Sumber: Qasidah Langit Qasidah Bumi (2023)
Analisis Puisi:
Puisi "Pemakaman" karya Tjahjono Widarmanto menghadirkan suasana duka yang tidak sentimental, melainkan dingin, sunyi, dan reflektif. Penyair tidak meratap secara langsung, tetapi membangun perasaan kehilangan melalui citraan alam, benda-benda pemakaman, serta kesenyapan setelah prosesi selesai. Puisi ini menyoroti kematian bukan hanya sebagai peristiwa biologis, melainkan juga sebagai momen kesendirian eksistensial manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian dan kesunyian setelah kepergian. Selain itu, terdapat tema turunan berupa kefanaan hidup, keterputusan antara yang hidup dan yang mati, serta perenungan iman yang tersisa setelah segala ritual berakhir.
Puisi ini bercerita tentang suasana sesaat setelah proses pemakaman selesai. Tanah kubur masih basah, bunga belum layu, namun para pelayat telah bergegas pulang. Tidak ada lagi keramaian, hanya tinggal makam, sisa air mata, dan kesunyian yang menyelimuti liang lahat. Kehadiran gagak, batu nisan, dan pohon flamboyan mempertegas lanskap kematian yang ditinggalkan manusia.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik halus terhadap sikap manusia yang cepat meninggalkan kematian setelah kewajiban sosial terpenuhi. Duka terasa singkat, sementara yang benar-benar tinggal hanyalah kesendirian jenazah dan pertanyaan spiritual yang tidak terjawab. Baris “dan iman yang akan bicara” menyiratkan bahwa setelah semua orang pergi, hanya keyakinan—atau mungkin keraguan—yang tersisa untuk berhadapan langsung dengan kematian.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung sunyi, dingin, dan muram. Kesunyian tidak digambarkan sebagai hening yang damai, melainkan sunyi yang “kering” dan “berbiak”, seolah-olah kesepian itu hidup dan berkembang di sekitar makam. Tidak ada penghiburan, hanya keheningan yang menekan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini dapat dibaca menyampaikan amanat agar manusia menyadari betapa rapuh dan sementaranya kehidupan serta betapa cepatnya manusia beranjak dari kematian orang lain. Di balik ritual dan formalitas, kematian menuntut perenungan yang lebih dalam tentang iman, makna hidup, dan kesendirian yang pada akhirnya akan dialami setiap manusia.
Imaji
Puisi Pemakaman kaya akan imaji visual dan atmosferik, antara lain:
- “tanah masih basah taburan bunga belum layu” (visual pemakaman yang baru selesai),
- “batu-batu nisan dingin dihinggapi gagak” (visual sekaligus simbol kematian),
- “ujung flamboyan bergoyang sunyi meledak dalam liang lahat” (imaji gerak dan bunyi yang metaforis).
Imaji-imaji ini memperkuat kesan sepi dan dingin tanpa perlu penjelasan emosional langsung.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
- Personifikasi, pada ungkapan “sunyi yang kering berbiak” dan “iman yang akan bicara”, seolah sunyi dan iman memiliki sifat makhluk hidup.
- Metafora, pada “kata-kata menjadi perdu paling bisu”, yang menggambarkan ketidakmampuan bahasa untuk menjelaskan duka dan kematian.
- Simbolisme, pada gagak, batu nisan, dan liang lahat yang melambangkan kematian, keterasingan, dan akhir perjalanan hidup.
Puisi "Pemakaman" karya Tjahjono Widarmanto menunjukkan kepiawaian penyair dalam menghadirkan peristiwa kematian secara sunyi dan kontemplatif. Tanpa ratapan berlebihan, puisi ini justru mengajak pembaca masuk ke ruang hening setelah upacara selesai—ruang tempat iman, kesendirian, dan makna hidup dipertanyakan secara diam-diam. Puisi ini menjadi refleksi bahwa kematian bukan hanya tentang yang pergi, tetapi juga tentang sikap dan kesadaran mereka yang ditinggalkan.
