Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Menjelang Keberangkatan (Karya Melki Deni)

Puisi "Menjelang Keberangkatan" karya Melki Deni menggambarkan perasaan, pertimbangan moral, dan spiritualitas dalam momen keberangkatan.
Menjelang Keberangkatan (1)

Menjelang keberangkatan, aku ingin menanggalkan beberapa potongan kisah yang miskin kasih itu di gerbang bandara Soekarno-Hatta.

Dalam ingatan kecilku keberangkatan adalah tujuan. Dan pergi adalah kelahiran kembali menjelang hidup merdeka di negeri yang luas.

Menjelang keberangkatan, aku ingin membersihkan kepala dari beberapa isyarat yang menghambat perjalanan menuju tujuan.

Dalam catatan kecilku tujuan adalah perjalanan kembali. Dan kelahiran kembali adalah rekonstruksi makna “ada bersama”, “kesalingan-setimpal”, “dualitas” sang aku, dan panggilan dari Negeri Matador, negeri pembunuh.

Menjelang Keberangkatan (2)

Menjelang keberangkatan, tidak semua ingatan tentang kita bisa berangkat, selain karena biaya bagasi pesawat terlalu mahal, juga harga rindumu sangat tinggi.

Menjelang keberangkatan, beberapa kisah penuh kasih harus ditinggalkan supaya ketika aku pulang, aku tidak kesepian dan miskin kasih, tetapi kasih mengisahkan kembali kisah yang kaya kasih itu.

Menjelang keberangkatan, aku paham kedamaian adalah akibat dari kasih. Dan sebelum keluar dari pintu rumah, bapak-ibu terkasih mengingatkanku agar tak boleh main-main dengan iman kalau mau aman.

Menjelang Keberangkatan (3)

Misalkan menjelang keberangkatan, 
aku kedatangan Tuhan.

Akankah aku menunda keberangkatan dan menjamu Tuhan dengan segelintir keringat darah dan secuil mimpi?

Menjelang Keberangkatan (4)

Menjelang keberangkatan, aku datangi pikiranmu; mengoyak-oyak ketegaran hatimu, dan mempermainkan rindumu yang tinggi sekali. Matamu mencucur air mata yang mendidih, dan suaramu berat dipermainkan rindu yang dalam.

Adakah kau membiarkanku pergi tanpa dirasuki oleh roh rindumu yang tinggi sekali itu, kecuali air matamu yang dingin diiringi doa keselamatan perjalananku menuju tujuan?

Doamu adalah jalan, cahaya, dan hidup.

Matraman, 22 November 2022

Analisis Puisi:

Puisi "Menjelang Keberangkatan" karya Melki Deni membawa pembaca dalam refleksi mendalam tentang momen keberangkatan. Melalui penggunaan bahasa yang kaya dan metafora yang mendalam, penyair menyampaikan kompleksitas perasaan dan makna di balik proses perpisahan dan perjalanan.

Menjelang Keberangkatan (1)

  • Pergi sebagai Kelahiran Kembali: Penyair memulai dengan gambaran keberangkatan sebagai momen untuk menanggalkan kisah yang miskin kasih di gerbang bandara. Pergi dianggap sebagai kelahiran kembali menuju hidup merdeka di negeri yang luas. Ini menciptakan konsep perjalanan sebagai peluang untuk memulai kembali.
  • Rekonstruksi Makna: Bagian ini menggarisbawahi pentingnya rekonstruksi makna seperti "ada bersama," "kesalingan-setimpal," dan "dualitas." Penyair merenungkan arti keberangkatan dan kelahiran kembali sebagai sebuah proses untuk memahami diri sendiri dan panggilan dari Negeri Matador, yang dijelaskan sebagai negeri pembunuh.

Menjelang Keberangkatan (2)

  • Harga Rindu dan Kisah Kasih: Penyair menyampaikan bahwa tidak semua ingatan tentang kita bisa berangkat, terutama karena harga rindu sangat tinggi. Namun, beberapa kisah penuh kasih harus ditinggalkan agar ketika pulang, kehidupan tidak kesepian dan miskin kasih. Ini mengeksplorasi tema pengorbanan untuk keberangkatan.
  • Arti Kedamaian dan Imanku: Penggunaan kata-kata seperti "kedamaian" dan "iman" menyoroti aspek spiritual dalam perjalanan. Penyair diingatkan oleh orang tuanya untuk tidak main-main dengan iman jika ingin aman. Ini menciptakan dimensi keberangkatan sebagai perjalanan spiritual.

Menjelang Keberangkatan (3)

  • Kedatangan Tuhan: Penyair bermain dengan konsep mendatangkan Tuhan menjelang keberangkatan. Ini menciptakan pertanyaan filosofis tentang apakah akan menunda perjalanan untuk menyambut Tuhan dengan keringat darah dan mimpi, menggambarkan pertimbangan moral dan spiritual.

Menjelang Keberangkatan (4)

  • Mengoyak-oyak Ketegaran dan Rindu: Penyair mendatangi pikiran orang yang dicintainya, menggoyak ketegaran hati dan mempermainkan rindu yang tinggi. Gambaran matamu mencucurkan air mata dan suaramu dipermainkan rindu yang dalam menggambarkan perasaan kehilangan dan perpisahan.
  • Doa sebagai Cahaya dan Hidup: Bagian terakhir mengakhiri puisi dengan doa. Doa dianggap sebagai jalan, cahaya, dan hidup. Ini menciptakan perasaan harapan dan perlindungan dalam perjalanan.
Puisi "Menjelang Keberangkatan" karya Melki Deni menggambarkan perasaan, pertimbangan moral, dan spiritualitas dalam momen keberangkatan. Melalui penggunaan kata-kata yang penuh makna dan gambaran yang kuat, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan makna dalam perjalanan, perpisahan, dan harapan di baliknya.

Puisi Melki Deni
Puisi: Menjelang Keberangkatan
Karya: Melki Deni

Biodata Melki Deni:
  • Melki Deni adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
  • Melki Deni menjuarai beberapa lomba penulisan karya sastra, musikalisasi puisi, dan sayembara karya ilmiah baik lokal maupun tingkat nasional.
  • Buku Antologi Puisi pertamanya berjudul TikTok. Aku Tidak Klik Maka Aku Paceklik (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2022).
  • Saat ini ia tinggal di Madrid, Spanyol.
© Sepenuhnya. All rights reserved.