Analisis Puisi:
Puisi "Pada Kabut" karya Gunoto Saparie menampilkan nuansa lirih dan reflektif yang kuat. Kabut dijadikan medium simbolik untuk menghadirkan kenangan, kerinduan, dan perasaan kehilangan yang samar namun mendalam. Melalui citraan alam dan suasana malam, penyair mengajak pembaca masuk ke ruang batin yang sunyi dan penuh renungan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan ingatan yang samar. Kabut menjadi lambang perasaan yang tidak sepenuhnya jelas, namun terus hadir dan membayangi kesadaran penyair.
Puisi ini bercerita tentang sosok “aku” yang diliputi kerinduan terhadap bayangan seseorang. Bayangan tersebut muncul dalam kabut, malam, hujan, angin, hingga jejak perjalanan. Segala unsur alam seakan menjadi tempat bersemayamnya kenangan dan mimpi-mimpi tentang sosok yang dirindukan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kerinduan sering hadir dalam bentuk yang tak kasatmata, samar, dan sulit diraih. Kabut melambangkan perasaan yang tak lagi utuh, mungkin karena jarak, waktu, atau kehilangan. Penyair hanya bisa bersandar pada suasana—cuaca, malam, dan kenangan—tanpa benar-benar mampu menggenggam kehadiran yang dirindukan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa sendu, sunyi, dan melankolis. Remang malam, lampu pucat, dingin sungai, serta kabut yang memudar menciptakan nuansa kesepian yang lembut namun mengendap lama di perasaan pembaca.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyiratkan pesan bahwa kerinduan adalah bagian dari perjalanan batin manusia. Tidak semua rasa harus menemukan jawaban atau kepastian; sebagian cukup diterima dan direnungi sebagai pengalaman emosional yang membentuk kepekaan jiwa.
Puisi "Pada Kabut" adalah puisi yang menekankan kekuatan suasana dan citraan untuk mengungkap rasa rindu yang hening. Gunoto Saparie tidak menghadirkan kerinduan secara meledak-ledak, melainkan melalui bisikan alam dan kesunyian malam, sehingga puisi ini terasa lembut, dalam, dan menyentuh sisi kontemplatif pembacanya.
Karya: Gunoto Saparie
Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain. Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.
Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta).
Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.