Sumber: Jendela Jadikan Sajak (2003)
Analisis Puisi:
Puisi "Menyeberang Jembatan" karya Frans Nadjira menghadirkan suasana malam yang basah, dingin, dan penuh kegelisahan batin. Jembatan tidak sekadar menjadi ruang fisik yang dilalui, melainkan juga simbol peralihan psikologis—antara harapan dan kehilangan, antara awal dan akhir, antara siang dan malam kehidupan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah peralihan dan luka batin. Menyeberang jembatan menjadi lambang proses menghadapi kehilangan, kesedihan, dan pertanyaan eksistensial yang muncul di tengah perjalanan hidup.
Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang menyeberangi jembatan pada malam hari, dalam hujan dan dingin. Ia terbenam dalam mantel, kuyup, dengan duka yang tergantung di matanya. Malam, burung malam, sungai, dan jembatan menjadi saksi perjalanan batinnya—sebuah perjalanan sunyi yang tidak disaksikan siapa pun, kecuali alam dan dirinya sendiri.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah gambaran manusia yang sedang berada di titik rapuh kehidupannya. Jembatan menjadi simbol ruang transisi: tempat cinta pernah berawal dan berakhir, tempat luka disadari, namun juga tempat pertanyaan tentang hidup muncul. Ketika jembatan menjadi “bisu”, itu menandakan tidak adanya jawaban pasti atas penderitaan dan kehilangan yang dialami.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa muram, dingin, dan hening. Hujan, malam, lampu yang dipadamkan, serta kesenyapan yang menyelimuti jembatan menciptakan atmosfer kesepian dan keterasingan yang kuat.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran bahwa setiap manusia harus melewati fase-fase sunyi dalam hidupnya. Luka dan duka adalah bagian dari perjalanan, dan menyeberanginya membutuhkan keberanian, meski tanpa kepastian akan jawaban atau pelipur.
Puisi "Menyeberang Jembatan" adalah puisi yang kuat dalam atmosfer dan simbol. Frans Nadjira berhasil mengolah ruang malam dan jembatan menjadi cermin luka batin manusia—tentang cinta yang berawal dan berakhir, tentang pertanyaan yang tak selalu memiliki jawaban, dan tentang perjalanan sunyi yang harus ditempuh sendiri.
Karya: Frans Nadjira
Biodata Frans Nadjira
- Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.