Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Perempuan di Pantai Paotere (Karya Rahman Arge)

Puisi "Perempuan di Pantai Paotere" karya Rahman Arge bercerita tentang seseorang yang menyaksikan perempuan di Pantai Paotere. Kerudung perempuan ...
Perempuan di Pantai Paotere

angin pantai ujung tanah
menari bersama
gelepar kerudungmu
pucuk-pucuk gelombang
pecah
di buritan pinisi
usia bertahan pada musim
menabur jejak panrita
dalam waktu
tak kulihat lagi
tepi pulau Barranglompo
ketika
kerudungmu melintas laut
dan angin menjelma diriku
saling gapai dengan
bayangmu
di riak ombak
Teluk Makassar
biar hanya bayang, bayangmu
usia bertahan
di gugur setiap
musim

Makassar, 1976

Sumber: Jalan Menuju Jalan (2007)
Catatan:
Panrita: Guru Nakhoda Pinisi.

Analisis Puisi:

Puisi "Perempuan di Pantai Paotere" karya Rahman Arge menghadirkan perjumpaan lirih antara manusia, laut, dan kenangan. Latar Pantai Paotere—ruang maritim yang lekat dengan pinisi dan sejarah pelayaran—menjadi medan simbolik bagi ingatan, perpisahan, dan keteguhan usia. Sosok perempuan dengan kerudungnya tampil sebagai pusat imaji, bergerak di antara angin, ombak, dan waktu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan, keteguhan, dan keterikatan manusia dengan laut serta waktu. Laut bukan hanya ruang geografis, melainkan ruang batin tempat ingatan dan usia bertahan meski musim terus berganti.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan perempuan di Pantai Paotere. Kerudung perempuan itu bergerak ditiup angin pantai, bersinggungan dengan ombak, pinisi, dan bayang-bayang kenangan. Penyair seolah kehilangan pandangan terhadap pulau Barranglompo ketika kerudung itu “melintas laut”, menandai perpisahan atau jarak yang tak lagi bisa dijembatani secara nyata.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah tentang hubungan yang tidak sepenuhnya hadir secara fisik, tetapi tetap hidup dalam ingatan. Kerudung yang melintas laut dapat dimaknai sebagai simbol kepergian, perubahan, atau waktu yang terus bergerak. Sementara “panrita”—yang berarti guru atau nakhoda pinisi—menjadi lambang kearifan, jejak pengetahuan, dan tradisi yang ditaburkan ke dalam waktu, meski wujudnya tak selalu kasat mata.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa lirih, tenang, dan melankolis. Ada kelembutan yang bercampur dengan rasa kehilangan, namun tidak meledak-ledak. Kesedihan hadir sebagai kesadaran yang perlahan dan menerima.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa kenangan dan nilai-nilai hidup—seperti keteguhan, kearifan, dan cinta—tidak selalu bertahan dalam wujud fisik. Ia hidup dalam bayang-bayang, dalam ingatan, dan dalam kesetiaan manusia merawat makna, meski usia dan musim terus gugur.

Puisi "Perempuan di Pantai Paotere" adalah puisi yang lembut dan sarat makna maritim. Rahman Arge memadukan lanskap laut Makassar dengan perenungan tentang waktu, ingatan, dan kearifan yang diwariskan. Sosok perempuan, kerudung, pinisi, dan panrita berpadu menjadi simbol bahwa meski segala sesuatu bergerak dan gugur oleh musim, ada nilai-nilai yang tetap bertahan dalam bayang-bayang kenangan.

Rahman Arge
Puisi: Perempuan di Pantai Paotere
Karya: Rahman Arge

Biodata Rahman Arge:
  • Rahman Arge (Abdul Rahman Gega) lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Juli 1935.
  • Rahman Arge meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2015 (pada usia 80).
  • Edjaan Tempo Doeloe: Rachman Arge.
© Sepenuhnya. All rights reserved.