Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Mimpiku Bersama Waktu (Karya F. Rahardi)

Puisi “Mimpiku Bersama Waktu” karya F. Rahardi bercerita tentang seseorang yang mengalami kondisi keterampasan total: tubuhnya dibuat seperti bayi—
Mimpiku Bersama Waktu

aku tak tahu persis posisiku waktu itu
mencuat di atas dipan atau
telentang di kolong ranjang
atau – apapun, di mana letak kasih sayangmu
yang selama ini populer jadi slogan
bagi semua lapisan masyarakat
dari menteri sampai kere
dari pendeta sampai lonte
aku – itu “individualita” cemohmu
tapi: tubuhku yang jadi bayi lagi
percuma ditutup-tutupi
benar!
kutandaskan lagi : benar! kendati
di mana kini aku berada
tak tahu
di waktu lalu
tak tahu
di waktu kini
tak tahu
di waktu nanti
tak tahu
bukan lantaran sudah tua
lalu jadi pelupa
atau berlagak linglung
tidak!
otakku masih normal
jangan panggil dokter jiwa
percayalah
otakku masih waras
aku sendiri malah jadi takut
sebab setelah tubuhku kautelanjangi
lalu kau sulap jadi bayi lagi
mataku kaubikin buta
kupingku kaubikin tuli
mulutku kaubikin bisu
tidak sedikit demi sedikit
mulur bersama waktu tapi
bagai petir yang menyambar
tiba-tiba
bagai tali yang terputus
ingatanku kautiadakan
tapi cita rasaku kaulipat-gandakan
inilah yang tak terkirakan menyiksaku
rasa takut, marah, duka, lapar dan haus
kauaduk jadi satu
bulat dan menggelinding
menjauh dan mendekat
menyendal-nyendal syarafku
panas-dingin
menusuk-nusuk
mengiris-iris
melemparkan diriku setinggi langit
lalu membantingku dan menginjak-injak
nyeri dan sakit
tapi apa daya
aku meronta sejadi-jadinya
tapi apa daya
tubuhku jadi bayi lagi
lemes dan tak bertenaga sama sekali
wahai …
ketakadilan telah menimpa diriku
kelaliman telah merundungku
satu kekejaman telah menyiksaku
di satu tempat
di ruang kosong
dan sedikit-sedikit masih kurasakan
waktu menyeretku pelahan
tanpa kutahu
di luar batas kemampuanku
citarasaku yang tajam
masih bisa merasakan
betapa kautelah menggilasku lumat-lumat
bersama waktu yang merambat
aku terus bergolak
aku terus berontak
sambil menanti
satu keluarbiasaan
yang bisa menolongku
sambil merancang-rancang satu perangkap
tipu daya
bila kaulengah
rasakan pembalasanku
rasakan balas dendamku
siksalah diriku terus-terusan
buatlah diriku jadi bayi
tak berdaya
lemas
buatlah mataku buta
buatlah kupingku tuli
buatlah lidahku kelu
dan lenyapkanlah ingatanku
aku menyerah
sudahlah
aku kalah
buatlah diriku mulur
bersama waktu
lama-lama jadi biasa
dan dengan citarasaku sendiri
segala siksaanmu teratasi
kurasakan diriku jadi lincah
melenting ke sana, melenting ke mari
dan – kurasakan angin sejuk meniupku
lalu mulutku nyanyi kecil-kecil
lincah dan riang
nyanyikan diriku sendiri
dan tiba-tiba aku bisa melihat diriku sendiri
tergeletak di satu tempat
di ruang kosong
hitam dan putih
dan tiba-tiba aku bisa dengar nyanyianku sendiri
lincah dan riang
sayup-sayup dan lembut
silih berganti
menjauh dan mendekat
menggembirakan sekali
tapi kau jangan buru-buru pingin tahu
kegembiraan dan kesenangan ini
jerih payahku sendiri
dalam diriku sendiri
buatku sendiri
tanpa kaubisa tahu
serta ikut menikmati
bukankah kau telah menyiksaku selama ini?
dan sampai saat ini
aku tetap merasa
belum kaubebaskan dari siksamu
aku masih merasa buta dan tuli
aku masih merasa bisu dan kelu
dan tak satu pun kuingat lagi
aku hanya bisa merasa semua itu
masih melekat padaku
maka kegembiraan ini adalah
milikku sendiri
hasil jerih payahku sendiri
tanpa belas kasihanmu
tanpa campur tanganmu
aku sudah bebas dari siksamu
aku sudah tegak berdiri
tanpa ngemis atau melawanmu
sambil nyanyi dan memandangku sendiri
megah dan berwibawa
di satu tempat
di ruang kosong
hitam dan putih
dan aku terus nyanyi
laju bersama
sang waktu.

