Analisis Puisi:
Puisi "Mencari Peta Ibu" karya Dorothea Rosa Herliany adalah karya yang memikat dengan keindahan dan kompleksitas metaforanya. Melalui puisi ini, Dorothea mengeksplorasi tema pencarian identitas dan hubungan yang mendalam dengan dunia serta diri sendiri, menggunakan bahasa yang kaya dan simbolik.
Puisi ini adalah perjalanan metaforis yang menantang pembaca untuk merenung tentang pencarian, kerinduan, dan pemahaman diri. Dalam setiap baitnya, Dorothea mengajak kita menjelajahi berbagai dimensi emosional dan spiritual dengan imaji yang kuat dan bahasa yang penuh makna.
Eksplorasi Simbol dan Metafora
- Simbol Akar dan Pohon: "Cium akar dari rahim" membuka puisi dengan simbol yang mendalam, menggambarkan hubungan mendasar antara individu dan asal-usulnya. Akar dari rahim melambangkan akar kehidupan dan identitas, sedangkan pohon yang ditikam ruhnya menunjukkan kebutuhan untuk memahami dan menembus lapisan-lapisan dalam dari diri dan eksistensi.
- Metafora Laut dan Gunung: Penggunaan metafora laut dan gunung dalam "bakar laut 'nuju rasa" dan "timbun gunung dengan rindu" menggambarkan beban emosional dan kerinduan yang mendalam. Laut yang terbakar menunjukkan kegelisahan atau intensitas emosi, sementara gunung yang ditimbun dengan rindu mencerminkan kedalaman perasaan yang sulit dijangkau.
- Tatapan dan Jarak: "Raut puncak dekat pisau" dan "tatap jarak sarat waktu" menggarisbawahi ketegangan antara kedekatan dan jarak. Puncak yang dekat dengan pisau menunjukkan situasi yang menegangkan atau berbahaya, sementara tatapan jarak yang sarat waktu mengindikasikan perjalanan panjang dan penuh usaha dalam pencarian makna.
Pencarian dan Penerimaan
- Penggambaran Aktivitas dan Gerakan: Puisi ini penuh dengan tindakan dan gerakan yang menunjukkan proses pencarian dan penemuan diri. Frasa seperti "kejar larung dalam cawan" dan "pukul haus misal tambur" menciptakan gambaran dinamis tentang usaha dan usaha keras dalam mencapai tujuan yang tampaknya tidak terjangkau.
- Transformasi dan Pembaharuan: Dalam "tutup dentum atas cinta" dan "buai ratap lekat embun," terdapat elemen transformasi dan pembaharuan. Penutup dentum menunjukkan penyerahan atau penghentian sesuatu, sedangkan buai ratap lekat embun menggambarkan keleluasaan dan ketenangan setelah kesedihan.
Makna Akhir dan Penutup
- Kesimpulan Metaforis: Di akhir puisi, "Putarlah kaki demi kaki 'nuju kerumitan labirin hingga diri padam laksana bulan pingsan," terdapat penekanan pada perjalanan yang penuh dengan kesulitan dan kebingungan, tetapi juga sebuah proses penyelesaian diri. Labirin adalah simbol dari kerumitan kehidupan dan pencarian diri, sedangkan bulan pingsan mencerminkan keletihan atau kehilangan arah.
- Penutup yang Mendalam: Penutup puisi ini, dengan gambar bulan pingsan, meninggalkan pembaca dengan kesan mendalam tentang pencarian tanpa akhir dan transformasi. Ini adalah perjalanan yang tidak hanya tentang menemukan peta atau arah, tetapi juga tentang memahami dan menerima perjalanan itu sendiri.
Puisi "Mencari Peta Ibu" adalah puisi yang kaya dengan simbolisme dan metafora, menawarkan pembaca sebuah perjalanan emosional dan intelektual. Dorothea Rosa Herliany menggunakan bahasa yang kuat dan imaji yang mendalam untuk mengeksplorasi tema pencarian identitas, kerinduan, dan penerimaan diri. Melalui puisi ini, pembaca diundang untuk merenung tentang perjalanan hidup mereka sendiri dan menemukan makna di dalamnya.

Puisi: Mencari Peta Ibu
Karya: Dorothea Rosa Herliany