Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Menyeberang Jembatan (Karya Frans Nadjira)

Puisi "Menyeberang Jembatan" karya Frans Nadjira bercerita tentang seorang perempuan yang menyeberangi jembatan pada malam hari, dalam hujan dan ...
Menyeberang Jembatan

Denyut nadi, gelisah burung malam
Jembatan terbungkus derai hujan.
Menyeberang  jembatan
Seorang perempuan
terbenam dalam mantelnya.
Kuyup
Di matanya menggayut duka.

Tak seorang pun yang luput
Dari kehendak malam.
Begitu dingin senyap 
Ketika lampu-lampu dipadamkan.
Ia dengar desah burung malam
Dari seberang jembatan.
             
Lengan jembatan membeku
Melengkung 
Memeluk kemudian melepasnya
Berlari di kepak malam.
                   
Denyut nadi, gelisah sungai mengalir
Tempat dimana cinta berawal
Tempat cinta berakhir.
Dia menjadi lengan jembatan
Menjadi ringkik kuda liar.

Di ujung jembatan dia bertanya
Mengapa kutatap langit
Parut luka merayap di tubuhku.
Jembatan bisu Tak ada lagi
Yang menyentuh
Tepi siang dan malam.

Sumber: Jendela Jadikan Sajak (2003)

Analisis Puisi:

Puisi "Menyeberang Jembatan" karya Frans Nadjira menghadirkan suasana malam yang basah, dingin, dan penuh kegelisahan batin. Jembatan tidak sekadar menjadi ruang fisik yang dilalui, melainkan juga simbol peralihan psikologis—antara harapan dan kehilangan, antara awal dan akhir, antara siang dan malam kehidupan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah peralihan dan luka batin. Menyeberang jembatan menjadi lambang proses menghadapi kehilangan, kesedihan, dan pertanyaan eksistensial yang muncul di tengah perjalanan hidup.

Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang menyeberangi jembatan pada malam hari, dalam hujan dan dingin. Ia terbenam dalam mantel, kuyup, dengan duka yang tergantung di matanya. Malam, burung malam, sungai, dan jembatan menjadi saksi perjalanan batinnya—sebuah perjalanan sunyi yang tidak disaksikan siapa pun, kecuali alam dan dirinya sendiri.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah gambaran manusia yang sedang berada di titik rapuh kehidupannya. Jembatan menjadi simbol ruang transisi: tempat cinta pernah berawal dan berakhir, tempat luka disadari, namun juga tempat pertanyaan tentang hidup muncul. Ketika jembatan menjadi “bisu”, itu menandakan tidak adanya jawaban pasti atas penderitaan dan kehilangan yang dialami.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa muram, dingin, dan hening. Hujan, malam, lampu yang dipadamkan, serta kesenyapan yang menyelimuti jembatan menciptakan atmosfer kesepian dan keterasingan yang kuat.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran bahwa setiap manusia harus melewati fase-fase sunyi dalam hidupnya. Luka dan duka adalah bagian dari perjalanan, dan menyeberanginya membutuhkan keberanian, meski tanpa kepastian akan jawaban atau pelipur.

Puisi "Menyeberang Jembatan" adalah puisi yang kuat dalam atmosfer dan simbol. Frans Nadjira berhasil mengolah ruang malam dan jembatan menjadi cermin luka batin manusia—tentang cinta yang berawal dan berakhir, tentang pertanyaan yang tak selalu memiliki jawaban, dan tentang perjalanan sunyi yang harus ditempuh sendiri.

Frans Nadjira
Puisi: Menyeberang Jembatan
Karya: Frans Nadjira

Biodata Frans Nadjira
  1. Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.