Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Paradoks Kota (Karya Melki Deni)

Puisi “Paradoks Kota” karya Melki Deni bercerita tentang perubahan ruang hidup dari masa kanak-kanak hingga dewasa, ketika lingkungan yang dulu ramah—
Paradoks Kota

Waktu masih kanak-kanak kita bermain patgulipat di antara bunga-bunga dan kolong dapur; sebelum alat-alat berat melebarkan jalan-jalan; sebelum hutan-hutan digusur sampai ke akar-akarnya; sebelum kita diusir secara membabi buta, minggat dari sini; sebelum pagar tembok setinggi langit dibangun di kota ini.

Pagar tembok setinggi langit itu membayangkan ada yang mencoret-coret tubuhnya dengan seni mural; melukis paradoks ekonomi-politik, sosiokultural, dan keagamaan kita. Pagar tembok setinggi langit itu tidak pernah membayangkan dirinya menjadi batas, grafik, alat kekuasaan, jarak dan lanskap yang cacat, yang memagari kasih dan kisah kita.

Di kota ini kita tidak tercatat lagi; asap industri mengepul siang malam; jeritan ringkih arwah janin-janin korban aborsi; dan kita menjadi turis domestik di atas tanah tumpah darah. Sebab di kota ini kebebasan, persaudaraan, dan keadilan sosial adalah imajinasi kemanusiaan yang mustahil; muspra.

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Paradoks Kota” karya Melki Deni menghadirkan potret kota sebagai ruang yang penuh kontradiksi. Kota tidak hanya digambarkan sebagai tempat bertumbuh dan beradab, tetapi juga sebagai wilayah yang perlahan menghapus ingatan, kemanusiaan, dan relasi sosial. Melalui bahasa yang lugas, panjang, dan bernuansa prosaik, penyair menempatkan kota sebagai arena konflik antara masa lalu yang hangat dan masa kini yang keras serta mekanistik.

Puisi ini bergerak dari kenangan masa kanak-kanak menuju kritik sosial yang tajam terhadap pembangunan dan kekuasaan.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah ironi dan kontradiksi kehidupan kota modern yang dibangun atas penggusuran, kekerasan struktural, dan hilangnya nilai kemanusiaan. Kota hadir sebagai simbol kemajuan sekaligus kehancuran: berkembang secara fisik, tetapi rapuh secara sosial dan moral.

Tema lain yang menguat adalah kehilangan identitas, keterasingan, dan ketidakadilan sosial akibat dominasi kekuasaan ekonomi dan politik.

Puisi ini bercerita tentang perubahan ruang hidup dari masa kanak-kanak hingga dewasa, ketika lingkungan yang dulu ramah—penuh permainan, bunga, dan ruang domestik—perlahan hilang akibat pembangunan. Jalan diperlebar, hutan digusur, dan tembok-tembok tinggi dibangun sebagai penanda kekuasaan dan eksklusi.

Puisi ini juga bercerita tentang kondisi masyarakat kota yang tak lagi “tercatat”, menjadi korban industrialisasi, kekerasan sosial, dan bahkan tercerabut dari tanah kelahirannya sendiri, hingga hanya menjadi “turis domestik”.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan kemanusiaan. Kota tidak sekadar berubah secara fisik, tetapi juga menciptakan jarak emosional dan sosial antarwarganya. Tembok yang dibangun bukan hanya pembatas ruang, melainkan simbol pemisahan kelas, kekuasaan, dan kasih.

Puisi ini menyiratkan bahwa kemajuan yang tidak berpihak pada keadilan justru melahirkan paradoks, di mana kebebasan dan persaudaraan hanya tinggal jargon tanpa realisasi.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana getir, muram, dan kritis. Kenangan masa kecil yang hangat berubah menjadi nada kecewa dan kemarahan yang tertahan. Suasana ini diperkuat oleh diksi tentang penggusuran, asap industri, jeritan, dan kemustahilan nilai-nilai kemanusiaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk meninjau ulang arah pembangunan kota. Puisi ini mengingatkan bahwa kota seharusnya menjadi ruang hidup yang adil dan manusiawi, bukan sekadar mesin ekonomi yang mengorbankan ingatan, solidaritas, dan martabat manusia.

Puisi “Paradoks Kota” karya Melki Deni adalah puisi kritik sosial yang kuat dan relevan. Dengan menggabungkan ingatan personal dan persoalan struktural, puisi ini memperlihatkan bagaimana kota dapat berubah menjadi ruang yang asing bagi warganya sendiri.

Melalui puisi ini, pembaca diajak untuk menyadari bahwa kota bukan hanya bangunan dan jalan, melainkan ruang hidup yang seharusnya memelihara keadilan, persaudaraan, dan kemanusiaan—bukan justru meniadakannya.

Puisi Melki Deni
Puisi: Paradoks Kota
Karya: Melki Deni

Biodata Melki Deni:
  • Melki Deni adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
  • Aktif menulis puisi sejak sekolah menengah pertama.
© Sepenuhnya. All rights reserved.