Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Mimpi sang Pujangga (Karya Rhey Fandra Yoga Simbolon)

Puisi "Mimpi sang Pujangga" karya Rhey Fandra Yoga Simbolon bercerita tentang mimpi para pencipta kata—penyair, pujangga, dan penulis—yang ...

Mimpi sang Pujangga

Seorang Penyair bermimpi,
Tempat di mana pertama kali hujan turun,
Setelah kemarau menggempur bumi,
Dan butiran air jatuh membasuh gurun.

Seorang Pujangga bermimpi,
Tempat di mana pertama kali tumbuh bunga,
Setelah tanah tandus menjadi subur kembali,
Dan benih terkubur tumbuh dan berbunga.

Seorang Penulis bermimpi,
Tempat di mana pertama kali hutan berakar,
Setelah gunung api menyembur kemarahan hati,
Dan hewan-hewan berlari dari lahar.

Aku selalu bermimpi,
Segala hal yang tertakdir,
Tentang di mana pertama kali,
Segala kelahiran terjadi.

Tapi, aku tak pernah merenungi,
Kapan hal-hal itu berakhir,
Kapan segalanya akan mati,
Dan daun terputus dari akar.

Dengan menulis di agenda dan mengawali,
Akhirnya, aku akan mengakhiri puisi.

Analisis Puisi:

Puisi Mimpi sang Pujangga karya Rhey Fandra Yoga Simbolon menampilkan perenungan tentang kelahiran, harapan, dan kesadaran akan kefanaan. Dengan menggunakan rangkaian gambaran alam yang mengalami pemulihan setelah kehancuran, penyair mengajak pembaca memasuki ruang mimpi para pencipta kata—penyair, pujangga, dan penulis—yang selalu memusatkan perhatian pada awal mula kehidupan.

Tema

Tema puisi ini adalah harapan akan kelahiran dan pembaruan, serta kesadaran akan akhir kehidupan. Mimpi menjadi simbol dorongan kreatif yang terus mencari awal mula, sementara penutup puisi menghadirkan kesadaran tentang keterbatasan dan kematian.

Puisi ini bercerita tentang mimpi para pencipta kata—penyair, pujangga, dan penulis—yang membayangkan tempat-tempat kelahiran pertama setelah kehancuran: hujan pertama setelah kemarau, bunga pertama setelah tanah tandus, dan hutan pertama setelah letusan gunung api. Tokoh “aku” mengidentifikasi diri dengan para pemimpi itu, tetapi kemudian menyadari bahwa selama ini ia hanya merenungi awal, bukan akhir.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa manusia—terutama para pencipta—cenderung memuja awal mula, kelahiran, dan harapan, namun sering menghindari perenungan tentang akhir, kehilangan, dan kematian. Penutup puisi menyiratkan bahwa menulis adalah cara untuk menandai dan mengakhiri sekaligus: mencatat hidup sekaligus menerima kefanaan.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana kontemplatif dan reflektif. Pada bagian awal terasa optimisme dan kekaguman terhadap proses pemulihan alam, sementara bagian akhir menghadirkan nuansa tenang namun getir ketika kesadaran akan akhir kehidupan muncul.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya keseimbangan antara merayakan kelahiran dan menerima akhir. Harapan dan mimpi perlu disertai kesadaran akan batas, karena dari sanalah kebijaksanaan dan keutuhan makna hidup terbentuk.

Puisi "Mimpi sang Pujangga" karya Rhey Fandra Yoga Simbolon memperlihatkan pergulatan batin seorang pencipta yang terjebak pada kekaguman terhadap awal, hingga akhirnya menyadari pentingnya memahami akhir. Dengan bahasa yang jernih dan imaji alam yang kuat, puisi ini mengajak pembaca merenungi siklus hidup secara utuh—dari kelahiran hingga kepergian.

Rhey Fandra Yoga Simbolon
Puisi: Mimpi sang Pujangga
Karya: Rhey Fandra Yoga Simbolon

Biodata Rhey Fandra Yoga Simbolon:
  • Rhey Fandra Yoga Simbolon saat ini aktif sebagai pelajar SMA.
© Sepenuhnya. All rights reserved.