Puisi: Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (Karya Gunawan Maryanto)

Puisi “Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” bercerita tentang seseorang yang terjebak dalam hubungan emosional yang tidak pernah ..
Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya

1
baikah. akan kujalani saja kutukan ini
akan kutulis seribu perasaan tentangmu
mulai pagi ini hingga kelak
ketika burung-burung itu tak lagi bersarang di rambutmu
saat itulah semua berakhir

1.1
juga diriku: mencair;
menjelma sungai, tak sanggup kusebrangi
menjadi kesedihan, kukenang sepanjang jalan

1.2
juga dirimu: mencair;
datang tiap musim penghujan
dengan curah yang tetap, tak berubah

1.1.1
perasaan, aku tak ingin berlebihan
tapi pernahkan kita kosong. benar-benar kosong
datar tanpa tekanan. tetap. tak berlebihan. tanpa emosi
tak ada sama sekali, bahkan untuk sebaris puisi

1.1.2
apa yang layak kaukenang dariku
selain kesedihan yang sudah tentu
secangkir teh dingin dan gula batu
dan beberapa lagu di saku baju

1.2.1
sebagaimana dirimu yang tetap
gampang jatuh gampang tersentuh
cuma tegar dari luar---dari kejauhan
dalam kamar, kau simpan rawa-rawa

1.2.2
gampang menggenang, gampang hilang
meluap-luap dalam sekejap
dalam repertoar hujan yang singkat
tapi tak kunjung tamat

1.1.1.1
puisi sesekali mati, kau tahu
berhenti berdetak dalam tubuhku
dan kadang kita harus berkabung
sementara peristiwa terus berlangsung
puisi, apalagi puisiku
tak pernah berhasil
membuatmu berhenti
dan sedikit abadi

1.1.1.2
sekali lagi, pernahkan kita sepi
seperti tong yang tak berisi
cuma gaung, sisa keramaian tahun lalu
saat ada seseorang yang bangun disisiku
bangun dan membangunkanku
dengan kecupan kecil
dan nama kecil

1.1.2.1
bagaimana kau harus memanggilku
lelaki yang selalu nampak hendak pergi
dengan tas kecil
yang tak pernah benar-benar terisi
aku tak lagi bisa mendengar apa-apa
ledakan keras sekalipun

1.1.2.2
bagaimana kau mesti mengingatkanku
mengekalkannya di sesela rambutmu
yang ikal
yang tak pernah benar-benar kering
kepalamu yang sudah penuh
terlalu penuh dengan dirimu

1.2.1.1
sebagaimana rawa, katamu
kau tak mau diselami
tak kunjung mau dipahami
ada yang takut menjadi batu
kau, katamu, adalah kekeliruan
dan kebijakan yang selalu datang dari kejauhan

1.2.1.2
kau juga menyimpan jembatan
dari kayu sumatera yang selalu berderak
jika seseorang memaksa melintas
yang kerap membuatmu terbangun
dan kurang tidur

1.2.2.1
ada yang ingin terus berlanjut
seperti luka dikepalamu
yang selalu hadir
dengan garukan tanganmu
seperti jalan setapak
yang membelah kepalamu
dengan putus asa

1.2.2.2
seperti air mata yang kautampung
dalam tempurung
milik anak bajang
yang batal mengurus lautan
sementara anak bajang lain
dengan cemeti kalanjana
berkeras mengiringi angin
berkeras menjadi sia-sia

Jogjakarta, 2007

Sumber: Kota Terbayang (Taman Budaya Yogyakarta, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” merupakan salah satu karya Gunawan Maryanto yang menampilkan kompleksitas batin, relasi intim, serta kegagalan bahasa dalam menahan kepergian dan perubahan. Puisi ini tidak bergerak secara linear, melainkan tersusun dalam penomoran bercabang, seolah-olah mengikuti alur pikiran dan perasaan yang berkembang, menyimpang, lalu kembali pada kesedihan yang sama.

