Puisi Melki Deni

Puisi: Tubuhku (Karya Melki Deni)

Tubuhku Lihat tubuhku penuh dengan miniatur Ada yang seperti apartemen, hotel, kampus, perpustakaan, terminal,  bandar, bandara, restoran, kafe, dan …

Puisi: Nanti Kita Ingin Pulang ke Sini (Karya Melki Deni)

Nanti Kita Ingin Pulang ke Sini Barangkali aku akan berjalan sendiri. Barangkali kamu akan berlari dari sini. Yang kamu pahami perjalanan tanpa persi…

Puisi: Di Bandara Doha (Karya Melki Deni)

Di Bandara Doha Di ruang tunggu bandara Doha, tidak ada lagi suku, ras atau agama, kecuali manusia yang berbahasa, dan cinta yang bergelora. Bahasa a…

Puisi: Menjelang Pulang (Karya Melki Deni)

Menjelang Pulang (1) Pagi ini aku bertanya bagi diri sendiri: "Jika aku pulang, apakah hatimu pergi?" Dalam Kitab Sejarah pulang adalah kem…

Puisi: Demokrasi (Karya Melki Deni)

Demokrasi Apakah engkau percaya dan masih mengagumi demokrasi, kekasihku? Sebab sesungguhnya demokrasi adalah negara yang dipimpin oleh kita, dari ki…

Puisi: Jalan Menuju Hatimu (Karya Melki Deni)

Jalan Menuju Hatimu Jalan menuju hatimu menjadi tidak pasti justru ketika kamu berpindah-pindah, dan mengaburkan komitmen bersama. Jalan menuju hatim…

Puisi: Bertanya kepada Malaikat Portugal (Karya Melki Deni)

Bertanya kepada Malaikat Portugal Dalam doaku yang tak panjang, aku bertanya kepada María, Malaikat Portugal itu: Mengapa María tak mau menampakkan d…

Puisi: Seolah Engkau Mengerti (Karya Melki Deni)

Seolah Engkau Mengerti Seolah engkau tak pernah mengerti: mengapa Tuhan tidak sanggup menerobos tembokmu yang tinggi sekali, dan meruntuhkan kepalamu…

Puisi: Paradoks Kota (Karya Melki Deni)

Paradoks Kota Waktu masih kanak-kanak kita bermain patgulipat di antara bunga-bunga dan kolong dapur; sebelum alat-alat berat melebarkan jalan-jalan;…

Puisi: Tidur (Karya Melki Deni)

Tidur Kita yang asyik menguap lebar-lebar sama sekali tidak ingat lagi akan beberapa adegan dalam mimpi yang sempat menjadikan kita asing, dari kita.…

Puisi: Buku Harian (Karya Melki Deni)

Buku Harian Seolah-olah kau paham: mengapa waktu tidak bisa berlari mundur?  Supaya orang tidak tidur terlalu lama, Supaya orang tidak segan mengunju…

Puisi: Sinyal (Karya Melki Deni)

Sinyal Tak ada sinyal pertama dalam syair. Rea, kita seperti kepompong bermetamorfosis menuju ciptaan baru pada lembaran bumi ini. Simfoni memperlamb…

Puisi: Cara Membunuh Tuhan (Karya Melki Deni)

Cara Membunuh Tuhan Di taman dekat universitas itu, seorang mahasiswa bertanya kepada dosen: bagaimana cara membunuh Tuhan? Dosen fanatik itu mengutu…

Puisi: Ini Mati Takut Cinta (Karya Melki Deni)

Ini Mati Takut Cinta : TelmaKoisine Kau tak perlu menangis, kalau aku pergi lebih dahulu ke Negeri Seberang, tetapi menangislah mengapa kita tak bers…

Puisi: Buku Membebaskan Kita (Karya Melki Deni)

Buku Membebaskan Kita Sudah kuduga anak-anak yang mengerubungi perpustakaan itu tidak membaca atau meminjam buku. Seperti biasa, mereka menceritakan …

Puisi: Mengenalmu Sebelum Cinta (Karya Melki Deni)

Mengenalmu Sebelum Cinta Aku mengenalmu sebelum cinta melemparkan ego kita ke permukaan pasir putih — menarik batang-batang pohon, dedaunan, bunga-bu…
© Sepenuhnya. All rights reserved.