Mengenang Chairil Anwar
Cril, biarkan sekali ini
airmata kami
tumpah
di atas limpah
sajakmu
ketika suatu senja
kau berjalan seorang diri
mengenang sri ayati
ketika mengusirmu pergi
sehingga cintamu abadi
biarkan duka kami
mengiringi jeritan hati
Di balik kata indah
ketika kau menimang evawani
diusir mertua
kau hanya tertawa
melepas peluk seorang ayah
dan tak berjumpa lagi
hingga berkalang tanah
biarkan kali ini
kami menguras limbah
kebebalan hati
yang hanya tahu dan mengenang
indah
kata kata. Di balik sampah
kedunguan kami
tapi tak pernah tahu
dan ambil peduli
ketika kaki menyeret nyeret
dan mengetuk pintu demi pintu
untuk sepiring nasi
April, 2018
Analisis Puisi:
Puisi “Mengenang Chairil Anwar” karya Damiri Mahmud merupakan puisi penghormatan sekaligus permenungan kritis terhadap sosok Chairil Anwar, penyair besar Indonesia. Puisi ini tidak hanya mengenang Chairil sebagai legenda sastra dengan sajak-sajak yang abadi, tetapi juga menyingkap sisi kemanusiaan dan penderitaan hidupnya yang kerap luput dari perhatian pembaca.
Damiri Mahmud menempatkan Chairil Anwar sebagai figur yang dikenang dengan air mata, duka, dan rasa bersalah kolektif, karena selama ini masyarakat lebih sering memuja kata-katanya dibanding memahami pergulatan hidupnya.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah penghormatan terhadap penyair besar yang hidup dalam kesunyian, penderitaan, dan ketidakpedulian sosial. Puisi ini juga mengangkat tema ironi antara keabadian karya sastra dan keterabaian hidup penciptanya.
Selain itu, puisi ini memuat tema penyesalan dan introspeksi kolektif, yakni kesadaran bahwa masyarakat sering terlambat memahami derita para seniman.
Puisi ini bercerita tentang upaya mengenang kehidupan Chairil Anwar, bukan hanya melalui karya-karyanya, tetapi juga melalui pengalaman hidup pahit yang dialaminya: kesepian, kegagalan cinta, hubungan keluarga yang retak, hingga kemiskinan.
Penyair menyebut nama-nama penting dalam hidup Chairil, seperti Sri Ayati dan Evawani, yang merepresentasikan kisah cinta dan keluarga yang tidak berjalan mulus. Puisi ini juga menggambarkan perjuangan Chairil menjalani hidup dengan menyeret langkah dari pintu ke pintu demi sepiring nasi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik terhadap cara masyarakat memperlakukan seniman. Puisi ini menyiratkan bahwa publik sering kali hanya memetik keindahan kata dan kemasyhuran karya, tetapi menutup mata terhadap penderitaan nyata di balik proses penciptaannya.
Puisi ini juga mengandung makna bahwa penghormatan sejati kepada seniman seharusnya tidak berhenti pada pengagungan karya, melainkan juga kepedulian terhadap kehidupan dan martabat manusianya.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan suasana duka, lirih, dan reflektif. Nada ratapan terasa kuat melalui kata-kata seperti “airmata”, “duka”, dan “jeritan hati”. Suasana ini tidak hanya bersifat sentimental, tetapi juga mengandung rasa sesal dan kritik diri.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk lebih manusiawi dalam menghargai seniman. Puisi ini mengingatkan agar masyarakat tidak sekadar mengingat keindahan karya setelah seniman wafat, tetapi juga peka terhadap perjuangan hidup mereka semasa hidup.
Puisi “Mengenang Chairil Anwar” karya Damiri Mahmud adalah puisi elegi yang bukan hanya memuja, tetapi juga menggugat cara kita mengenang sastrawan. Puisi ini mengajak pembaca untuk menoleh ke sisi gelap sejarah sastra: penderitaan, kemiskinan, dan kesepian yang kerap menyertai kelahiran karya-karya besar.
Melalui puisi ini, Damiri Mahmud seakan menegaskan bahwa mengenang Chairil Anwar berarti juga belajar untuk lebih peduli, lebih adil, dan lebih manusiawi terhadap para seniman.
Puisi: Mengenang Chairil Anwar
Karya: Damiri Mahmud
Biodata Damiri Mahmud:
- Damiri Mahmud lahir pada tanggal 17 Januari 1945 di Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara.
- Damiri Mahmud meninggal dunia pada tanggal 30 Desember 2019 (pada usia 74) di Deli Serdang, Sumatra Utara.