Puisi: Musim Penghujan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Musim Penghujan" karya Gunoto Saparie bercerita tentang seseorang yang berada di tengah malam pada musim hujan, tenggelam dalam kesunyian ...
Musim Penghujan

di tengah musim penghujan
di larut malam gelap semesta
apakah yang kucari selain cahaya
apakah yang kudamba kecuali kesucian
 
sepi pun meraja di dalam dada
tempias air mengaburkan kaca jendela
saat kuhitung tahun-tahunku sia-sia
hasrat insan terbelenggu kenangan lama

2022

Analisis Puisi:

Puisi "Musim Penghujan" karya Gunoto Saparie menghadirkan perenungan yang sunyi dan mendalam. Dengan latar malam, hujan, dan kesepian, puisi ini bergerak sebagai monolog batin seseorang yang tengah mempertanyakan makna hidup, waktu, dan kesucian diri. Larik-lariknya tenang, tetapi sarat kegelisahan eksistensial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna hidup di tengah kesunyian dan penyesalan. Musim penghujan tidak hanya berfungsi sebagai latar alam, tetapi juga sebagai simbol kondisi batin yang penuh renungan, kebasahan kenangan, dan kesadaran spiritual.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di tengah malam pada musim hujan, tenggelam dalam kesunyian dan permenungan. Dalam suasana gelap dan sepi, ia mempertanyakan apa yang sebenarnya ia cari dan dambakan—yang pada akhirnya mengerucut pada cahaya dan kesucian. Di saat yang sama, ia menoleh ke masa lalu, menghitung tahun-tahun yang terasa sia-sia dan hasrat hidup yang terbelenggu oleh kenangan lama.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kegelisahan manusia saat berhadapan dengan waktu dan dirinya sendiri. Pertanyaan tentang cahaya dan kesucian menyiratkan pencarian spiritual atau moral, seolah penyair sedang menilai ulang perjalanan hidupnya. Kenangan lama yang membelenggu hasrat insan menunjukkan betapa masa lalu dapat menjadi beban yang menghalangi kebebasan dan pembaruan diri.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, hening, dan kontemplatif. Malam gelap, hujan, dan sepi di dada menciptakan atmosfer kesendirian yang pekat, sekaligus memberi ruang bagi refleksi batin yang jujur dan mendalam.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk berani menghadapi diri sendiri dalam kesunyian. Puisi ini mengingatkan bahwa manusia perlu merenungi perjalanan hidupnya, melepaskan belenggu kenangan lama, dan kembali pada nilai-nilai cahaya serta kesucian agar dapat melangkah lebih jujur ke masa depan.

Puisi "Musim Penghujan" karya Gunoto Saparie merupakan puisi perenungan yang tenang namun menghunjam. Ia memanfaatkan suasana alam untuk memotret kegelisahan batin manusia yang sedang menilai ulang hidupnya—antara penyesalan masa lalu dan harapan akan cahaya serta kesucian di masa depan.

Gunoto Saparie
Puisi: Musim Penghujan
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.