada letupan emosi yang keras; yang hadir justru kelelahan batin dan kepasrahan menghadapi kenyataan bahwa tidak semua cinta dapat dipertahankan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk berdamai dengan perpisahan dan belajar mengikhlaskan apa yang tidak dapat digenggam oleh waktu. Puisi ini mengingatkan bahwa cinta yang dewasa bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang melepaskan dengan kesadaran dan ketulusan.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa hidup dan asmara penuh dengan ketakterdugaan, sehingga manusia perlu menyiapkan hati untuk menerima segala kemungkinan.

Puisi "Menatap Waktu" karya Ngurah Parsua merupakan sajak kontemplatif yang menggali kedalaman rasa manusia saat berhadapan dengan cinta dan perpisahan. Dengan bahasa yang ringkas namun sarat makna, puisi ini mengajak pembaca untuk menatap waktu dengan kesadaran, menerima kehilangan, dan belajar mengikhlaskan perjalanan yang tak selalu berakhir sesuai harapan.

Ngurah Parsua
Puisi: Menatap Waktu
Karya: Ngurah Parsua

Biodata Ngurah Parsua:
  • Ngurah Parsua memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Parsua.
  • Ngurah Parsua lahir di Bondalem, Singaraja, Buleleng.
© Sepenuhnya. All rights reserved.