Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Menunggu (Karya Acep Zamzam Noor)

Puisi "Menunggu" karya Acep Zamzam Noor bercerita tentang seseorang yang menunggu dalam diam, di tengah perubahan alam dan waktu yang terus bergerak.

Menunggu

Buat Inne Ratu Shabarini

Semalam kausapa bintang-bintang
Ketika angin riuh dan musim mengaduh
Tapi paginya masih kaubaca sisa topan
Ujung buritan yang tenggelam

Mungkin seseorang malah diam
Duduk dan menunggumu
Beratus ranting dipatahkan kelam
Beratus dingin menjadi lumut pada bangku

Kebijakan itu bunga, katamu, juga kebajikan
Tapi rindu tak butuh kata-kata
Perahu harus berlabuh, juga kepenatan
Tapi adakah dermaga bagi luka?

Pada pasir hanya kerang, hanya lokan
Sedang seseorang telah duduk beratus jam
Mungkin tetap menunggumu, sampai membeku
Sampai habis semua sumbu pada lampu

1986

Sumber: Menjadi Penyair Lagi (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Menunggu" karya Acep Zamzam Noor menghadirkan pengalaman batin yang lirih dan kontemplatif. Dengan bahasa yang tenang namun sarat simbol, puisi ini mengajak pembaca menyelami makna penantian—bukan sekadar sebagai aktivitas pasif, melainkan sebagai keadaan eksistensial yang menguras waktu, harapan, dan perasaan.

Melalui citraan alam, laut, dan benda-benda yang perlahan aus, penyair menyingkap sisi rapuh manusia ketika berhadapan dengan rindu, luka, dan ketidakpastian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penantian dan kerinduan yang berlangsung lama, melelahkan, dan nyaris tak berujung. Penantian tersebut bukan hanya terhadap kehadiran seseorang, tetapi juga terhadap kepastian, pemulihan, dan makna pulang—baik secara fisik maupun emosional.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menunggu dalam diam, di tengah perubahan alam dan waktu yang terus bergerak. Ada sosok “aku” yang menyapa bintang, membaca tanda-tanda alam, dan ada “seseorang” lain yang duduk menunggu beratus jam di bangku, dihinggapi dingin dan lumut.

Kisah ini menggambarkan dua posisi batin: yang pergi dan yang tinggal, yang berlayar dan yang menunggu di darat, tanpa kepastian apakah pertemuan akan benar-benar terjadi.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa penantian sering kali menyimpan luka yang tak terucap. Rindu tidak memerlukan retorika atau kebijakan yang indah, sebab ia hidup dalam kesunyian dan ketahanan yang sunyi. Pertanyaan “adakah dermaga bagi luka?” menyiratkan keraguan: apakah setiap kelelahan dan penderitaan akan menemukan tempat berlabuh, atau justru dibiarkan mengendap tanpa jawaban.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sendu, sepi, dan melankolis. Dingin, kelam, bangku yang berlumut, serta lampu yang kehabisan sumbu menciptakan atmosfer kesendirian yang panjang. Kesunyian ini tidak dramatis, melainkan lirih dan menekan, seolah waktu berjalan sangat lambat bagi mereka yang menunggu.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa penantian dan rindu menuntut ketulusan serta ketahanan batin. Namun, puisi ini juga menyiratkan refleksi kritis: tidak semua penantian layak dipertahankan jika hanya berujung pada pembekuan perasaan dan kelelahan yang tak mendapat tempat pulang.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan perasaan, antara lain:
  • “kausapa bintang-bintang” yang menghadirkan imaji langit dan harapan.
  • “ujung buritan yang tenggelam” sebagai imaji kegagalan atau sisa perjalanan.
  • “dingin menjadi lumut pada bangku” yang menegaskan lamanya waktu menunggu.
  • “habis semua sumbu pada lampu” sebagai imaji harapan yang perlahan padam.
Imaji-imaji ini bekerja secara halus namun kuat dalam membangun pengalaman emosional pembaca.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, seperti perahu dan dermaga sebagai simbol perjalanan, pulang, dan penyembuhan.
  • Personifikasi, pada musim yang mengaduh dan angin yang riuh.
  • Simbolisme, pada lampu, sumbu, lumut, dan bangku sebagai tanda waktu, harapan, dan keletihan.
Puisi "Menunggu" karya Acep Zamzam Noor adalah refleksi mendalam tentang rindu, luka, dan kesabaran yang diuji oleh waktu. Dengan bahasa yang lembut dan citraan alam yang kuat, puisi ini menghadirkan penantian sebagai pengalaman manusiawi yang sunyi, rapuh, namun penuh makna. Pembaca diajak merenung: sampai kapan menunggu menjadi bentuk kesetiaan, dan kapan ia berubah menjadi pembekuan perasaan yang tak lagi memberi harapan.

Acep Zamzam Noor
Puisi: Menunggu
Karya: Acep Zamzam Noor

Biodata Acep Zamzam Noor:
  • Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
  • Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
© Sepenuhnya. All rights reserved.