Potongan Perjalanan, di Perlintasan Kereta
Kami akan tetap menunggu — melihat
potongan perjalanan, di perlintasan kereta.
Lokomotif dan gerbong-gerbong:
sejarah panjang, yang mengangkut
cerita dan peristiwa.
Jendela kaca dengan bayangan penumpang.
Yang ngantuk, ngelamun, ngopi, dan bermain gawai.
Tak semua dapat dilihat, begitu cepat
hingga tak pernah tahu bagaimana akhirnya.
Detik-detik teramat sunyi, sekalipun riuh
roda berjalan di atas rel.
Dan ketika kereta berlalu, portal dibuka.
Semua bergerak, seperti jalan kehidupan itu ada.
Indramayu, 2021
Analisis Puisi:
Puisi "Potongan Perjalanan, di Perlintasan Kereta" karya Faris Al Faisal memotret momen singkat yang kerap dianggap biasa: menunggu kereta melintas. Namun, dari peristiwa sederhana itu, penyair menarik refleksi yang lebih luas tentang perjalanan hidup, waktu, dan keterbatasan manusia dalam memahami keseluruhan kisah yang sedang berlangsung.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan waktu. Kereta dan perlintasan menjadi simbol pergerakan kehidupan yang terus berjalan, sementara manusia sering kali hanya menjadi penunggu yang menyaksikan sepintas lalu.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok orang yang berhenti dan menunggu di perlintasan kereta. Mereka menyaksikan lokomotif dan gerbong-gerbong melintas cepat, membawa sejarah panjang, cerita, dan peristiwa. Dari balik jendela kaca, terlihat potongan kehidupan para penumpang—mengantuk, melamun, ngopi, bermain gawai—yang hanya tampak sesaat sebelum kembali menghilang.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya mengetahui perjalanan hidup orang lain, bahkan perjalanan hidupnya sendiri. Seperti melihat kereta yang melintas, kita hanya menangkap fragmen-fragmen kecil dari kisah besar. Awal dan akhir sering kali luput dari pandangan, karena hidup bergerak terlalu cepat untuk dipahami secara utuh.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa hening dan reflektif. Meskipun ada bunyi riuh roda kereta di atas rel, penyair menegaskan adanya “detik-detik teramat sunyi”, menandakan keheningan batin di tengah kebisingan dunia.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan pandangan manusia terhadap kehidupan. Kesabaran menunggu, kesediaan mengamati, dan penerimaan bahwa hidup terus bergerak meski kita berhenti sejenak, menjadi pelajaran yang halus namun mendalam.
Puisi "Potongan Perjalanan, di Perlintasan Kereta" adalah puisi reflektif yang sederhana namun sarat makna. Faris Al Faisal berhasil mengolah peristiwa sehari-hari menjadi perenungan tentang hidup: bahwa setelah jeda dan penantian, portal akan terbuka, dan setiap orang kembali bergerak, melanjutkan jalannya masing-masing.
Karya: Faris Al Faisal
Biodata Faris Al Faisal:
Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021).
Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika dan mendapat Piala bergilir Anugerah RD. Dewi Sartika, Bandung (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).
