Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pada Malam 1000 Bulan (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi "Pada Malam 1000 Bulan" karya Abdul Wachid B. S. bercerita tentang sebuah peristiwa sakral ketika semesta terdiam dalam kekaguman oleh cahaya.
Pada Malam 1000 Bulan

ketika semesta takjub oleh cahaya
ketika ruang dan waktu dihentikan
ketika makhluk ada di dalamnya
ketika 19 hurup melafalkan namamu

seketika 19 ruang waktu dibukukan
seketika 7 langit dilipat di dalam sebuah cincin
seketika dia menjumpai sebuah salam
seketika itu dia tidak di dalam

semua dan segala yang masih bisa dimetaforakan
tersebab hanya dia dan kekasih yang
tidak pernah pantas tersisih
oleh apapun kecuali tertindih oleh cinta yang menagih

ketika itulah
semua pandangannya hanya satu
segala geraknya hanya menuju satu
dan setiap bahagia dan sedihnya hanya satu

alasannya, adalah dia
yang diterbangkan dari seluruh
bintang gemintang dengan segala planetnya
demi menyaksikan: betapa indahnya, kamu!

Yogyakarta, 17 Agustus 2012

Analisis Puisi:

Puisi "Pada Malam 1000 Bulan" karya Abdul Wachid B. S. menghadirkan pengalaman spiritual yang intens dan penuh kekaguman. Dengan bahasa metaforis dan nuansa religius yang kuat, puisi ini membawa pembaca memasuki momen sakral ketika batas antara ruang, waktu, manusia, dan ketuhanan seolah dilebur. Malam istimewa tersebut digambarkan bukan sekadar peristiwa kosmik, melainkan pengalaman batin yang memusatkan seluruh kesadaran pada satu tujuan dan satu cinta.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengalaman spiritual dan cinta transendental. Malam seribu bulan diposisikan sebagai puncak perjumpaan antara makhluk dan Sang Kekasih, di mana seluruh orientasi hidup, pandangan, dan gerak bermuara pada satu titik ilahi.

Puisi ini bercerita tentang sebuah peristiwa sakral ketika semesta terdiam dalam kekaguman oleh cahaya. Ruang dan waktu dihentikan, langit dilipat, dan makhluk berada dalam keadaan liminal—antara ada dan tiada. Dalam momen tersebut, subjek puisi mengalami perjumpaan batin yang mendalam, di mana seluruh kesadaran, bahagia, dan sedih hanya tertuju pada satu sosok yang dicintai.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa puncak pengalaman manusia terletak pada penyatuan kehendak dan cinta dengan Yang Maha Ada. Segala metafora kosmik—ruang, waktu, langit, bintang—hanyalah cara manusia mendekati sesuatu yang sejatinya tak terucapkan. Cinta dalam puisi ini bukan cinta duniawi semata, melainkan cinta spiritual yang menagih penyerahan total.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa khusyuk, magis, dan penuh kekaguman. Setiap larik membangun atmosfer sakral, seolah pembaca diajak berhenti sejenak dari dunia profan dan memasuki ruang batin yang sunyi namun bercahaya.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk memusatkan hidup pada nilai-nilai spiritual dan cinta yang hakiki. Dalam keheningan dan kesungguhan batin, manusia dapat menemukan arah hidup yang utuh—di mana segala gerak dan pandangan tidak lagi tercerai, melainkan menuju satu tujuan yang bermakna.

Puisi "Pada Malam 1000 Bulan" karya Abdul Wachid B. S. merupakan perenungan puitik tentang puncak pengalaman spiritual manusia. Dengan bahasa metaforis dan imaji kosmik yang kuat, puisi ini menegaskan bahwa dalam satu malam yang suci, manusia dapat menemukan makna hidup yang utuh—ketika segala pandangan, gerak, dan rasa dipusatkan hanya pada satu cinta yang melampaui batas ruang dan waktu.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Pada Malam 1000 Bulan
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.