Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Meningkat Naik (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi "Meningkat Naik" karya Slamet Sukirnanto bercerita tentang seseorang yang tiba-tiba disadarkan oleh waktu akan pertambahan usia.
Meningkat Naik

Kini hari meningkat naik
Tiba-tiba waktu menyadarkan: usia! Begitu cepat kehadiran kita
Sebelum kedamaian rumah menanti (tak kunjung tiba)
Langkah terakhir pejalan. Memberat ujung sepatu tua

Seperti ada yang ditolaknya. Silau terbakar cahaya
Sedikitpun enggan beranjak, di sini, enggan berpaling
Lalu disingkirkannya bayangan satu-satunya. Berbagai tanda tanya
Mengaca seluruhnya atau sebagian. Apa bedanya?

Aku berdiri di sini seperti berhadapan sebuah cermin
Aku berdiri di pagi hari, aku menatap matahari
Di luar dari semua, semakin gairah hari ini, semakin gairah
Lama: mempelajari kerut-merut wajah sendiri. Kepingin!

Jakarta, 1972

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi "Meningkat Naik" karya Slamet Sukirnanto menghadirkan renungan eksistensial yang tenang namun tajam. Melalui larik-larik reflektif, penyair mengajak pembaca menatap waktu, usia, dan kesadaran diri yang datang perlahan tetapi tak terelakkan. Puisi ini bergerak dari kesadaran akan perjalanan hidup menuju perenungan yang lebih personal, seolah penyair berdiri di hadapan dirinya sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesadaran akan usia dan perjalanan hidup manusia. Waktu digambarkan sebagai sesuatu yang “meningkat naik”, tidak bisa ditahan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kehadiran manusia di dunia bersifat sementara dan terus bergerak menuju batas akhir.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang tiba-tiba disadarkan oleh waktu akan pertambahan usia. Kesadaran itu muncul di tengah perjalanan hidup yang terasa berat, dilambangkan oleh “ujung sepatu tua” dan langkah terakhir seorang pejalan. Penyair kemudian berhenti, menatap diri sendiri seperti bercermin, mencoba memahami tanda-tanda perubahan yang muncul pada tubuh dan batinnya.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kegelisahan manusia saat berhadapan dengan kenyataan bahwa usia terus bertambah, sementara kedamaian atau tujuan hidup yang diharapkan belum tentu tercapai. Ada penolakan halus terhadap perubahan—terlihat dari sikap “enggan beranjak” dan “enggan berpaling”—namun pada saat yang sama muncul dorongan untuk tetap menatap hidup dengan gairah, meskipun tubuh dan wajah menunjukkan tanda-tanda waktu.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi cenderung kontemplatif dan reflektif. Terdapat nuansa hening, seolah pembaca diajak berhenti sejenak untuk ikut merenungi waktu, diri sendiri, dan perjalanan hidup yang telah dan sedang dilalui.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk berani menghadapi kenyataan usia dan perubahan diri. Waktu tidak bisa dihindari, tetapi kesadaran akan diri sendiri—dengan segala kerut, tanda tanya, dan kegelisahannya—dapat menjadi jalan untuk memahami hidup secara lebih jujur.

Imaji

Puisi ini memunculkan beberapa imaji, antara lain:
  • Imaji visual melalui gambaran “ujung sepatu tua”, “bayangan”, “cermin”, dan “kerut-merut wajah”.
  • Imaji cahaya lewat frasa “silau terbakar cahaya” dan “aku menatap matahari”, yang menegaskan pertemuan antara diri manusia dengan terang kesadaran.
Imaji-imaji tersebut membantu pembaca merasakan suasana batin penyair yang sedang berhadapan langsung dengan waktu dan dirinya sendiri.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, di antaranya:
  • Personifikasi, pada ungkapan “waktu menyadarkan”, seolah waktu memiliki kemampuan untuk berbicara dan menggugah kesadaran manusia.
  • Metafora, seperti “ujung sepatu tua” yang melambangkan usia dan kelelahan perjalanan hidup, serta “cermin” sebagai simbol refleksi diri.
  • Retorika, tampak pada pertanyaan “Mengaca seluruhnya atau sebagian. Apa bedanya?” yang tidak menuntut jawaban, melainkan menegaskan kebimbangan batin.
Puisi "Meningkat Naik" merupakan puisi reflektif yang kuat dalam kesederhanaannya. Slamet Sukirnanto tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi justru mengajak pembaca untuk ikut berdiri di hadapan “cermin” waktu—menyadari usia, menerima perubahan, dan terus menatap hari dengan gairah yang tersisa.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Meningkat Naik
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.