Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pertanyaan-Pertanyaan Mengganggu (Karya Beni Setia)

Puisi "Pertanyaan-Pertanyaan Mengganggu" bercerita tentang kegelisahan manusia modern yang terjebak dalam siklus kerja, pengetahuan, dan ambisi ...

Pertanyaan-Pertanyaan Mengganggu


pertanyaan-pertanyaan mengganggu siklus minat alam
manusia menggali sumur dengan buku
menjelmakan jurang-jurang peradaban
ke mana pergi mengungsi

malam kian gemas meremas-remas bintang. Cahaya
meronta: Mata menjelma. (Angin merintih)
betapa lama. Lama. Aku lupa cara minum anggur
menidurkan mabuk, menaklukkan amarah ludah

kerja kerja kerja kerja kerja kerja kerja. Kerja:
sumbu dinamit disulut, mekanis bom disentuh waktu
(jalan-jalan tiba pada jurang)
"ke mana pergi mengungsi?"

anjing meraung, melolong sepanjang malam
(kalong-kalong menyanyikan dahan randu)

1982

Sumber: Horison (November, 1982)

Catatan:
Puisi ini tidak memiliki judul.

Analisis Puisi:

Puisi "Pertanyaan-Pertanyaan Mengganggu" menghadirkan lanskap kegelisahan yang padat, gelap, dan penuh tekanan batin. Melalui diksi-diksi yang keras, terfragmentasi, dan metaforis, Beni Setia mengajak pembaca memasuki ruang refleksi tentang manusia, kerja, peradaban, serta kehancuran yang perlahan tapi pasti mengintai.

Puisi ini tidak menawarkan jawaban, melainkan serangkaian pertanyaan yang terus berulang dan menghantui, terutama satu pertanyaan kunci: “ke mana pergi mengungsi?”

Tema

Tema utama puisi ini adalah krisis peradaban manusia yang berkelindan dengan eksploitasi alam, keterasingan eksistensial, dan rutinitas kerja yang destruktif. Manusia digambarkan sebagai subjek yang kehilangan arah di tengah kemajuan yang justru menciptakan jurang baru, bukan jalan keluar.

Puisi ini bercerita tentang kegelisahan manusia modern yang terjebak dalam siklus kerja, pengetahuan, dan ambisi peradaban. Gambaran seperti “manusia menggali sumur dengan buku” dan “kerja kerja kerja” menunjukkan ironi: pengetahuan dan kerja—yang seharusnya membebaskan—malah menjadi alat penghancur dan keterasingan.

Pertanyaan tentang tempat mengungsi menandakan situasi darurat, seolah dunia yang dibangun manusia sendiri tak lagi layak ditinggali.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik tajam terhadap cara manusia membangun peradaban tanpa kebijaksanaan. Buku (simbol ilmu) tidak lagi mencerahkan, melainkan menggali jurang. Kerja tidak lagi bermakna, melainkan menjadi mesin mekanis yang memicu “dinamit” kehancuran.

Pertanyaan “ke mana pergi mengungsi?” menyiratkan bahwa tidak ada lagi ruang aman—baik secara fisik maupun batin—karena kerusakan telah menyeluruh, berasal dari sistem yang diciptakan manusia sendiri.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi cenderung muram, mencekam, dan penuh kecemasan. Malam digambarkan aktif dan agresif (“malam kian gemas meremas-remas bintang”), suara binatang meraung, angin merintih, dan cahaya meronta. Semua elemen ini membangun atmosfer dunia yang tidak tenang, seolah berada di ambang kehancuran.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah peringatan agar manusia merefleksikan ulang arah hidup, kerja, dan peradaban yang dibangun. Tanpa kesadaran etis dan empati terhadap alam serta sesama, kemajuan hanya akan melahirkan kehancuran dan kebingungan eksistensial.

Puisi ini seolah mengajak pembaca berhenti sejenak dari rutinitas mekanis dan bertanya: apakah yang kita sebut kemajuan benar-benar membawa keselamatan?

Puisi "Pertanyaan-Pertanyaan Mengganggu" bukan sekadar rangkaian citraan gelap, melainkan refleksi kritis atas kondisi manusia modern. Dengan bahasa yang padat dan metaforis, Beni Setia menyodorkan kegelisahan kolektif yang relevan dengan realitas sosial, ekologis, dan psikologis hari ini. Pertanyaan yang diulang dalam puisi ini pada akhirnya juga diarahkan kepada pembaca: ketika segalanya runtuh, ke mana kita akan pergi mengungsi?

Beni Setia
Puisi: Pertanyaan-Pertanyaan Mengganggu
Karya: Beni Setia

Profil Beni Setia:
  • Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.