Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Perjalanan Debu (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Puisi “Perjalanan Debu” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa bercerita tentang perjalanan debu yang berkelana dari satu ruang ke ruang lain: masuk ...
Perjalanan Debu

Apa yang kau pikir tentang debu
selain serbuk halus mengembara berlalu
seperti tamu yang tak pernah ditunggu
yang menerobos jendela dan celah pintu
ketika asyik tidur sambil berlagu

Yang lembut tak terlihat di kamar gelap
juga di tempat berlampu saling menatap
kecuali kau nyalakan senter bersinar mantap
lalu menyorotinya di ruang pengap
berkerumun ia seperti sekawanan rayap

Lewat hembusan angin ia berkelana
menyinggahi benda-benda yang ia suka
sebelum air sabun mengusirnya
sejenak kemudian meninggalkannya
tapi esok kau lihat ia masih di sana

Kuyakin kau telah lama mengenal
sebab kulitmu kerap memintanya tinggal
diam-diam tanpa izinmu, wahai peramal
meninggalkan lanskap dalam ketika tanggal 
ketika kembali ke tempat ia berawal

Apa yang kau pikir tentang debu
selain noda mengering dan membeku
yang kerap membuatmu malu
sewaktu mengendap di belakang baju
tanpa sepengetahuanmu.

Surakarta, 2011

Analisis Puisi:

Puisi “Perjalanan Debu” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa mengangkat objek yang sangat sederhana dan kerap diabaikan, yakni debu, sebagai pusat perenungan. Melalui penggambaran yang detail dan narasi yang mengalir, penyair menjadikan debu sebagai metafora perjalanan hidup, keberadaan yang tak pernah benar-benar hilang, serta hubungan manusia dengan hal-hal kecil yang luput dari perhatian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kefanaan dan keberlanjutan keberadaan. Debu dijadikan simbol sesuatu yang tampak sepele, namun terus hadir dan mengikuti perjalanan manusia, baik disadari maupun tidak.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan debu yang berkelana dari satu ruang ke ruang lain: masuk melalui jendela dan celah pintu, beterbangan oleh angin, menempel pada benda-benda, disingkirkan oleh air sabun, lalu kembali hadir keesokan harinya. Debu juga digambarkan sebagai sesuatu yang akrab dengan tubuh manusia, bahkan menyatu tanpa izin.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah refleksi tentang kehidupan manusia yang serupa dengan debu: hadir tanpa diminta, berpindah-pindah, sering diabaikan, namun tidak pernah benar-benar hilang. Debu menjadi lambang jejak, pengalaman, dan sisa-sisa perjalanan hidup yang melekat, meski berusaha dibersihkan atau dilupakan.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa reflektif dan kontemplatif, dengan sentuhan ringan dan agak ironis. Penyair mengajak pembaca merenung tanpa nada menggurui, melalui pengamatan sederhana terhadap keseharian.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari dan menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan. Sesuatu yang tampak remeh bisa menyimpan makna mendalam, sebagaimana debu yang selalu hadir dan menjadi bagian dari perjalanan manusia.

Puisi “Perjalanan Debu” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa menunjukkan bahwa perenungan mendalam tidak selalu lahir dari hal besar. Melalui debu, penyair menghadirkan kesadaran tentang keberadaan, ingatan, dan jejak hidup yang terus mengikuti manusia, bahkan ketika ia berusaha menyingkirkannya.

"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
Puisi: Perjalanan Debu
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa
© Sepenuhnya. All rights reserved.