Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Panggil Aku Murat (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Panggil Aku Murat” karya Slamet Sukirnanto bercerita tentang sosok “Murat”, seorang pengelana yang hadir di banyak tempat: Johor, Kupang, ...
Panggil Aku Murat

Panggil aku Murat
Aku berada di Johor
Aku berada di Kupang
Aku berada di Mahakam
Aku berada di Kotaraja
Aku berada di Bengkalis
Aku termangu di Selat Panjang
Termangu di Pantai Bengkulu
Aku iris Laut Jawa
Aku belah sunyi Selat Malaka
Sulur air sungai-sungai besar
Telah menyimpan nakalku
Panggil saja aku Murat
Aku pengelana mencari Tun Teja
Di padang-padang terbuka
Pantai, lembah dan ngarai
Aku tanya pada tasik
Aku tanya pada telaga
Aku tanya pada senandung melayu
Aku tanya emak di lepau
Aku tanya abang di ladang
Aku tanya datuk di surau
Jejak selendangmu
Gemerisik sarung emasmu
Ketika turun tangga
Aku tak ingin jadi rumput
Tempat kaki berpijak
Tapi aku Murat
Ingin dekat
Ingin ketemu Aku bukan Hang Tuah -
masa lalu!

Johor Bahrum, 16 Maret 2001

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi “Panggil Aku Murat” karya Slamet Sukirnanto menghadirkan suara seorang pengelana yang bergerak lintas ruang, lintas sejarah, dan lintas identitas. Melalui penyebutan berbagai wilayah geografis Nusantara dan sekitarnya, puisi ini menampilkan perjalanan yang tidak semata-mata fisik, melainkan juga batiniah. Tokoh “Murat” menjadi simbol manusia yang terus mencari, bertanya, dan mendekat pada makna hidup, cinta, serta jati diri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengembaraan dan pencarian identitas. Di dalamnya juga terkandung tema kerinduan, sejarah kultural Melayu, serta upaya melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu yang terlalu agung untuk ditiru secara buta.

Puisi ini bercerita tentang sosok “Murat”, seorang pengelana yang hadir di banyak tempat: Johor, Kupang, Mahakam, Kotaraja, Bengkalis, hingga Selat Malaka dan Laut Jawa. Ia mengembara sambil mencari “Tun Teja”, figur yang dapat dimaknai sebagai simbol cinta, keindahan, atau nilai ideal. Dalam perjalanannya, Murat bertanya kepada alam dan manusia sederhana—emak di lepau, abang di ladang, datuk di surau—seolah ingin menemukan jawaban hidup dari sumber-sumber yang paling dekat dengan keseharian rakyat.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa pencarian makna hidup dan jati diri tidak selalu harus dilakukan melalui tokoh besar atau legenda masa lalu. Dengan menegaskan “Aku bukan Hang Tuah – masa lalu!”, penyair menyiratkan kritik terhadap romantisme sejarah yang berlebihan. Puisi ini menekankan bahwa manusia masa kini perlu menemukan jalannya sendiri, tanpa harus terkungkung oleh mitos kepahlawanan lama.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi cenderung reflektif dan melankolis, namun tetap dinamis. Ada rasa rindu, kegelisahan, sekaligus tekad untuk terus bergerak dan mendekat. Nuansa kesendirian pengelana berpadu dengan kehangatan budaya dan ruang-ruang sosial yang ia singgahi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya keberanian untuk menjadi diri sendiri. Puisi ini mengajak pembaca agar tidak sekadar menjadi “rumput tempat kaki berpijak”, melainkan manusia yang sadar akan nilai dan keinginannya. Selain itu, puisi ini juga menegaskan bahwa kearifan sering kali lahir dari percakapan dengan alam dan rakyat kecil, bukan hanya dari sejarah besar.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji geografis dan imaji gerak. Penyebutan laut, selat, sungai, pantai, lembah, dan ngarai menciptakan gambaran perjalanan yang luas dan berlapis. Imaji visual juga muncul pada “jejak selendangmu” dan “gemerisik sarung emasmu”, yang menghadirkan sosok Tun Teja secara samar, indah, dan penuh kerinduan.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, seperti tokoh “Murat” sebagai simbol pengelana batin dan pencari jati diri.
  • Personifikasi, pada ungkapan “Aku iris Laut Jawa” dan “Aku belah sunyi Selat Malaka”, yang memberi kesan laut dan sunyi dapat diperlakukan layaknya benda hidup.
  • Repetisi, terlihat pada pengulangan frasa “Aku berada di…” yang menegaskan keluasan perjalanan dan keberadaan Murat di banyak ruang.
Puisi "Panggil Aku Murat" merupakan puisi yang memadukan perjalanan geografis dengan pencarian batin. Slamet Sukirnanto menghadirkan suara pengelana yang kritis terhadap masa lalu, namun tetap menghormati akar budaya. Puisi ini mengajak pembaca untuk berani mencari, bertanya, dan mendefinisikan diri sendiri—tanpa harus terjebak menjadi bayangan sejarah yang telah lampau.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Panggil Aku Murat
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.