Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Perjuangan Mencintai Pagi Hari (Karya A. Muttaqin)

Puisi "Perjuangan Mencintai Pagi Hari" karya A. Muttaqin bercerita tentang suasana pagi dalam sebuah keluarga: ayah, ibu, anak, dan mertua.
Perjuangan Mencintai Pagi Hari

05:30. Anakku berjuang membuka mata. Aku berjibaku melepas mimpi.
Istriku menggoreng kantuk hingga kriuk. Mertuaku merenungi gelap kopi.

06:30. Anakku berperang di kamar mandi. Istriku mengaduk tuwung sepi.
Aku memeluk kantuk. Mertuaku membungkuk, membujuk kicau manuk.

07:00. Handuk mengelap kantukku. Salam teruluk dari manuk mertuaku.
Kulempar dadar agar si manuk diam. Anakku geram digenggam seragam.

07:30. Istriku dikejar kerja. Mertuaku siap istighasah. Kugandeng anakku ke
madrasah: ”Aku mau jadi sapi perah!” katanya, sambil nyesap susu kotaknya.

2017

Analisis Puisi:

Puisi "Perjuangan Mencintai Pagi Hari" karya A. Muttaqin menyuguhkan potret keseharian keluarga pada waktu pagi dengan cara yang jenaka, hangat, sekaligus reflektif. Pagi hari tidak hadir sebagai momen romantis yang tenang, melainkan sebagai ruang perjuangan bersama, tempat setiap anggota keluarga bernegosiasi dengan kantuk, tanggung jawab, dan rutinitas hidup.

Puisi ini memanfaatkan potongan waktu yang rinci untuk membangun narasi, sehingga pembaca seolah ikut berada di dalam rumah yang sedang bersiap menghadapi hari.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan kehidupan domestik dan upaya mencintai rutinitas pagi hari. Pagi digambarkan bukan sebagai sesuatu yang otomatis disukai, tetapi harus “diperjuangkan”, terutama oleh keluarga kecil yang dipenuhi aktivitas, kelelahan, dan tuntutan peran masing-masing.

Di balik itu, puisi ini juga mengangkat tema kebersamaan keluarga dan penerimaan terhadap realitas hidup sehari-hari.

Puisi ini bercerita tentang suasana pagi dalam sebuah keluarga: ayah, ibu, anak, dan mertua. Setiap tokoh menjalani “perjuangan” versinya sendiri. Anak berjuang membuka mata dan melawan air di kamar mandi, istri berkutat dengan pekerjaan rumah dan persiapan kerja, penyair berjibaku dengan sisa mimpi, sementara mertua menjalani pagi dengan kopi, doa, dan kicau burung.

Rentang waktu dari pukul 05:30 hingga 07:30 disusun seperti kronologi kecil yang menegaskan betapa pagi adalah medan perang mini sebelum semua anggota keluarga berpisah menjalani tugas masing-masing.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa cinta terhadap hidup—termasuk pagi hari—tidak selalu hadir dalam bentuk perasaan indah, tetapi melalui kesediaan untuk menjalani rutinitas yang melelahkan. Perjuangan kecil seperti bangun tidur, menyiapkan anak ke sekolah, hingga berbagi peran di rumah merupakan bentuk cinta yang nyata.

Ucapan anak, “Aku mau jadi sapi perah!”, secara tersirat mengandung ironi polos tentang kerja, produksi, dan rutinitas, yang bisa dibaca sebagai cerminan dunia orang dewasa dari sudut pandang anak-anak.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung hangat, jenaka, dan realistis. Ada kelelahan, tetapi tidak muram. Ada perjuangan, tetapi disampaikan dengan nada ringan dan penuh humor. Kehadiran detail-detail domestik membuat suasana terasa akrab dan dekat dengan pengalaman pembaca.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan amanat bahwa kehidupan keluarga dibangun dari perjuangan kecil yang sering dianggap remeh. Mencintai pagi hari berarti menerima rutinitas, berbagi peran, dan tetap bertahan meski kantuk, lelah, dan tekanan datang bersamaan.

Selain itu, puisi ini juga mengingatkan bahwa kebersamaan keluarga—betapapun riuh dan melelahkan—merupakan bagian penting dari makna hidup.

Puisi "Perjuangan Mencintai Pagi Hari" karya A. Muttaqin adalah puisi yang sederhana namun kuat dalam menggambarkan realitas keluarga modern. Dengan bahasa yang ringan, imaji yang akrab, dan humor yang halus, puisi ini mengajak pembaca melihat bahwa cinta, pengorbanan, dan makna hidup sering kali tersembunyi dalam rutinitas pagi yang tampak biasa.

A. Muttaqin
Puisi: Perjuangan Mencintai Pagi Hari
Karya: A. Muttaqin

Biodata A. Muttaqin:
  • A. Muttaqin lahir pada tanggal 11 Maret 1983 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.