Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pertemuan Kita (Karya Acep Zamzam Noor)

Puisi "Pertemuan Kita" karya Acep Zamzam Noor bercerita tentang seseorang yang menunggu pertemuan dengan sosok “kau” di tengah bentang alam yang luas.

Pertemuan Kita


Kaki langit nampak semakin renta di ujung penantianku ini
Tak kucatat senja yang turun sejak lama. Sebuah perahu
Bertolak dan ombak menyambut sebagai pengasuhnya

Kulihat samudera menghamparkan keluasannya yang utuh
Dan aku kehilangan semua jejakmu yang terlindas sunyi
Pertemuan kita tergantung pada angin sakal dan kabut pagi

2014

Sumber: Berguru kepada Rindu (2017)

Analisis Puisi:

Puisi "Pertemuan Kita" karya Acep Zamzam Noor menghadirkan lanskap alam yang luas dan sunyi sebagai medium perenungan batin. Melalui citraan kaki langit, samudera, angin, dan kabut, penyair membangun suasana kontemplatif tentang perjumpaan yang tidak sepenuhnya hadir, bahkan cenderung menggantung dan tak pasti. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang pertemuan secara fisik, tetapi juga tentang jarak batin, kehilangan, dan penantian yang panjang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penantian dan ketidakpastian dalam sebuah pertemuan. Penantian tersebut tidak digambarkan secara harfiah, melainkan melalui simbol-simbol alam yang menua, luas, dan sunyi. Ada pula tema kesepian eksistensial, ketika subjek lirik berhadapan dengan waktu dan jarak yang terus menjauhkan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menunggu pertemuan dengan sosok “kau” di tengah bentang alam yang luas. Penantian itu berlangsung lama, hingga senja tak lagi dicatat, dan jejak-jejak keberadaan “kau” hilang terlindas sunyi. Pertemuan yang diharapkan tidak hadir secara nyata, melainkan menggantung pada kondisi alam—angin sakal dan kabut pagi—yang mempertegas sifatnya yang rapuh dan tak menentu.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini mengarah pada gagasan bahwa tidak semua pertemuan dapat diwujudkan, meskipun telah lama dinanti. Pertemuan menjadi sesuatu yang berada di luar kendali manusia, tunduk pada waktu, keadaan, dan nasib. Hilangnya jejak “kau” dapat dimaknai sebagai kehilangan emosional, kenangan yang memudar, atau bahkan perpisahan yang tak pernah benar-benar disadari kapan terjadinya.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi cenderung sunyi, melankolis, dan reflektif. Kaki langit yang “semakin renta”, senja yang dibiarkan turun tanpa dicatat, serta samudera yang luas namun hening menciptakan nuansa kesendirian dan kelelahan batin. Suasana ini memperkuat kesan bahwa penantian telah berlangsung lama dan menguras perasaan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan manusia dalam mengatur pertemuan dan hubungan. Puisi ini seolah mengingatkan bahwa harapan tidak selalu berujung pada kehadiran, dan bahwa menerima ketidakpastian merupakan bagian dari perjalanan hidup dan perasaan.

Puisi "Pertemuan Kita" adalah puisi yang menempatkan perasaan manusia dalam bentang alam yang luas dan tak terjangkau. Acep Zamzam Noor menggunakan bahasa yang tenang dan simbolik untuk menggambarkan penantian, kehilangan, dan pertemuan yang mungkin tak pernah sepenuhnya terjadi, namun tetap hidup dalam kesadaran batin.

Acep Zamzam Noor
Puisi: Pertemuan Kita
Karya: Acep Zamzam Noor

Biodata Acep Zamzam Noor:
  • Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
  • Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
© Sepenuhnya. All rights reserved.