Sumber: Bunga-Bunga Bunuh Diri di Babylonia (2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Penyair Kami, Mati” karya Kinanthi Anggraini menghadirkan suara perlawanan yang getir sekaligus duka mendalam. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang kematian secara harfiah, tetapi juga tentang pembungkaman, penghilangan identitas, dan penghancuran suara-suara kritis di tengah tekanan kekuasaan. Bahasa yang digunakan kasar, gelap, dan penuh luka, sejalan dengan realitas yang hendak disampaikan penyair.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pembungkaman kebebasan berekspresi dan kekerasan terhadap suara kritis, khususnya penyair. Puisi menyoroti bagaimana kata, pikiran, dan identitas dipaksa tunduk atau dilenyapkan oleh ancaman dan intimidasi.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok penyair yang mengalami tekanan, kekerasan simbolik, dan ancaman nyata. Mereka digambarkan sebagai pihak yang disingkirkan, disudutkan, dan dipaksa diam. “Penyair kami, mati” menjadi simbol gugurnya suara perlawanan di bawah kekuasaan yang represif.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik keras terhadap sistem atau kekuatan yang mematikan daya kritis masyarakat. Kematian penyair bukan sekadar kematian fisik, melainkan kematian kebebasan berpikir, kematian keberanian, dan kematian nurani publik yang dipaksa patuh.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa suram, mencekam, dan penuh ketakutan. Nada ancaman dan kekerasan membangun atmosfer teror, seolah pembaca diajak masuk ke ruang gelap tempat suara-suara dipatahkan secara sistematis.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah peringatan agar masyarakat tidak membiarkan pembungkaman terjadi. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari betapa mahalnya harga sebuah suara, dan betapa berbahayanya jika ketakutan dibiarkan mengalahkan keberanian.
Puisi “Penyair Kami, Mati” karya Kinanthi Anggraini adalah jeritan kolektif yang lahir dari ketidakadilan dan ketakutan. Puisi ini menjadi catatan perlawanan sekaligus kesaksian pahit tentang bagaimana kata-kata dapat dibungkam, dan bagaimana penyair—sebagai penjaga nurani—dapat “dimatikan” ketika kebenaran dianggap berbahaya.
Karya: Kinanthi Anggraini
Biodata Kinanthi Anggraini:
Kinanthi Anggraini lahir pada tanggal 17 Januari 1989 di Magetan, Jawa Timur.
Karya-karya Kinanthi Anggraini pernah dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, antara lain Horison, Media Indonesia, Indopos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Basis, Sinar Harapan, Banjarmasin Post, Riau Pos, Lampung Post, Solopos, Bali Post, Suara Karya, Tanjungpinang Pos, Sumut Pos, Minggu Pagi, Bangka Pos, Majalah Sagang, Malang Post, Joglosemar, Potret, Kanal, Radar Banyuwangi, Radar Bojonegoro, Radar Bekasi, Radar Surabaya, Radar Banjarmasin, Rakyat Sumbar, Persada Sastra, Swara Nasional, Ogan Ilir Ekspres, Bangka Belitung Pos, Harian Haluan, Medan Bisnis, Koran Madura, Mata Banua, Metro Riau, Ekspresi, Pos Bali, Bong-Ang, Hayati, MPA, Puailiggoubat, Suara NTB, Cakrawala, Fajar Sumatera, Jurnal Masterpoem Indonesia, dan Duta Selaparang.
Puisi-puisi Kinanthi Anggraini terhimpun di dalam buku Mata Elang Biru (2014) dan Bunga-Bunga Bunuh Diri di Babylonia (2018). Karya-karyanya juga diterbitkan dalam cukup banyak buku antologi bersama.
Nama Kinanthi Anggraini tertulis dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017).
