Permintaan
Sejak kemarin telah kita kenal semua azab + duka
Habislah kini bisa ketakutan kita
terhadap darah + Maut, pusing + reruntuhan
Kalau hari ini hari penghabisan buat pekik-pekik + teriakan-teriakan,
hari penghabisan juga buat kegaduh-gelisahan kita
selama ini tambah menebalkan awan.
Arakan awan tidak bertambah panjang!
Laut keruh-kemerahan akan jadi biru-gemilang!
Matahari akan bersinar terang, akan bersinar terang!
Bangkitlah yang terbujur lelah
Ikhlaskan kerugian-kerugian yang sudah
Dan mari terus kita berjalan
Bangunkan lagi batu-tembok dan pagar-pagar berantakan
Awan berarak menggelapi udara,
Kita berarak meniupi awan-awan!
Sumber: Siasat (24 Februari 1952)
Analisis Puisi:
Puisi “Permintaan” tampil sebagai seruan kolektif yang lahir dari pengalaman penderitaan bersama. Dengan diksi yang tegas, berirama, dan bernuansa deklaratif, S.K. Insan Kamil menghadirkan puisi ini sebagai suara harapan setelah trauma, sekaligus ajakan untuk bangkit dari puing-puing ketakutan, kematian, dan kehancuran.
Tema
Tema utama puisi ini adalah harapan dan kebangkitan setelah penderitaan. Puisi ini juga mengusung tema keberanian, solidaritas, dan tekad kolektif untuk menata kembali kehidupan yang sempat porak-poranda.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok “kita” yang telah mengenal azab, duka, darah, maut, dan reruntuhan. Setelah melewati fase ketakutan dan kegelisahan, mereka sampai pada titik penentuan: hari ini menjadi hari penghabisan bagi pekik, teriakan, dan kegaduhan batin. Dari situ, muncul ajakan untuk bangkit, mengikhlaskan kerugian, dan bersama-sama membangun kembali tembok serta pagar yang berantakan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa penderitaan tidak boleh dibiarkan menjadi beban berkepanjangan yang menggelapkan masa depan. “Awan” yang menebal melambangkan ketakutan dan kesedihan kolektif, sementara laut yang semula “keruh-kemerahan” melambangkan luka dan darah. Keyakinan bahwa laut akan kembali “biru-gemilang” menandakan optimisme bahwa keadaan dapat dipulihkan melalui keberanian dan kebersamaan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi bergerak dari muram dan berat menuju optimistis dan membangkitkan semangat. Nada puisi terasa seperti orasi atau doa bersama yang penuh keyakinan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk tidak terus-menerus terperangkap dalam trauma dan ketakutan. Penyair menekankan pentingnya keikhlasan, keberanian untuk melangkah maju, serta kerja bersama dalam membangun kembali kehidupan setelah bencana atau penderitaan.
Puisi “Permintaan” adalah puisi yang mengandung daya dorong moral dan emosional. S.K. Insan Kamil merangkai bahasa puisi sebagai seruan bersama: setelah mengenal azab dan duka, manusia tidak boleh berhenti pada ketakutan, melainkan harus bangkit, mengikhlaskan, dan menata kembali kehidupan dengan harapan yang menyala.
Puisi: Permintaan
Karya: S.K. Insan Kamil
Biodata S.K. Insan Kamil:
- S.K. Insan kamil (nama lengkapnya adalah Sirullah Kaelani Insankamil) lahir pada tanggal 22 Februari 1928 di Jatiseeng Ciledug, Cirebon.
- S.K. Insan kamil meninggal dunia pada tanggal 3 Oktober 1990.
- S.K. Insan kamil pernah menggunakan beberapa nama samaran: Sirullah, Sirullah Kaelani, Sirullah I.K, dan S.K. Kamil.