Pondok Penyair
Rumah ini, panser-panser
Dan pembunuhan menjelang pemilu
Kepada siapa akan kuceritakan
Mesin ketik,
Telah begitu lama aku
Tak bicara denganmu
Perahu-perahu kulepas
Tidak satupun kembali
Laut berubah langit sampah
Naga lapar, buaya raksasa
atau kerongkong apa saja
Yang tak pernah kenyang
Apa kabar jendelaku
Lama kita tak bicara
Rumahku, lantaiku,
Biarkan meriam-meriam itu
Merasakan senang sendiri
Ketika kita tak berdaya
Mereka mengadukan
Kematian kawan-kawan kepadaku
Mereka mengusung keranda
Dan menjerit-jerit
Di depan pasar
Yang dikelilingi panser itu
Rumahku, jendelaku,
Mesin ketikku, temanilah aku
Kita sama-sama terjepit
Bagai perahu pada karang,
Pohon pada musim
Robot membabat negeriku
Sumber: Horison (September, 1983)
Analisis Puisi:
Puisi “Pondok Penyair” karya Eka Budianta menghadirkan suara lirih seorang penyair yang terjebak di tengah situasi sosial-politik yang keras dan menekan. Rumah—yang seharusnya menjadi ruang aman—justru berubah menjadi tempat terkurung, dikepung kekerasan, senjata, dan ketakutan. Dalam puisi ini, penyair berbicara kepada benda-benda mati seolah mereka adalah sahabat, satu-satunya tempat mengadu di tengah dunia yang tak lagi ramah.
Puisi ini memperlihatkan bagaimana kata dan puisi berusaha bertahan di bawah bayang-bayang kekuasaan dan kekerasan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterjepitan penyair dan masyarakat sipil di tengah represi kekuasaan dan kekerasan politik. Tema lain yang kuat adalah keterasingan, ketidakberdayaan, serta peran puisi dan bahasa dalam situasi sosial yang mencekam.
Puisi ini juga memuat tema kritik sosial, terutama terhadap militerisme, kekerasan menjelang pemilu, dan kehancuran ruang hidup manusia.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di dalam rumahnya, dikepung oleh panser, meriam, dan pembunuhan yang terjadi menjelang pemilu. Ia tidak tahu kepada siapa harus bercerita, sehingga memilih berbicara kepada mesin ketik, jendela, dan rumahnya sendiri.
Di luar rumah, kekerasan terus berlangsung: perahu-perahu tak pernah kembali, laut berubah menjadi “langit sampah”, pasar dipenuhi jeritan dan keranda kematian. Dalam kondisi ini, penyair hanya bisa meminta benda-benda di sekitarnya untuk menemaninya menghadapi keterjepitan bersama.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kekuasaan yang menggunakan kekerasan sebagai alat politik, sementara rakyat dan penyair dibiarkan tak berdaya. Rumah dan benda-benda mati yang diajak bicara menyiratkan terputusnya komunikasi manusia akibat rasa takut dan represi.
Puisi ini juga menyiratkan kegelisahan penyair atas fungsi kata-kata: mesin ketik yang lama tak diajak bicara menandakan kebuntuan ekspresi di tengah ancaman senjata dan kekuasaan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa tegang, muram, dan tercekam. Ketegangan dibangun melalui citra panser, meriam, pembunuhan, dan keranda. Rasa muram muncul dari kesadaran bahwa kekerasan menjadi peristiwa sehari-hari, sementara tercekam terasa dalam keterpaksaan untuk diam dan bertahan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah seruan moral agar kekerasan dan penindasan tidak dinormalisasi. Puisi ini mengingatkan pentingnya keberanian bersuara, meski suara itu lahir dari ruang sempit dan terjepit.
Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa seni dan puisi tetap memiliki peran sebagai saksi sejarah dan alat perlawanan batin, meskipun tidak selalu mampu menghentikan kekerasan secara langsung.
Puisi “Pondok Penyair” karya Eka Budianta adalah kesaksian getir tentang kehidupan penyair di tengah kekerasan politik. Dengan bahasa yang lugas dan penuh citraan keras, puisi ini tidak hanya merekam ketakutan dan keterjepitan, tetapi juga menegaskan bahwa puisi tetap menjadi ruang bertahan—tempat penyair menyimpan nurani, kesaksian, dan harapan akan kemanusiaan di tengah situasi yang menindas.
Karya: Eka Budianta
Biodata Eka Budianta:
- Christophorus Apolinaris Eka Budianta Martoredjo.
- Eka Budianta lahir pada tanggal 1 Februari 1956 di Ngimbang, Jawa Timur.
