Puisi Melki Deni

Puisi: Demokrasi (Karya Melki Deni)

Demokrasi Apakah engkau percaya dan masih mengagumi demokrasi, kekasihku? Sebab sesungguhnya demokrasi adalah negara yang dipimpin oleh kita, dari ki…

Puisi: Jalan Menuju Hatimu (Karya Melki Deni)

Jalan Menuju Hatimu Jalan menuju hatimu menjadi tidak pasti justru ketika kamu berpindah-pindah, dan mengaburkan komitmen bersama. Jalan menuju hatim…

Puisi: Bertanya kepada Malaikat Portugal (Karya Melki Deni)

Bertanya kepada Malaikat Portugal Dalam doaku yang tak panjang, aku bertanya kepada María, Malaikat Portugal itu: Mengapa María tak mau menampakkan d…

Puisi: Seolah Engkau Mengerti (Karya Melki Deni)

Seolah Engkau Mengerti Seolah engkau tak pernah mengerti: mengapa Tuhan tidak sanggup menerobos tembokmu yang tinggi sekali, dan meruntuhkan kepalamu…

Puisi: Paradoks Kota (Karya Melki Deni)

Paradoks Kota Waktu masih kanak-kanak kita bermain patgulipat di antara bunga-bunga dan kolong dapur; sebelum alat-alat berat melebarkan jalan-jalan;…

Puisi: Tidur (Karya Melki Deni)

Tidur Kita yang asyik menguap lebar-lebar sama sekali tidak ingat lagi akan beberapa adegan dalam mimpi yang sempat menjadikan kita asing, dari kita.…

Puisi: Buku Harian (Karya Melki Deni)

Buku Harian Seolah-olah kau paham: mengapa waktu tidak bisa berlari mundur?  Supaya orang tidak tidur terlalu lama, Supaya orang tidak segan mengunju…

Puisi: Sinyal (Karya Melki Deni)

Sinyal Tak ada sinyal pertama dalam syair. Rea, kita seperti kepompong bermetamorfosis menuju ciptaan baru pada lembaran bumi ini. Simfoni memperlamb…

Puisi: Cara Membunuh Tuhan (Karya Melki Deni)

Cara Membunuh Tuhan Di taman dekat universitas itu, seorang mahasiswa bertanya kepada dosen: bagaimana cara membunuh Tuhan? Dosen fanatik itu mengutu…

Puisi: Ini Mati Takut Cinta (Karya Melki Deni)

Ini Mati Takut Cinta : TelmaKoisine Kau tak perlu menangis, kalau aku pergi lebih dahulu ke Negeri Seberang, tetapi menangislah mengapa kita tak bers…

Puisi: Buku Membebaskan Kita (Karya Melki Deni)

Buku Membebaskan Kita Sudah kuduga anak-anak yang mengerubungi perpustakaan itu tidak membaca atau meminjam buku. Seperti biasa, mereka menceritakan …

Puisi: Mengenalmu Sebelum Cinta (Karya Melki Deni)

Mengenalmu Sebelum Cinta Aku mengenalmu sebelum cinta melemparkan ego kita ke permukaan pasir putih — menarik batang-batang pohon, dedaunan, bunga-bu…

Puisi: Di Timur Kota (Karya Melki Deni)

Di Timur Kota Lampu-lampu dan gambar-gambar di tembok kota berkaca-kaca, Menyaksikan anak-anak yang entah asal-usulnya, dan entah ke mana tanpa tenag…

Puisi: Solipsisme tentang Surga (Karya Melki Deni)

Solipsisme tentang Surga Kemarin kau hadir dalam mimpi, mengajakku mengarungi samudra luas, di mana kita tidak mungkin tinggal di sana. Ketika kubert…

Puisi: Telat Enam Bulan (Karya Melki Deni)

Telat Enam Bulan (1) Pada dinihari seorang gadis kecil keluar dari sebuah kamar Merayakan kematiannya detik demi detik Menghentikan waktu yang melunc…

Puisi: Cara Ibu Menenun Kami (Karya Melki Deni)

Cara Ibu Menenun Kami : buat Maria Magdalena Fatima Ida Ibu mengisahkan kami terbuat dari helai-helai benang, yang ia jalin bersama Yang Lain. Ia mem…
© Sepenuhnya. All rights reserved.