Analisis Puisi:
Puisi “Perjalanan Debu” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa mengangkat objek yang sangat sederhana dan kerap diabaikan, yakni debu, sebagai pusat perenungan. Melalui penggambaran yang detail dan narasi yang mengalir, penyair menjadikan debu sebagai metafora perjalanan hidup, keberadaan yang tak pernah benar-benar hilang, serta hubungan manusia dengan hal-hal kecil yang luput dari perhatian.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kefanaan dan keberlanjutan keberadaan. Debu dijadikan simbol sesuatu yang tampak sepele, namun terus hadir dan mengikuti perjalanan manusia, baik disadari maupun tidak.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan debu yang berkelana dari satu ruang ke ruang lain: masuk melalui jendela dan celah pintu, beterbangan oleh angin, menempel pada benda-benda, disingkirkan oleh air sabun, lalu kembali hadir keesokan harinya. Debu juga digambarkan sebagai sesuatu yang akrab dengan tubuh manusia, bahkan menyatu tanpa izin.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah refleksi tentang kehidupan manusia yang serupa dengan debu: hadir tanpa diminta, berpindah-pindah, sering diabaikan, namun tidak pernah benar-benar hilang. Debu menjadi lambang jejak, pengalaman, dan sisa-sisa perjalanan hidup yang melekat, meski berusaha dibersihkan atau dilupakan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa reflektif dan kontemplatif, dengan sentuhan ringan dan agak ironis. Penyair mengajak pembaca merenung tanpa nada menggurui, melalui pengamatan sederhana terhadap keseharian.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari dan menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan. Sesuatu yang tampak remeh bisa menyimpan makna mendalam, sebagaimana debu yang selalu hadir dan menjadi bagian dari perjalanan manusia.
Puisi “Perjalanan Debu” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa menunjukkan bahwa perenungan mendalam tidak selalu lahir dari hal besar. Melalui debu, penyair menghadirkan kesadaran tentang keberadaan, ingatan, dan jejak hidup yang terus mengikuti manusia, bahkan ketika ia berusaha menyingkirkannya.
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa
