Analisis Puisi:
Puisi "Persetujuan dengan Kaca" karya Sugiarta Sriwibawa menghadirkan perenungan singkat namun padat tentang hubungan manusia dengan bayangannya sendiri. Kaca, sebagai medium refleksi, tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga menjadi ruang dialog batin antara “aku” dan perubahan identitas yang terus berlangsung dari hari ke hari.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesadaran diri dan perubahan identitas. Kaca diposisikan sebagai saksi bisu atas perjalanan usia, pergantian peran, dan transformasi wajah—baik secara harfiah maupun batiniah.
Puisi ini bercerita tentang hubungan antara seseorang dan kaca yang setiap hari dihadapinya. Kaca digambarkan “menunggu”, sementara tokoh “aku” juga berada dalam posisi menunggu—menunggu perubahan, peristiwa, dan pergantian diri yang terus terjadi. Setiap kali bercermin, wajah yang sama namun tak sepenuhnya serupa muncul kembali, menandai bahwa waktu dan pengalaman telah bekerja.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa identitas manusia tidak pernah benar-benar tetap. “Mukaku terbuka / Sehari berapa / Kali berganti” menyiratkan bahwa wajah bukan sekadar rupa, melainkan simbol peran, ekspresi, dan keadaan batin yang berubah-ubah. Hubungan aku dengan kaca adalah semacam kesepakatan diam: selama aku masih ada dan bercermin, kaca hidup; ketika aku pergi, refleksi pun lenyap.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung hening dan kontemplatif. Kesederhanaan diksi dan larik pendek menciptakan kesan sunyi, seolah pembaca diajak masuk ke momen pribadi yang intim antara seseorang dan pantulan dirinya sendiri.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari perubahan diri sebagai bagian dari kehidupan. Manusia tumbuh, meninggalkan masa lalu (“Bukan bocah lagi”), dan terus berganti wajah dalam arti pengalaman dan kedewasaan. Kesadaran ini penting agar manusia tidak terjebak pada citra diri yang statis.
Puisi "Persetujuan dengan Kaca" adalah puisi singkat yang efektif menangkap kegelisahan sekaligus keheningan dalam proses mengenali diri sendiri. Sugiarta Sriwibawa menunjukkan bahwa bercermin bukan hanya soal melihat wajah, melainkan juga tentang menyadari bahwa setiap hari manusia terus berubah—hingga suatu saat, ketika pergi, pantulan itu pun ikut “mati”.