Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Mencari Peta Ibu (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi "Mencari Peta Ibu" menggunakan bahasa yang kuat dan imaji yang mendalam untuk mengeksplorasi tema pencarian identitas, kerinduan, dan ...
Mencari Peta Ibu

Cium akar dari rahim
tikam ruh pada pohon
bakar laut 'nuju rasa
timbun gunung dengan rindu
hisap mega untuk ratap
tebang mimpi tanpa lapar
raut puncak dekat pisau
tatap jarak sarat waktu
kejar larung dalam cawan
daki laut depan sampan
pukul haus misal tambur
singkap hasrat balik tabir
tutup dentum atas cinta
buai ratap lekat embun
kejar bantal 'nuju sungai
hapus tirai pada silam
bunuh detik atas umur
bangun huma dari lalang
 tancap rintih pada daging
jilat sari dalam talam
terkam lindu sela laut
catat lirih 'nuju giris
peluk bayang atas tubuh
buai lagu puncak jerit
tulis syair pada tafsir
tempuh sampai bawah sampan
 kayuh titik bukan nafsu
untai nafas bau kuntum
petik taman dengan kupu
libas jauh dalam tempuh
tangkap maki atas cinta
cecap nikmat tanpa lidah
balik buku pada jari
hutang hilir hingga akhir
tebus hulu dari mula

Putarlah kaki demi kaki
'nuju kerumitan labirin
hingga diri padam
laksana bulan pingsan.

Mendut, 2012

Analisis Puisi:

Puisi "Mencari Peta Ibu" karya Dorothea Rosa Herliany adalah karya yang memikat dengan keindahan dan kompleksitas metaforanya. Melalui puisi ini, Dorothea mengeksplorasi tema pencarian identitas dan hubungan yang mendalam dengan dunia serta diri sendiri, menggunakan bahasa yang kaya dan simbolik.

Puisi ini adalah perjalanan metaforis yang menantang pembaca untuk merenung tentang pencarian, kerinduan, dan pemahaman diri. Dalam setiap baitnya, Dorothea mengajak kita menjelajahi berbagai dimensi emosional dan spiritual dengan imaji yang kuat dan bahasa yang penuh makna.

Eksplorasi Simbol dan Metafora

  • Simbol Akar dan Pohon: "Cium akar dari rahim" membuka puisi dengan simbol yang mendalam, menggambarkan hubungan mendasar antara individu dan asal-usulnya. Akar dari rahim melambangkan akar kehidupan dan identitas, sedangkan pohon yang ditikam ruhnya menunjukkan kebutuhan untuk memahami dan menembus lapisan-lapisan dalam dari diri dan eksistensi.
  • Metafora Laut dan Gunung: Penggunaan metafora laut dan gunung dalam "bakar laut 'nuju rasa" dan "timbun gunung dengan rindu" menggambarkan beban emosional dan kerinduan yang mendalam. Laut yang terbakar menunjukkan kegelisahan atau intensitas emosi, sementara gunung yang ditimbun dengan rindu mencerminkan kedalaman perasaan yang sulit dijangkau.
  • Tatapan dan Jarak: "Raut puncak dekat pisau" dan "tatap jarak sarat waktu" menggarisbawahi ketegangan antara kedekatan dan jarak. Puncak yang dekat dengan pisau menunjukkan situasi yang menegangkan atau berbahaya, sementara tatapan jarak yang sarat waktu mengindikasikan perjalanan panjang dan penuh usaha dalam pencarian makna.

Pencarian dan Penerimaan

  • Penggambaran Aktivitas dan Gerakan: Puisi ini penuh dengan tindakan dan gerakan yang menunjukkan proses pencarian dan penemuan diri. Frasa seperti "kejar larung dalam cawan" dan "pukul haus misal tambur" menciptakan gambaran dinamis tentang usaha dan usaha keras dalam mencapai tujuan yang tampaknya tidak terjangkau.
  • Transformasi dan Pembaharuan: Dalam "tutup dentum atas cinta" dan "buai ratap lekat embun," terdapat elemen transformasi dan pembaharuan. Penutup dentum menunjukkan penyerahan atau penghentian sesuatu, sedangkan buai ratap lekat embun menggambarkan keleluasaan dan ketenangan setelah kesedihan.

Makna Akhir dan Penutup

  • Kesimpulan Metaforis: Di akhir puisi, "Putarlah kaki demi kaki 'nuju kerumitan labirin hingga diri padam laksana bulan pingsan," terdapat penekanan pada perjalanan yang penuh dengan kesulitan dan kebingungan, tetapi juga sebuah proses penyelesaian diri. Labirin adalah simbol dari kerumitan kehidupan dan pencarian diri, sedangkan bulan pingsan mencerminkan keletihan atau kehilangan arah.
  • Penutup yang Mendalam: Penutup puisi ini, dengan gambar bulan pingsan, meninggalkan pembaca dengan kesan mendalam tentang pencarian tanpa akhir dan transformasi. Ini adalah perjalanan yang tidak hanya tentang menemukan peta atau arah, tetapi juga tentang memahami dan menerima perjalanan itu sendiri.
Puisi "Mencari Peta Ibu" adalah puisi yang kaya dengan simbolisme dan metafora, menawarkan pembaca sebuah perjalanan emosional dan intelektual. Dorothea Rosa Herliany menggunakan bahasa yang kuat dan imaji yang mendalam untuk mengeksplorasi tema pencarian identitas, kerinduan, dan penerimaan diri. Melalui puisi ini, pembaca diundang untuk merenung tentang perjalanan hidup mereka sendiri dan menemukan makna di dalamnya.

Puisi: Mencari Peta Ibu
Puisi: Mencari Peta Ibu
Karya: Dorothea Rosa Herliany
© Sepenuhnya. All rights reserved.