Amb. 20 Desember 1970

Sumber: Horison (Agustus, 1975)

Analisis Puisi:

Puisi “Mimpiku Bersama Waktu” karya F. Rahardi merupakan puisi panjang bernada protes eksistensial yang kuat. Melalui monolog batin tokoh "aku", penyair menghadirkan pergulatan antara manusia, kekuasaan yang menindas, dan waktu sebagai ruang sekaligus alat penyiksaan. Puisi ini bergerak dari ketidakberdayaan total menuju kesadaran dan pembebasan diri, meskipun pembebasan itu bersifat personal dan sunyi.

Bahasa yang digunakan kasar, lugas, repetitif, dan penuh ledakan emosi, mencerminkan pengalaman batin yang ekstrem serta proses panjang menghadapi penindasan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penindasan terhadap kemanusiaan dan perjuangan batin manusia untuk merebut kembali martabat dirinya melalui kesadaran. Waktu menjadi elemen penting dalam tema ini: bukan sekadar penanda kronologis, melainkan kekuatan yang menyeret, melumpuhkan, sekaligus akhirnya dilampaui.

Tema lain yang mengemuka adalah kehilangan identitas, ketidakadilan, kekerasan struktural, dan proses pembebasan diri yang lahir dari penderitaan panjang.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami kondisi keterampasan total: tubuhnya dibuat seperti bayi—tak berdaya, buta, tuli, bisu, dan kehilangan ingatan. Ia tidak tahu posisinya, tidak tahu waktu lalu, kini, maupun nanti. Ia disiksa secara fisik dan psikis oleh “kau” yang tidak pernah disebutkan secara jelas, tetapi terasa hadir sebagai sosok penindas atau kekuasaan anonim.

Di tengah penyiksaan itu, tokoh "aku" memberontak, marah, dan menyimpan dendam. Namun perlahan, melalui citarasa dan kesadaran batin, ia menemukan cara bertahan dan akhirnya berdamai dengan waktu. Pada bagian akhir, ia mencapai tahap pembebasan: mampu melihat dan mendengar dirinya sendiri, berdiri tegak, dan berjalan bersama waktu tanpa bergantung pada belas kasihan penindas.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap sistem atau kekuasaan yang mereduksi manusia menjadi makhluk tak berdaya, bahkan seperti bayi yang kehilangan hak atas tubuh dan ingatannya sendiri. “Bayi” di sini bukan lambang kepolosan, melainkan simbol ketelanjangan eksistensial dan ketidakberdayaan mutlak.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa pembebasan sejati tidak selalu datang dari luar, melainkan dari proses batin yang panjang, menyakitkan, dan sunyi. Kesadaran diri menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan dan memulihkan martabat manusia di tengah penindasan.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi ini sangat intens, menekan, dan gelap pada bagian awal dan tengah. Pembaca dibawa masuk ke pengalaman ketakutan, kemarahan, nyeri, dan keputusasaan yang berlapis-lapis. Namun menjelang akhir, suasana berubah menjadi lebih tenang, reflektif, bahkan lirih dan riang, menandai lahirnya kebebasan batin meski luka belum sepenuhnya hilang.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa martabat manusia tidak dapat sepenuhnya dimusnahkan, bahkan oleh penindasan yang paling kejam sekalipun. Selama kesadaran batin masih hidup, manusia masih memiliki ruang untuk bangkit.

Puisi ini juga menyampaikan pesan tentang kemandirian eksistensial: kegembiraan, pemulihan, dan kebebasan sejati adalah hasil jerih payah diri sendiri, bukan hadiah dari kekuasaan yang sebelumnya menyiksa.

Puisi “Mimpiku Bersama Waktu” karya F. Rahardi adalah kesaksian puitik tentang penderitaan, perlawanan, dan pembebasan batin manusia. Dengan bahasa yang keras dan emosional, puisi ini tidak hanya merekam luka, tetapi juga menunjukkan bagaimana kesadaran mampu mengubah penderitaan menjadi kekuatan. Pada akhirnya, tokoh "aku" tidak mengalah pada penindas, melainkan berdamai dengan waktu dan menemukan kebebasan dalam dirinya sendiri—sunyi, mandiri, dan berdaulat.

Floribertus Rahardi
Puisi: Mimpiku Bersama Waktu
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.