Puisi Melki Deni

Puisi: Cinta Adalah Perkara Seluruh Usia (Karya Melki Deni)

Cinta Adalah Perkara Seluruh Usia Sejak itu kita paham cinta adalah perkara seluruh usia sejarah kita. Tetapi kau tak pernah bertanya mengapa cinta t…

Puisi: Mengapa Kebenaran Tidak Punya Mulut (Karya Melki Deni)

Mengapa Kebenaran Tidak Punya Mulut Di restoran Hong Kong gadis Amerika Serikat membaca berita para pejabat di Indonesia pamer kekayaan di media sosi…

Puisi: Auman-Mu (Karya Melki Deni)

Auman-Mu Sion terdengar sampai kini, seketika langit dan bumi berguncang-guncang, seketika dunia berlari begitu gesit. Sementara jutaan orang masih m…

Puisi: Kantin Kampus (Karya Melki Deni)

Kantin Kampus Di kantin kampus kita tidak perlu ingat orangtua membanting tulang melupakan makan, melupakan diri, Membiarkan sakit memeluknya, masuk …

Puisi: Sajak-Sajak tentang Seorang Ibu yang Ditelantarkan Anak-anaknya (Karya Melki Deni)

Sajak-Sajak tentang Seorang Ibu yang Ditelantarkan Anak-anaknya (1) Anak-anakku pergi, Menelantarkan dapur, sumur, ruang tamu, telapak kaki, dan doa.…

Puisi: Aku Ingin Selfi di Surga (Karya Melki Deni)

Aku Ingin Selfi di Surga Pada malam yang tenang kusaksikan sahabatku dipanggil Tuhan ke surga. Ia bilang: sabar sebentar, Tuhan. Aku ingin ambil Pons…

Puisi: Kota Sampah (Karya Melki Deni)

Kota Sampah Negara-negara tak lagi diam. Kota-kota metropolis sibuk membangun Kota Sampah di pinggir; menabung semua sampah dan amat berharap teori e…

Puisi: Aku Ingin Kembali (Karya Melki Deni)

Aku Ingin Kembali Aku ingin kembali  ke hati tanpa pintu terkunci yang selalu membuatku ingin pulang, yang memberikanku sayap tuk terbang, yang menga…

Puisi: Dialog Burung dan Bunga pada Musim Semi (Karya Melki Deni)

Dialog Burung dan Bunga pada Musim Semi Di pintu Stasiun Ópera sekelompok burung berkerumun, mencari kalau-kalau ada orang yang menjatuhkan makanan. …

Puisi: Berkaca di Depan Cermin Pagi Hari (Karya Melki Deni)

Berkaca di Depan Cermin Pagi Hari Pada suatu pagi aku menjenguk wajah di depan cermin, aku tak menemukannya di sana, kecuali beberapa wajah artis, pe…

Puisi: Ponsel Pintar (Karya Melki Deni)

Ponsel Pintar Ponsel, yang dijual mahal di toko-toko, Yang dibawa ke mana-mana, Yang menggenggam dunia, sejarah, jarak, garis dan kita Tak bosan-bosa…

Puisi: Torrevieja (Karya Melki Deni)

Torrevieja Kota yang tercatat pada Buku Kehidupan. Manusia hanyalah cinta. Keindahan sepanjang dermaga menghapus curiga kita, dan rindu kita tetap sa…

Puisi: Terkapar Diserbu Angin (Karya Melki Deni)

Terkapar Diserbu Angin Angin dingin berbisik kepada kita yang duduk dekat jendela ruang kelas ini. Angin ingin menguji keseriusan  dan komitmen kita …

Puisi: Cara Supaya Dirindu (Karya Melki Deni)

Cara Supaya Dirindu Malam dianugerahi begitu banyak rindu, dan kita semua wajib ke sana sewaktu angin berjalan pelan di luar. Tetapi kau tidak pernah…
© Sepenuhnya. All rights reserved.