Puisi: Mengenang Kemiskinan (Karya Asep S. Sambodja)

Puisi "Mengenang Kemiskinan" karya Asep S. Sambodja menghadirkan potret kemiskinan secara telanjang, langsung, dan nyaris tanpa perhiasan bahasa.
Mengenang Kemiskinan

teman setiaku adalah lapar
hidup cuma sekedar bayang-bayang
tak tahu mau berbuat apa
mau ke mana

yang sudi menemaniku hanyalah lapar
seperti orang bodoh menerima dengan diam
tanpa pemberontakan
tanpa keberanian

karena aku lapar
aku benci kekuasaan
yang melebarkan jurang
antara aku dan orang-orang kenyang

ini adalah hari pangan sedunia
rayakanlah saudara-saudara, rayakanlah
aku tak bisa beserta kalian
sebab sampai sekarang aku belum makan

Sumber: Kusampirkan Cintaku di Jemuran (2006)

Analisis Puisi:

Puisi "Mengenang Kemiskinan" karya Asep S. Sambodja menghadirkan potret kemiskinan secara telanjang, langsung, dan nyaris tanpa perhiasan bahasa. Penyair tidak berusaha menghaluskan kenyataan, melainkan justru menempatkan pembaca berhadap-hadapan dengan pengalaman lapar sebagai kondisi hidup yang terus-menerus, personal, sekaligus politis. Puisi ini bekerja melalui pengulangan, kejujuran ekstrem, dan ironi sosial yang kuat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemiskinan struktural yang dialami individu, khususnya kemiskinan yang diwujudkan dalam pengalaman lapar berkepanjangan. Lapar tidak hanya hadir sebagai kondisi fisik, tetapi juga sebagai simbol keterasingan, ketidakberdayaan, dan ketimpangan sosial. Tema ini diperkuat oleh kritik terhadap kekuasaan yang memperlebar jarak antara mereka yang lapar dan mereka yang kenyang.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Ia tidak memiliki teman selain lapar, tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, dan tidak mampu melakukan perlawanan. Di tengah perayaan Hari Pangan Sedunia—yang seharusnya merayakan kecukupan dan solidaritas—tokoh aku justru tersingkir karena kenyataannya ia belum makan. Cerita dalam puisi ini bergerak dari pengakuan personal menuju kritik sosial yang lebih luas.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada ironi dan sindiran sosial yang tajam. Perayaan Hari Pangan Sedunia menjadi simbol kemunafikan sistem: dunia merayakan pangan, sementara masih ada orang yang kelaparan. Selain itu, sikap “menerima dengan diam” menunjukkan bagaimana kemiskinan yang berkepanjangan dapat melumpuhkan keberanian dan daya juang seseorang. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kemiskinan bukan sekadar nasib individual, melainkan akibat dari struktur kekuasaan yang timpang.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, getir, dan penuh keputusasaan. Kesunyian batin tokoh aku diperkuat oleh sikap pasrah, kebencian yang terpendam terhadap kekuasaan, serta ironi pahit di bagian akhir puisi. Tidak ada ledakan emosi, tetapi justru ketenangan yang dingin, seolah keputusasaan itu sudah terlalu lama menetap.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari realitas kemiskinan secara jujur dan tidak menutupinya dengan seremoni atau perayaan simbolik. Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa kekuasaan memiliki tanggung jawab moral terhadap ketimpangan sosial. Bagi pembaca, puisi ini mengingatkan pentingnya empati dan keberpihakan pada mereka yang terpinggirkan.

Puisi "Mengenang Kemiskinan" adalah puisi yang sederhana dalam bahasa, namun dalam dalam makna. Asep S. Sambodja berhasil menunjukkan bahwa kemiskinan tidak selalu perlu dijelaskan dengan metafora rumit; cukup dengan kejujuran, pengulangan, dan ironi, puisi ini sudah mampu menggugah kesadaran sosial pembacanya.

Asep S. Sambodja
Puisi: Mengenang Kemiskinan
Karya: Asep S. Sambodja

Biodata Asep S. Sambodja:
  • Asep S. Sambodja lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 15 September 1967.
  • Karya-karyanya banyak dimuat di media massa, seperti Horison, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Jurnal Puisi dan lain sebagainya.
  • Asep S. Sambodja meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 9 Desember 2010 (pada usia 43 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.