Puisi: Nyanyikanlah Sebuah Lagu, Harvey (Karya Leon Agusta)

Puisi “Nyanyikanlah Sebuah Lagu, Harvey” karya Leon Agusta bercerita tentang Amboina yang diliputi bayang-bayang kekerasan dan pertikaian. Gambaran ..
Nyanyikanlah Sebuah Lagu, Harvey*

Bayangan hitam berkelebat, di Amboina
Salib memerah, Golgota, betapa jauhnya

Bagi siapa doa
Dalam sengketa?

Dengan nama Allah, maka kasih penuh ampunan
Dengan nama Allah, maha kasih berlimpah sayang:
Kembalikan damai pada jantung kami, darah,
dan nafas kami, yang sesak dalam kepulan amarah

Tampak marah, cahaya merah tumpah dalam senja
Kaki langit menjauh, raib melintas perbatasan siang

Nyanyikanlah sebuah lagu, Harvey
senggang sejenak, lagi sejenak lagi, ah teruskan
Terimalah malam, terimalah Tuhan, yang selalu
Membujuk agar terus berjalan dalam nyanyian
Dalam paduan suara dukamu, oh Amboina

Senja seperti terbakar tampak gaduh
Terjerembab dalam dukamu Amboina
Tersungkur dalam rapuhnya ajal, pesta dajal
Sunyi bergegas di jalan-jalan, lorong-lorong
Hitam hutan meranggas, juga bakau
Burung-burung meracau di pasir

Mayat menjadi arca, melahirkan tanda
Lihatlah, dalam kaca juga terbaca
Kenapa Tuhan, ya kenapa
Adakah kemenangan menjanjikan kesucian
Bagi amarah tangan penggenggam pedang

Nyanyikanlah sebuah lagu, Harvey
Bagi Amboina, dalam duka cintanya

1999

Sumber: Gendang Pengembara (2012)

Catatan:
Harvey Malaiholo, penyanyi asal Maluku.

Analisis Puisi:

Puisi “Nyanyikanlah Sebuah Lagu, Harvey” karya Leon Agusta merupakan sajak elegi sekaligus doa bagi Amboina (Ambon), tanah Maluku yang dilanda luka sejarah dan kekerasan. Dengan menyapa Harvey Malaiholo, penyanyi asal Maluku, puisi ini menjadikan musik dan nyanyian sebagai medium penghiburan, perlawanan, dan harapan di tengah konflik dan duka kolektif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah duka kemanusiaan akibat konflik dan kerinduan akan perdamaian. Di dalamnya juga hadir tema agama, cinta tanah air, serta kekuatan seni sebagai penawar luka sosial.

Puisi ini bercerita tentang Amboina yang diliputi bayang-bayang kekerasan dan pertikaian. Gambaran salib memerah, cahaya merah di senja, mayat menjadi arca, serta hutan dan bakau yang meranggas menegaskan situasi genting dan mencekam.

Di tengah suasana itu, penyair memanggil Harvey untuk menyanyikan lagu—bukan sebagai hiburan semata, melainkan sebagai seruan agar manusia kembali pada Tuhan, pada kasih, dan pada kemanusiaan yang terluka.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kekerasan yang dibungkus nama agama justru meniadakan nilai-nilai ilahi itu sendiri. Pertanyaan “Bagi siapa doa / Dalam sengketa?” dan “Adakah kemenangan menjanjikan kesucian?” menjadi kritik tajam terhadap konflik yang mengatasnamakan iman.

Nyanyian Harvey dimaknai sebagai simbol suara nurani dan kebudayaan Maluku yang mengajak manusia berhenti sejenak dari amarah dan kembali mendengarkan suara kemanusiaan.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa muram, getir, dan penuh kegelisahan, dengan nuansa duka mendalam. Namun, di sela-selanya muncul nada harap yang lirih melalui ajakan bernyanyi, seolah musik menjadi cahaya kecil di tengah kegelapan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa perdamaian hanya dapat lahir dari kasih, bukan dari amarah atau kekerasan. Seni—dalam hal ini nyanyian—memiliki peran penting sebagai jembatan batin yang menyatukan manusia, mengingatkan kembali pada Tuhan, dan menolak kebencian.

Puisi “Nyanyikanlah Sebuah Lagu, Harvey” adalah puisi ratapan sekaligus harapan. Leon Agusta menghadirkan musik sebagai doa kemanusiaan, mengajak Amboina—dan pembaca—untuk kembali pada cinta, damai, dan Tuhan di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Leon Agusta
Puisi: Nyanyikanlah Sebuah Lagu, Harvey
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.