Perjalanan Waktu
Saat menyusuri jalan seorang diri, tidak sengaja mataku melihat seorang nenek yang memikul karung di pundaknya.
Dari raut wajahnya sangat terlihat jelas bahwa ia sedang merasa kelelahan. Entah karna beratnya isi karung yang ia pikul, atau isi kepalanya yang begitu ramai yang menyebabkan wajahnya tidak terlihat damai.
Tetiba saja aku berpikir entah berapa banyak mimpi yang telah nenek ini korbankan, sesering apa nenek ini menelan pahitnya getir kehidupan. Padahal dulu ia juga sama, hanya seorang anak kecil yang disayangi ibunya.
Dulu ia pun sering menangis jika terluka, tapi entah apa sekarang air matanya masih tersisa. Ingin rasanya aku memeluk tubuh ringkih sang nenek, sambil bertanya
“Nek, apakah semesta memang begitu kejam?”
Pojok Kamar, 18 November 2025
Analisis Puisi:
Puisi "Perjalanan Waktu" karya Pena Senja menghadirkan perenungan tentang kehidupan manusia yang bergerak dari masa kanak-kanak menuju usia senja. Dengan menghadirkan sosok seorang nenek dalam perjalanan sehari-hari, puisi ini mengajak pembaca menyadari kerasnya waktu dan jejak penderitaan yang perlahan mengendap dalam tubuh dan batin manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia yang dilalui bersama pengorbanan dan kelelahan batin. Puisi ini juga mengangkat tema waktu, empati, dan kesenjangan antara masa kanak-kanak yang polos dengan usia tua yang sarat beban.
Puisi ini bercerita tentang perjumpaan penyair dengan seorang nenek yang memikul karung di pundaknya. Perjumpaan sederhana itu memicu renungan mendalam tentang hidup sang nenek—tentang mimpi yang mungkin telah dikorbankan, luka-luka yang pernah dialami, serta perubahan dari seorang anak kecil yang penuh kasih sayang menjadi sosok tua yang memikul berat kehidupan sendirian.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik halus terhadap kerasnya kehidupan yang sering kali tidak adil bagi manusia, terutama mereka yang lemah dan renta. Penyair menyiratkan bahwa di balik setiap wajah tua terdapat sejarah panjang pengorbanan yang jarang diperhatikan. Pertanyaan terakhir kepada semesta menunjukkan kegelisahan eksistensial: apakah penderitaan merupakan bagian tak terelakkan dari hidup, atau akibat dari ketidakpedulian manusia itu sendiri.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sendu, haru, dan penuh empati. Kesedihan tidak ditampilkan secara dramatis, melainkan hadir perlahan melalui pengamatan detail dan pertanyaan batin yang menggantung.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya empati dan kepedulian terhadap sesama, khususnya kepada orang-orang yang telah menua dalam kelelahan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa setiap manusia pernah menjadi anak kecil yang rapuh, sehingga rasa kemanusiaan seharusnya tidak pudar seiring berjalannya waktu.
Puisi "Perjalanan Waktu" karya Pena Senja merupakan puisi reflektif yang menyentuh sisi kemanusiaan. Dengan menghadirkan sosok sederhana dalam keseharian, puisi ini mengajak pembaca merenungi perjalanan hidup, arti empati, serta pertanyaan besar tentang keadilan dan belas kasih dalam semesta.
Karya: Pena Senja
Biodata Pena Senja:
Pena Senja lahir pada tanggal 20 Februari 2004 di Tangerang. Sejak duduk di kelas 4 SD, tepatnya di SDN Sukamanah 1, ia sudah gemar mengumpulkan komik dengan berbagai genre, di antaranya ada cerita rakyat, horor, dan jenaka. Ia memiliki hobi membaca, menulis, dan menonton film. Gadis dengan zodiak pisces ini sangat suka dengan warna biru, katanya biru itu bisa menenangkan bisa juga menenggelamkan.