Analisis Puisi:
Puisi “Musim Hujan” karya Agit Yogi Subandi menghadirkan pengalaman batin yang intim melalui lanskap alam dan perenungan waktu. Hujan tidak hadir sebagai peristiwa cuaca semata, melainkan sebagai ruang kesadaran yang membuka ingatan, kesementaraan, dan keterbatasan manusia dalam memaknai masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah refleksi waktu dan kesadaran eksistensial manusia. Musim hujan menjadi latar simbolik untuk menimbang jarak dan kedekatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang menyatu dengan suasana alam: hijau, bau rumput, kegelapan, dan cahaya kunang-kunang. Dari pengalaman inderawi tersebut, kesadaran bergerak menuju perenungan waktu—bagaimana masa lalu terasa luas dan dekat, masa kini sempit dan singkat, sementara masa depan datang tiba-tiba dan mengejutkan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa manusia sering hidup lebih lama dalam ingatan dan bayangan masa lalu, sementara masa kini terasa rapuh dan cepat berlalu. Masa depan digambarkan sebagai sesuatu yang tak terduga, mampu membuyarkan kenyamanan dan mimpi yang sedang dinikmati.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung hening, melankolis, dan kontemplatif. Nuansa gelap yang diterangi kunang-kunang menciptakan kesan sunyi namun penuh kesadaran batin, khas suasana hujan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan waktu dan pentingnya kesadaran pada momen kini. Meski masa lalu luas dan masa depan tak terelakkan, manusia perlu hadir sepenuhnya dalam tarikan napas yang singkat bernama masa kini.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji sensorik, terutama visual dan penciuman. Imaji visual tampak pada “hijau memantul di bajuku”, “seruang gelap”, dan “kunang-kunang”, sementara imaji penciuman hadir lewat “bau rumput menguar samar”. Imaji waktu diwujudkan secara konkret melalui ruang, napas, dan tetes air di mata.
Puisi “Musim Hujan” karya Agit Yogi Subandi menegaskan bahwa puisi dapat menjadi medium refleksi waktu yang subtil namun mendalam. Melalui bahasa yang tenang dan imaji alam yang puitis, penyair mengajak pembaca merenungi rapuhnya masa kini, luasnya masa lalu, dan kejutan masa depan yang selalu datang tanpa permisi.
Karya: Agit Yogi Subandi