Struktur tersebut menjadi bagian penting dari makna puisi: perasaan tidak tunduk pada satu jalan lurus, melainkan menyusun sendiri petualangannya—liar, berlapis, dan kerap berakhir pada kebuntuan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegamangan emosional dalam hubungan intim serta ketidakmampuan perasaan untuk mencapai ketenangan atau keutuhan. Tema lain yang menonjol adalah kesedihan yang berulang, keterasingan, dan kegagalan puisi itu sendiri sebagai sarana pengabadian atau penyelamatan hubungan.

Puisi ini juga membawa tema tentang kefanaan: perasaan mencair, menggenang, lalu menghilang, namun selalu datang kembali dalam bentuk lain.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terjebak dalam hubungan emosional yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia menulis “seribu perasaan” tentang seseorang yang dicintainya, sembari menyadari bahwa perasaan-perasaan itu justru menjadi semacam kutukan.

Hubungan antara “aku” dan “kau” digambarkan melalui metafora air: sungai, hujan, rawa, genangan. Keduanya sama-sama “mencair”, tetapi tidak pernah benar-benar bertemu atau saling menyeberangi. Cerita ini juga memuat kegelisahan tentang ingatan, tentang apa yang pantas dikenang, dan tentang ketidakmampuan puisi untuk membuat seseorang “berhenti dan sedikit abadi”.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa perasaan manusia sering kali hidup dan bergerak di luar kendali rasional. Perasaan tidak mengikuti kehendak subjek, melainkan menyusun jalannya sendiri—kadang berlebihan, kadang kosong, tetapi jarang benar-benar netral.

Puisi ini juga menyiratkan kegagalan komunikasi emosional: meski begitu banyak kata, kenangan, dan puisi dituliskan, tidak ada yang sungguh-sungguh mampu mengisi kekosongan atau menghentikan perpisahan. Kesedihan menjadi satu-satunya hal yang konsisten dan dapat dikenang.

Selain itu, terdapat makna tentang identitas yang rapuh: tokoh "aku" digambarkan sebagai lelaki yang “selalu nampak hendak pergi”, dengan tas kecil yang “tak pernah benar-benar terisi”, menandakan ketidakpastian diri dan ketidakmampuan untuk menetap.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi cenderung muram, melankolis, dan kontemplatif. Ada rasa lelah emosional yang terus mengalir, diperkuat oleh pengulangan kesedihan, air mata, luka, dan tidur yang terganggu. Namun suasana ini juga intim, seolah pembaca diajak masuk ke ruang batin yang sempit, penuh gaung, dan sulit dihindari.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran bahwa tidak semua perasaan dapat diselesaikan, dijelaskan, atau diabadikan. Puisi, kenangan, dan bahasa memiliki batas. Hubungan yang rapuh sering kali bertahan bukan karena kebahagiaan, melainkan karena ketidakmampuan untuk benar-benar melepaskan.

Puisi ini juga menyampaikan pesan tentang kejujuran emosional: mengakui kesedihan, kekosongan, dan kegagalan sebagai bagian dari pengalaman manusia yang sah.

Puisi “Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” adalah potret batin yang jujur dan getir tentang cinta, kehilangan, dan keterbatasan bahasa. Gunawan Maryanto tidak menawarkan penyelesaian, melainkan mengajak pembaca menyusuri labirin perasaan yang bercabang, mengalir, dan kadang buntu. Justru dalam ketidakselesaian itulah kekuatan puisi ini bekerja—menegaskan bahwa perasaan, seperti hidup, kerap berjalan tanpa peta dan tanpa akhir yang benar-benar tuntas.

Gunawan Maryanto
Puisi: Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya
Karya: Gunawan Maryanto
Biodata Gunawan Maryanto:
  • Gunawan Maryanto lahir pada tanggal 10 April 1976 di Yogyakarta, Indonesia.
  • Gunawan Maryanto meninggal dunia pada tanggal 6 Oktober 2021 (pada usia 45 tahun) di Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.