Sumber: Lampung Post (15 Februari 2009)
Analisis Puisi:
Puisi “Mimpi Pengantin” karya Fitri Yani menghadirkan kisah alegoris tentang cinta, kelahiran, dan perpisahan melalui simbol-simbol alam yang lembut namun menyimpan kegelisahan eksistensial. Dengan memanfaatkan citraan burung merpati, telur, cahaya, dan suara binatang, puisi ini membangun dunia mimpi yang indah sekaligus ambigu—antara kehangatan asmara dan kesunyian setelahnya.
Puisi ini tidak bergerak secara realistik, melainkan seperti mimpi yang penuh lambang dan pertanyaan, sesuai dengan judulnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta dan kelahiran yang disertai ketidakpastian serta perpisahan. Cinta digambarkan sebagai pengalaman yang memabukkan dan indah, namun tidak menetap; sementara kelahiran hadir bersama pertanyaan tentang identitas dan asal-usul.
Tema lain yang mengemuka adalah keberlanjutan hidup, siklus generasi, dan kegelisahan makhluk baru yang akan memasuki dunia.
Puisi ini bercerita tentang sepasang merpati yang tengah mabuk asmara di langit penuh cahaya. Bulu-bulu putih mereka berguguran seperti hujan salju dan menjelma menjadi berbagai suara binatang di sekitar telaga bening.
Kedua merpati kemudian turun ke sisi telaga untuk meletakkan telur-telur mereka, lalu pergi sebelum lenyap sepenuhnya. Dari dalam telur-telur itu terdengar suara-suara anak yang mempertanyakan asal-usul dan identitas mereka, hingga akhirnya cangkang mulai retak sebagai tanda kelahiran yang tak terelakkan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta dan pernikahan (pengantin) sering kali menjadi awal kehidupan baru, tetapi tidak menjamin kehadiran yang terus-menerus. Sepasang merpati dapat dimaknai sebagai simbol orang tua atau pasangan yang menyatu dalam cinta, namun kemudian harus berpisah—baik secara fisik maupun simbolik—dari hasil cintanya.
Pertanyaan “apakah kita satu keluarga?” dan “rahim kita berbeda” menyiratkan kegelisahan tentang identitas, perbedaan, dan keterasingan yang mungkin dialami manusia sejak lahir. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kehidupan dimulai dalam ketidakpastian dan pencarian jati diri.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi bergerak dari lirih, magis, dan romantis menuju hening dan reflektif. Keindahan cahaya dan asmara merpati memberi nuansa mimpi yang hangat, namun suasana berubah menjadi lebih sunyi dan sedikit getir ketika perpisahan dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial muncul dari dalam telur.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa cinta dan kelahiran adalah anugerah yang tidak lepas dari perpisahan dan tanggung jawab. Kehidupan baru harus belajar terbang dengan “bulu-bulu putihnya sendiri”, tanpa selalu bergantung pada orang tua atau asal-usulnya.
Puisi ini juga menyampaikan pesan tentang penerimaan perbedaan dan keberanian untuk memasuki dunia meskipun penuh ketidakpastian.
Puisi “Mimpi Pengantin” karya Fitri Yani adalah kisah puitik tentang cinta yang melahirkan kehidupan sekaligus perpisahan. Dengan bahasa simbolik dan imaji yang kuat, puisi ini mengajak pembaca merenungi bahwa sejak awal, kehidupan manusia telah dibentuk oleh mimpi, cinta, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu memiliki jawaban pasti.
Karya: Fitri Yani
Biodata Fitri Yani:
- Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
