Puisi: Menemui Negeri Leluhur (Karya Herwan FR)

Puisi "Menemui Negeri Leluhur" karya Herwan FR bercerita tentang seseorang yang menemui kembali negeri leluhur, sebuah ruang simbolik yang ...
Menemui Negeri Leluhur

menemui negeri leluhur, negeri yang lapang
bagi segala kesuburan, aku belajar lagi mengenal
deru gelombang, amis ikan, lirik sinden, tari topeng
dan tarling pedalaman. tanganku merentang
menangkap juntaian-juntaian seni tradisi: kembang
pitung* warna, sedekah laut, sedekah bumi, kemenyan
dan dupa, keraton-keraton tua, seribu mantra dan senjata -

menemui lagi negeri leluhur, negeri sungai dan batu-batu,
aku belajar lagi mencelupkan tungkai kaki ke deras kali.
jiwaku melayang ke permukaan bersama burung-burung,
menyusur sampai ke muara dan kubuka pintu-pintu
samudera, kulayarkan hatiku dengan jelaga, sampai
ke kerak makna.

Serang, 2002

Catatan:
  • Pitung/pitu = tujuh

Analisis Puisi:

Puisi "Menemui Negeri Leluhur" karya Herwan FR merupakan sajak kontemplatif yang menarasikan perjalanan pulang, bukan sekadar secara geografis, melainkan juga secara kultural dan spiritual. Melalui rangkaian citraan alam dan tradisi, penyair menghadirkan upaya mengenali kembali akar leluhur sebagai sumber makna, kesuburan, dan identitas diri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penelusuran identitas dan pemulangan diri kepada akar budaya leluhur. Puisi ini menempatkan tradisi, alam, dan spiritualitas sebagai fondasi pembentuk jati diri yang perlu dikenali kembali di tengah perubahan zaman.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menemui kembali negeri leluhur, sebuah ruang simbolik yang digambarkan lapang, subur, dan kaya akan seni tradisi. Dalam perjalanan tersebut, penyair belajar kembali mengenal berbagai unsur kebudayaan: gelombang laut, ikan, seni pertunjukan rakyat, hingga ritual adat.

Perjalanan itu berlanjut menyusuri sungai, batu, dan muara, hingga akhirnya penyair “mengulayarkan hati” menuju samudera makna. Proses ini menunjukkan perjalanan lahir dan batin yang saling berkait, dari pengalaman inderawi menuju perenungan terdalam.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ajakan untuk kembali menyadari dan menghargai warisan leluhur sebagai sumber kebijaksanaan hidup. Penyair menyiratkan bahwa modernitas kerap membuat manusia tercerabut dari akar budayanya, sehingga perlu ada usaha sadar untuk “belajar lagi mengenal” tradisi dan alam.

Penggunaan frasa “kembang pitung warna” (tujuh warna) menyiratkan kesempurnaan, keberagaman, dan harmoni kosmis. Sementara perjalanan menuju “kerak makna” menandakan pencarian esensi terdalam dari identitas dan kehidupan itu sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa khidmat, lapang, dan reflektif. Ada nuansa kekaguman terhadap kekayaan tradisi dan alam, sekaligus ketenangan batin yang muncul dari proses pulang dan menyatu dengan akar leluhur.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya merawat dan memahami tradisi leluhur sebagai penopang identitas dan kebijaksanaan hidup. Puisi ini mengingatkan bahwa perjalanan menuju makna sejati tidak bisa dilepaskan dari kesadaran akan asal-usul dan hubungan harmonis dengan alam.

Puisi "Menemui Negeri Leluhur" karya Herwan FR merupakan sajak perjalanan yang menegaskan pentingnya pulang ke akar budaya sebagai jalan memahami diri dan kehidupan. Dengan menyatukan alam, seni, dan spiritualitas, puisi ini menghadirkan kesadaran bahwa makna terdalam kerap bersemayam pada tradisi yang diwariskan dan dijalani dengan kesadaran penuh.

Puisi: Menemui Negeri Leluhur
Puisi: Menemui Negeri Leluhur
Karya: Herwan FR

Biodata Herwan FR:
  • Herwan FR lahir di Cerebon, pada tanggal 14 Juni 1971.
© Sepenuhnya. All rights reserved.