Nyanyi Malam Sepi
bagi: Paul Harris
tak ada bulan. Malam pekat
Tak ada tanda-tanda. Hanya asap sigaret
Dan kudengar
sayap-sayap kelelawar
Mengusik pohon-pohon mempelam
Tak ada kabar-kabar
hujan menghalau kemarau
Hanya angin. Hilir mudik
Berdesau
ada bunga-bunga kantil
Bercerita pada kelam
ada sepi. Merangkul lampu-lampu jalan
ada risau
Menikam di kamar
Potret yang bisu. Diasingkan waktu
Hampir hilang
wajah yang dahulu megah
Hanya pigura yang keras
Tidak lelah
menjaga riwayat
Menampung rindu
1972
Sumber: Horison (Maret, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi “Nyanyi Malam Sepi” karya Yunus Mukri Adi menghadirkan pengalaman malam sebagai ruang refleksi yang sunyi dan penuh perenungan. Penyair menggunakan bahasa yang tenang namun kaya citraan untuk menampilkan malam sebagai medium perasaan, ingatan, dan kerinduan.
Puisi ini bergerak dari pengamatan terhadap alam malam hingga refleksi personal tentang waktu, kesepian, dan kenangan yang tersimpan dalam potret atau pigura. Kekuatan puisi ini terletak pada kemampuan menciptakan atmosfer yang hening namun sarat emosi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesepian dan kerinduan dalam keheningan malam. Malam dihadirkan sebagai simbol ruang introspeksi, di mana perasaan yang tertahan—seperti risau, rindu, dan kenangan—muncul ke permukaan.
Tema tambahan yang dapat ditangkap adalah hubungan manusia dengan waktu dan ingatan, serta bagaimana kenangan yang tersimpan dalam “potret yang bisu” tetap hidup meski fisiknya diasingkan oleh waktu.
Puisi ini bercerita tentang malam yang sunyi dan aktivitas alam di sekitarnya, mulai dari asap rokok, sayap kelelawar, pohon mempelam, hujan, hingga angin yang berdesau. Di tengah suasana tersebut, muncul unsur humanis: bunga-bunga kantil seolah “bercerita pada kelam”, dan lampu-lampu jalan serta kamar menjadi saksi sepi dari risau dan kenangan.
Selain itu, puisi ini juga bercerita tentang kenangan yang tersimpan dalam potret, wajah yang dahulu megah kini hanya hadir melalui pigura, yang tetap menampung rindu dan menjaga riwayat yang hampir hilang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah malam sebagai medium introspeksi dan rekonsiliasi dengan waktu yang berlalu. Kesepian bukan hanya fisik, tetapi juga batin, di mana ingatan dan kerinduan menjadi teman yang setia.
Puisi ini menyiratkan bahwa kenangan dan rindu tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika waktu dan jarak mencoba memisahkan. Pigura atau potret menjadi simbol ketahanan memori dalam menghadapi kemelut kehidupan.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan suasana sunyi, melankolis, dan kontemplatif. Malam digambarkan pekat, tanpa bulan, dengan angin yang berdesau dan hujan yang menahan kemarau, menciptakan nuansa hening namun penuh intensitas. Suasana ini diperkuat oleh kata-kata seperti “risau menikam di kamar” dan “diasingkan waktu”, yang menekankan nuansa sepi dan introspektif.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya menerima kesepian dan kenangan sebagai bagian dari pengalaman hidup. Puisi ini juga mengingatkan pembaca bahwa rindu dan ingatan adalah elemen yang memberi makna pada hidup, meski bentuk fisik atau momen tertentu telah hilang.
Puisi “Nyanyi Malam Sepi” karya Yunus Mukri Adi adalah karya reflektif yang menegaskan malam sebagai medium introspeksi dan pengingat akan kenangan. Dengan citraan alam yang rinci, suasana yang hening, dan simbol kenangan melalui potret, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kesepian, rindu, dan waktu yang terus berjalan.
Puisi ini menunjukkan bahwa malam bukan sekadar gelap, tetapi ruang yang menyimpan cerita, risau, dan rindu yang tak lekang oleh waktu.
Puisi: Nyanyi Malam Sepi
Karya: Yunus Mukri Adi
Biodata Yunus Mukri Adi:
- Yunus Mukri Adi lahir pada tanggal 26 Januari 1941.