Puisi: Pemandangan (Karya Leon Agusta)

Puisi "Pemandangan" karya Leon Agusta bercerita tentang seseorang yang terus mempertanyakan dunia di sekitarnya. Ia membandingkan ketidaktahuan ...
Pemandangan

Bila kau tak tahu berapa jarak
sebuah bintang dari matamu
aku pun juga tak tahu
Tapi aku lebih tak tahu
berapa jarak tindakan dengan ucapan
yang menyebutkan nama-nama kehidupan

Hingga aku tak bisa berhenti bertanya

Telah kuserahkan resah pada badai
sementara aku tak tahu berapa usianya matahari
Seribu badai mengembalikan resah kepadaku
sementara aku tak tahu kapan padamnya matahari
Semuanya engkau pun tak tahu
Tapi engkau lebih tak tahu
Siapa saja yang ikut mencoret sajakku

Mataku jadi putih
menyaksikan pemandangan yang kita lintasi
sambil memberikan sentuhan-sentuhan kecil

Padang, 1975

Sumber: Gendang Pengembara (2012)

Analisis Puisi:

Puisi "Pemandangan" karya Leon Agusta menghadirkan perenungan yang dalam tentang ketidaktahuan manusia, jarak antara kata dan tindakan, serta kegelisahan batin dalam menghadapi realitas kehidupan. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat simbol, puisi ini mengajak pembaca menengok lanskap batin yang penuh pertanyaan, keraguan, dan kelelahan eksistensial.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah kegelisahan eksistensial dan keterbatasan pengetahuan manusia. Puisi ini juga menyentuh tema tentang jarak antara idealitas dan realitas, khususnya antara ucapan dan tindakan yang mengatasnamakan kehidupan.

Leon Agusta menempatkan “ketidaktahuan” sebagai pusat refleksi, bukan sekadar ketidaktahuan tentang hal kosmis seperti jarak bintang atau usia matahari, melainkan ketidaktahuan yang lebih mendasar: ketidaktahuan manusia terhadap dirinya sendiri, terhadap kejujuran, dan terhadap tanggung jawab atas kata-kata yang diucapkan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terus mempertanyakan dunia di sekitarnya. Ia membandingkan ketidaktahuan tentang hal-hal alam semesta dengan ketidaktahuan yang lebih menyakitkan, yakni jarak antara tindakan dan ucapan manusia.

Tokoh "Aku" digambarkan sebagai sosok yang resah, yang menyerahkan kegelisahannya kepada badai—simbol kekuatan alam atau kekacauan batin—namun resah itu justru kembali berlipat ganda. Puncaknya, ia menyaksikan “pemandangan yang kita lintasi”, sebuah pemandangan yang membuat matanya “jadi putih”, seolah kehilangan kejernihan atau harapan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan kritik terhadap kemunafikan dan ketidakselarasan moral. Baris:

“berapa jarak tindakan dengan ucapan
yang menyebutkan nama-nama kehidupan”

menyiratkan sindiran terhadap manusia (atau kelompok tertentu) yang gemar berbicara tentang nilai-nilai luhur kehidupan, tetapi gagal mewujudkannya dalam tindakan nyata.

Ketidaktahuan yang diulang-ulang bukan semata kebodohan, melainkan ketidakmauan untuk bertanggung jawab. Bahkan, ketika sajak “dicoret” oleh orang lain, muncul kesan bahwa kebenaran, kejujuran, dan ekspresi personal sering dirusak oleh campur tangan yang tidak jujur atau tidak bertanggung jawab.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung resah, gelisah, dan kontemplatif. Repetisi frasa “aku tak tahu” dan “engkau pun tak tahu” memperkuat nuansa kebingungan yang berlarut-larut. Tidak ada kepastian, tidak ada jawaban final—yang ada hanyalah pertanyaan yang terus berputar.

Pada bagian akhir, suasana berubah menjadi lebih sunyi dan getir, ketika tokoh "aku" menyaksikan pemandangan yang dilewati bersama, namun dengan mata yang “jadi putih”, seolah mengalami kelelahan batin atau keterasingan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi Pemandangan menyampaikan amanat agar manusia lebih jujur terhadap dirinya sendiri, terutama dalam menyelaraskan ucapan dengan tindakan. Ketidaktahuan tentang alam semesta adalah hal yang wajar, tetapi ketidaktahuan—atau pengabaian—terhadap tanggung jawab moral merupakan persoalan yang lebih serius.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa kegelisahan tidak selalu bisa diserahkan begitu saja pada “badai”, karena pada akhirnya, manusia tetap harus menghadapi resahnya sendiri.

Puisi "Pemandangan" karya Leon Agusta adalah puisi reflektif yang mengajak pembaca menatap kehidupan dari sudut pandang yang jujur dan kritis. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang tampak sederhana, puisi ini justru membuka ruang perenungan yang luas tentang makna kata, tanggung jawab, dan pemandangan batin yang sering kali lebih rumit daripada pemandangan yang kasatmata.

Leon Agusta
Puisi: Pemandangan
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.