Menunggu dan Menunggu
Ada seribu sayap rindu
di balik mantel bersalju ini
dan jauh di sudut kalbu
Ada sejuta lembing dendam
di ruang kaca tahan cuaca
menanti saat menikam
Ada satu dua percakapan
tanpa surat tanpa kawat
bahkan tanpa kata dan isyarat
antara kau dan aku
Dan untuk pertemuan itu
aku harus selalu menunggu
dan menunggu
Kerna kita diceraikan oleh alam
oleh terang, oleh kelam
Sumber: Horison (Juli, 1973)
Analisis Puisi:
Puisi "Menunggu dan Menunggu" karya Surachman R.M. menghadirkan pergulatan batin yang dalam tentang jarak, rindu, dan penantian yang tak kunjung berujung. Melalui bahasa yang simbolik dan penuh metafora, penyair menggambarkan kondisi manusia yang terjebak dalam perasaan menunggu, baik menunggu pertemuan, kejelasan, maupun penyelesaian konflik batin. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang keterpisahan yang bersifat lebih luas dan eksistensial.
Struktur puisi yang berulang pada kata “menunggu” menegaskan intensitas waktu yang terasa panjang dan melelahkan.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah penantian dan keterpisahan. Rindu dan dendam muncul sebagai dua emosi yang berlawanan namun sama-sama terpendam selama proses menunggu. Tema ini juga menyentuh persoalan jarak emosional dan takdir yang memisahkan dua insan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyimpan rindu dan dendam dalam diam. Rindu digambarkan sebagai “seribu sayap”, sementara dendam hadir sebagai “sejuta lembing” yang menunggu saat untuk menikam. Di antara dua tokoh—aku dan kau—terjadi percakapan yang tak pernah benar-benar terucap, tanpa surat, tanpa kata, bahkan tanpa isyarat. Pertemuan yang diharapkan hanya dapat dicapai melalui penantian yang panjang dan berulang.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah gambaran tentang konflik batin yang tak terselesaikan karena keterpisahan. Rindu yang tertahan dan dendam yang terpendam sama-sama membebani jiwa. Puisi ini juga menyiratkan bahwa tidak semua jarak dapat ditempuh oleh kehendak manusia, karena ada kekuatan alam, waktu, dan keadaan yang berada di luar kendali.
Selain itu, puisi ini mencerminkan kondisi manusia yang sering terjebak dalam penantian pasif, menunggu perubahan tanpa kepastian.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, dingin, dan muram. Citra mantel bersalju, ruang kaca, serta ketiadaan kata dan isyarat membangun atmosfer keterasingan dan keterpisahan emosional. Suasana ini diperkuat oleh pengulangan kata “menunggu” yang menekankan rasa lelah dan putus asa yang tertahan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini dapat dimaknai menyampaikan amanat bahwa penantian yang berkepanjangan tanpa keberanian untuk bertindak atau berdamai hanya akan menumpuk rindu dan dendam. Manusia diajak untuk menyadari batas antara kesabaran dan keterjebakan dalam waktu yang stagnan, serta pentingnya menghadapi kenyataan keterpisahan.
Puisi "Menunggu dan Menunggu" karya Surachman R.M. merupakan refleksi mendalam tentang penantian yang diliputi rindu, dendam, dan keterpisahan. Dengan bahasa yang simbolik dan atmosfer yang dingin, puisi ini mengajak pembaca merenungi makna menunggu dalam kehidupan manusia—apakah sebagai bentuk kesetiaan dan harapan, atau justru sebagai penjara batin yang menguras jiwa.
Puisi: Menunggu dan Menunggu
Karya: Surachman R.M.
Biodata Surachman R.M.:
- Surachman R.M. lahir pada tanggal 13 September 1936 di Garut, Jawa Barat.