Analisis Puisi:
Puisi “Meulaboh” merupakan ungkapan emosional yang kuat tentang keterikatan batin antara manusia dan tanah kelahirannya. Melalui bahasa yang padat, simbolik, dan bernada lirih sekaligus tegas, Mustiar AR menghadirkan Meulaboh bukan sekadar sebagai nama kota, melainkan sebagai sosok ibu yang melahirkan, menyusui, dan memberi kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta dan perlindungan terhadap tanah kelahiran. Puisi ini juga memuat tema solidaritas, kepedulian kolektif, serta perlawanan terhadap pihak-pihak yang merusak atau mengeksploitasi tanah dan identitas bersama.
Puisi ini bercerita tentang hubungan emosional seseorang dengan Meulaboh yang dipersonifikasikan sebagai seorang ibu. Ombak dan pantai menjadi bagian dari tubuh sang ibu, tempat cinta “disematkan”. Aku, kau, dan kita diposisikan sebagai anak-anak yang berasal dari rahim yang sama, sehingga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan melindunginya dari gangguan serta eksploitasi.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap pihak luar—atau bahkan pihak internal—yang merusak, mengeksploitasi, atau “memeras” tanah kelahiran demi kepentingan tertentu. Ungkapan “memeras puting susunya” merupakan simbol eksploitasi yang kejam, seolah-olah ibu diperas habis tanpa empati. Puisi ini menegaskan bahwa merusak tanah kelahiran sama dengan menyakiti ibu sendiri.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa penuh haru, khidmat, dan membara. Ada kelembutan cinta, tetapi juga kemarahan yang terpendam dan kegelisahan akan nasib Meulaboh jika dibiarkan terus diusik.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menjaga, membela, dan mencintai tanah kelahiran secara aktif, bukan hanya secara simbolik. Puisi ini menekankan pentingnya kesadaran kolektif (“aku, kau, kita”) untuk tidak tinggal diam ketika tanah sendiri dirusak atau dieksploitasi.
Puisi “Meulaboh” adalah puisi yang sederhana secara bentuk, namun kuat secara makna. Mustiar AR berhasil menghadirkan tanah kelahiran sebagai ibu yang harus dijaga martabat dan kehidupannya. Puisi ini tidak hanya menjadi ungkapan cinta, tetapi juga seruan moral agar manusia tidak menjadi anak yang tega melukai ibunya sendiri.
Karya: Mustiar AR